P A R T 5 5

30.2K 2K 412
                                        

Rey masih tidak percaya Arisha menangis hanya untuk seorang Darka. Tidak, bukan Darka. Arisha tidak ragu meneteskan air mata untuk seseorang yang pernah menyakitinya. Mengapa? Mengapa Arisha menangis, dan mengapa hatinya tidak dapat menerima itu?

Setelah sadar dari lamunannya, Rey menyentuh kedua bahu Arisha agar gadis itu kembali berdiri. Tanpa mengatakan apapun Rey membawa Arisha pergi begitu saja, walaupun begitu Arisha sama sekali tidak berontak.

Rey melepaskan genggamannya ketika mereka berada di taman belakang sekolahnya. Menatap Arisha dengan tatapan sendu.

“Kenapa? Kenapa, Sha?” tanya Rey ambigu.

Arisha mendongak, membalas tatapan Rey walaupun kedua matanya masih terlihat merah. “A-apa?”

“Kenapa lo nangis? Kenapa lo nangisin orang yang jelas-jelas pernah nyakitin lo? Kenapa lo nangisin orang yang tanpa ragu panggil lo jalang, dan gak pernah hargain lo sebagai perempuan?” cecar Rey ada benarnya.

Gadis itu bungkam, Arisha tidak lagi menatap Rey saat ia menyadari Rey sedang marah kepadanya.

“Jawab gue, Sha,” ujar Rey namun Arisha tetap tidak bersuara hingga Rey kembali berbicara.

“Arisha, gue gak marah lo nangisin cowok lain. Selama ini lo nangis, apa pernah gue marah? Tapi saat ini, gue gak bisa diam aja ngeliat lo nangisin cowok yang gak pantes sekadar dapatin air mata lo.”

“Bahkan di saat seperti ini, lo masih bisa nangisin dia? Lo masih bisa nangisin orang yang jelas-jelas mau bunuh lo dengan tangannya sendiri?”

Kedua tangan Rey terkepal membayangkan bagaimana Darka yang mencekik Arisha saat itu.

“Gue hampir gila karena sikap kasar Darka ke lo, Sha. Gue hampir kehabisan cara cuma buat hentiin dia nyakitin lo,” lanjut Rey menghela napas pelan ketika menyadari dirinya mulai dikuasai amarah.

“R-Rey.” Arisha kembali menatap Rey. Saat itu juga Arisha dapat melihat kedua mata Rey yang terlihat merah.

Tunggu, mungkinkah Rey ... menangis? Jika iya, itu artinya Rey memiliki perasaan yang tulus kepadanya. Benarkah itu?

“Gue gak bisa, Sha. Gue gak bisa jaga batasan pertemanan di antara kita,” ujar Rey menatapnya lekat.

Ya, kejadian beberapa saat lalu membuat Rey menyadari perasaannya. Rasa pedulinya, rasa sayangnya, semuanya bertambah berkali-kali lipat tanpa seizinnya. Melihat Arisha menangisi laki-laki lain ... tidak, Rey tidak dapat membiarkannya. Terlebih laki-laki itu adalah Darka. Laki-laki yang membuat luka di dalam hati Arisha.

“Arisha, seorang laki-laki yang berani angkat tangannya ke perempuan gak akan pernah bisa berubah. Sha, jangan jatuh ke dalam lubang yang sama. Kalau pun iya, biarin gue yang genggam tangan lo,” tutur Rey.

Arisha masih terkejut dengan penuturan Rey yang tiba-tiba. Arisha menyadari satu hal, mungkin ini lah yang selama ini hal penting yang ingin dibicarakan Rey kepadanya.

“Rey, gue ... gue gak bisa liat Darka terluka,” cekat Arisha bersamaan dengan air mata yang kembali terjatuh.

“Kalo gitu jawab pertanyaan gue. Apa selama ini Darka nangis saat dia buat lo terluka? Apa selama ini Darka peduli saat lo kesakitan? Jawab gue,” tegas Rey.

Arisha kembali diam. Semua perkataan Rey adalah benar. Lantas, mengapa dengan dirinya?

“Arisha, lo harus kuat. Lo harus buat dinding sekuat baja, dan jangan kasih kesempatan orang lain nyakitin lo. Ikuti kata gue, kalo lo gak mau ngerasain rasa sakit yang lebih dalam lagi.”

Rey melangkah mendekati Arisha hingga jarak mereka cukup dekat, keduanya saling bertatapan untuk sesaat.

“Gue gak bisa, Sha. Gue gak bisa liat lo terluka lagi, gue gak mau hidup lo dipenuhi rasa sakit. Apa gue salah?” lirih Rey. Tangannya terulur mengusap pipi gadis itu seraya menghapus air matanya.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang