“Gue denger-denger, udah hampir seminggu Arisha koma di rumah sakit. Harus banget ya koma dulu? Kenapa gak mati aja?”
Gelak tawa terdengar setelahnya. “Gila, lo jahat juga, ya?”
“Ya ... kayaknya itu karma sih, karena udah berani melawan seorang Saras Larasati.”
Saras sontak terbangun dari duduknya. Dengan tatapan tajam ia menatap Celline yang dengan lancangnya menyiram wajahnya dengan air.
“Lo! Nyari masalah lo hah!” bentak Saras.
“Lo yang nyari masalah. Di saat Arisha koma lo justru gak berubah. Sebenernya hati lo terbuat dari apa?” tanya Celline.
“Harusnya lo sadar kalo kita itu sama, Cel. Kenapa lo berpihak sama orang kelas rendahan?”
“Cel.” Amara menahan Celline ketika gadis itu ingin membalas namun Celline kembali berbicara.
“Kelas rendahan? Lo lagi ngomongin diri sendiri?” Celline menaikkan sebelah alisnya, hal itu membuat Saras naik pitam.
“Sekarang gue tau siapa yang pantas dijadikan sahabat, dan siapa yang pantas dianggap sampah. Lo, Saras Larasati. Lo bahkan lebih buruk dari sampah, jadi gue gak salah kan, kalau memperlakukan lo seperti kotoran?”
*****
Darka membuka pintu kamarnya tanpa bersemangat, keadaannya sangat buruk. Setelah berhari-hari berada di rumah sakit hanya untuk menemani Arisha dan menunggu gadis itu bangun, dengan paksaan Rey, Darka kembali ke rumahnya. Selama itu pikirannya hanya tertuju pada Arisha, selalu berada di dekat gadis itu, dan berharap Arisha akan membuka matanya.
Pandangannya teralihkan ketika Liana memasuki kamarnya dengan raut khawatir.
“Darka, kamu ke mana aja? Mama udah tanya teman-teman kamu tapi gak ada yang jawab satu pun dari mereka. Sebenarnya ada apa?” tanya Liana mendekati Darka yang duduk di kursi yang dekat dengan meja belajarnya. Putranya terlihat sangat kacau.
“Ma, A-Arisha—”
“Arisha? Maksud kamu pembunuh itu—”
“Ma!” sentak Darka membuat Liana memandangnya. “I-itu semua gak bener ... a-aku yang salah, Ma!”
“Maksud kamu?” tanya Liana.
“Arisha gak salah, dan Seyna masih hidup walaupun aku gak tau keberadaannya,” ujar Darka kini menatap Liana dengan sendu. “Aku yang salah, Ma. Gara-gara aku A-Arisha—d-dia kecelakaan, dan bahkan koma. A-aku harus a-apa, Ma?”
Liana cukup terkejut dengan pengakuan putranya. Ia bahkan merasa bersalah dengan bagaimana dengan sengaja menampar Arisha dan membatalkan perjodohan mereka, dan saat ini putranya benar-benar dalam keadaan hancur.
“Kamu harus minta maaf, terus minta maaf sampai Arisha memaafkan kamu, ya? Mama akan mencoba semampu Mama, jangan menyerah.” Liana mengusap punggung Darka sebelum beranjak dari duduknya. “Tenangkan diri kamu, Mama tunggu di bawah.”
Pintu tertutup bersamaan dengan Darka yang mengepalkan kedua tangannya. Hingga tatapannya beralih pada sebuah kotak musik bola salju, lebih tepatnya, tanda persahabatan mereka. Darka mengambilnya, menyalakan musik itu agar berputar seraya berpikir. Arisha mungkin akan membuka matanya ketika mendengarnya. Ya, semoga.
*****
Hari ini, sudah hampir lima belas hari. Arisha masih belum juga membuka matanya. Entah apa yang terjadi di alam bawah sadarnya sehingga Arisha lebih memilih tertidur lama daripada harus membuka matanya. Seperti gelas kaca yang mudah pecah, seperti itulah Arisha. Namun saat ini, kondisinya bagaikan pecahan kaca yang sudah hancur. Rasa sakit yang gadis itu alami begitu kentara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Fiksi Remaja"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)