P A R T 0 5

38.9K 3K 22
                                        

Prang!

Saras memejamkan matanya menahan amarah karena seorang gadis menabraknya hingga membuat makanan yang ia bawa jatuh berserakan di lantai. Dengan tatapan takut gadis yang merupakan juniornya memandang Saras penuh penyesalan.

"K-Kak maaf, g-gue gak sengaja."

"Gak sengaja, lo bilang?" tanya Saras menaikkan sebelah alisnya. Amara, dan Celline hanya memandang satu sama lain tanpa berniat menghentikannya.

"Maaf banget, Kak. Gue bener-bener gak sengaja. Ehm, biar gue pesenin lagi ya?" Saras menahan pergelangan gadis itu untuk mencegahnya pergi.

"Bersihin."

"A-apa, Kak?"

"Bersihin makanan itu," kata Saras menunjuk makanan yang berada di lantai melalui isyarat matanya. "Cepet, tunggu apa lagi?"

Gadis itu terdiam sejenak, tatapannya menatap sekeliling karena ia sudah menjadi pusat perhatian. Dengan terpaksa ia membersihkan pecahan piring beserta makanan itu ke nampan. Pergerakannya terhenti ketika merasakan seseorang menyiram air di kepalanya dengan sengaja. Saras tersenyum miring saat gadis itu menatapnya.

Ia kembali meletakkan gelas di atas meja, dan tanpa aba-aba Saras membungkuk bersamaan dengan tangannya yang menarik kuat rambut gadis itu. Tidak hanya itu, dengan sengaja Saras menginjak tangannya yang menggenggam pecahan tersebut membuat darah mengalir secara perlahan.

"Kalo lo ngelakuin ini lagi, gue bakal kasih hadiah yang lebih besar. Jadi, lo harus hati-hati mulai sekarang," bisik Saras.

"Saras!"

Saras segera berdiri tegak, tersenyum manis menatap Arisha yang berjalan mendekat ke arahnya. Arisha masih tidak percaya dengan sikap kasarnya. Tatapannya beralih pada gadis yang menundukkan kepalanya sembari membersihkan pecahan piring.

Arisha membungkuk mencoba membantunya. "Gak usah dibersihin. Biar-"

"Arisha?" Gadis itu tersenyum memandang Arisha.

"S-Seyna," gumamnya karena ini pertama kalinya mereka bertemu setelah sekian lamanya. Kini mereka berdiri dengan pandangan yang berbeda satu sama lain.

"Arisha lo-Darka?" Seyna mengerutkan dahi karena Darka tiba-tiba menarik lengannya agar menjauh dari Arisha. Niatnya untuk berpelukan dengan Arisha harus ia urungkan karena laki-laki itu mencengkeram lengannya dengan cukup kuat.

"Menjauh dari Seyna," tegas Darka menatap nyalang Arisha.

"Darka lo apa-apaan sih? Gue mau-" Darka segera menahannya kembali saat Seyna ingin menghampiri Arisha.

"Darka!" Seyna mencoba melepaskan cengkeramannya dengan tangannya yang terluka. Rahang laki-laki itu mengeras ketika melihat darah ditelapak Seyna.

"Darka, lepasin!" pekik Seyna karena Darka menariknya keluar dari kantin. Seyna menoleh sejenak ke arah Arisha yang menatap kepergiannya sebelum kembali mengimbangi langkah Darka.

Darka sama sekali tidak menggubris penolakan Seyna. Ia masih menarik Seyna walaupun gadis itu bersikeras menolaknya. Saat melihat Seyna terluka, amarahnya mendidih.

Lagi, Darka lagi-lagi gagal melindungi Seyna.

Saat ini mereka sudah berada di UKS. Membawa Seyna agar duduk di brankar, Darka menoleh ke arah gadis yang merupakan petugas PMR.

"Obatin dia," kata Darka melangkah pergi begitu saja.

"I-iya, Kak."

"Darka, lo mau ke mana?"

Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Seyna dan tetap berjalan keluar. Karena saat ini, masih ada urusan yang harus ia selesaikan.

"Kenapa lo ngelakuin itu? Kalian juga, Celline, Amara. Kenapa kalian diam aja?" tanya Arisha memandang ketiga temannya.

"Ya karna menurut gue gak ada yang salah," jawab Celline melirik Saras dengan ragu.

"Lagi pula, itu bukan salah Saras kok," lanjut Amara.

Arisha menghela napas pelan, mereka bahkan tidak menyadari kesalahannya. Tunggu, apakah mereka sering melakukan itu?

"Jangan bilang lo sering-"

"Kenapa? Menurut lo itu salah? Itu salah mereka yang gak pernah hati-hati, Arisha. Gue cuma ngingetin kesalahan mereka aja kok," ujar Saras.

"Tapi gak gitu caranya. Lo gak bisa bersikap kayak gitu, Saras."

Saras membuang pandangan ke arah lain sebelum kembali menatap Arisha, kini ia mengikis jarak di antara mereka. "Dunia itu keras, Arisha. Kita cuma punya dua pilihan. Dibully, atau membully. Lo juga pasti tau di mana-mana hal kayak gini itu wajar. Jadi, gak usah memperbesar masalah."

"Wajar?" tanya Arisha.

"Dan kalo lo masih mau temenan sama kita, lo harus sejajar, Arisha. Jadi jangan buat kesalahan yang berakibat lo dibuang seperti sampah. Lo paham, kan, maksud gue?" kata Celline menaikkan sebelah alisnya.

"Tapi-"

"Ikut gue," ucap Darka yang tiba-tiba menarik pergi Arisha ke luar kantin.

Raut wajah Saras berubah ceria saat melihat seorang laki-laki yang melambaikan tangan ke arahnya, Saras segera berjalan menghampirinya. Laki-laki itu adalah Gema. Mereka sudah menjalani hubungan dua tahun lamanya. Selama itu pula, Saras seperti ratu bagi Gema.

"Kamu kenapa hm?" tanya Gema merapikan helai rambut yang menutupi wajah kekasihnya.

Saras menggeleng. "Bad mood aja. Ehm, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"

"Tanya apa?"

"Sejak kapan Darka sama Arisha saling kenal?"

*****

Arisha menyentak tangan Darka yang mencekalnya. Mereka berada di taman belakang sekolah. Kini keduanya memberikan tatapan tajam.

"Lo apa-apaan sih?" tanya Arisha.

"Lo yang apa-apaan! Mau sampai kapan lo buat Seyna terluka hah?!" ketus Darka.

Arisha tertawa miris. "Kapan gue buat Seyna terluka? Lo lupa, kalo Seyna juga sahabat gue? Harus berapa kali gue bilang, Darka!"

"Oh, ya? Kalo bukan lo, siapa penyebab Seyna kecelakaan? Lo harusnya bersyukur karna Seyna gak pernah nuntut lo. Sebenernya ke mana akal sehat lo?"

"Udah gue bilang, itu kecelakaan!"

Darka mengangguk. "Iya, kecelakaan. Kecelakaan yang udah lo rencanain sejak dulu. Cuma gue aja yang bego karna gak bisa liat kebenaran itu di balik wajah polos lo."

Arisha seperti tidak lagi memiliki tenaga untuk berdiri. Kedua matanya berkaca-kaca. Gadis itu membuang pandangan agar air mata tidak menetes. Usahanya sia-sia belaka. Arisha mengerti sikap kasar Darka bermula karena kemarahan pada dirinya. Namun, tidakkah Darka dapat melihat sedikit kebenaran?

"Terus apa mau lo?" tanya Arisha.

"Menjauh dari Seyna," kata Darka dengan penuh penekanan. "Jauhin dia. Karna gue gak bisa memungkiri fakta kalo Seyna selalu dalam bahaya saat di dekat lo."

"Lo pikir dengan gue menjauh, Seyna bakal selalu aman?"

Kedua tangan Darka terkepal kuat mendengarnya. "Jaga omongan lo."

"Lo pikir, lo cukup kuat buat ngelindungi Seyna? Gue yakin lo gak lupa kalo ada orang lain yang sengaja hancurin persahabatan kita lewat kecelakaan itu. Berhenti pura-pura bodoh, Darka. Kita bahkan gak tau siapa yang dia incar. Entah Seyna, lo, atau bahkan kita bertiga," terang Arisha mampu membuat Darka tidak berkutik.




TBC
Jangan lupa voment dan share cerita ini ke teman-teman kalian yaaa❤❤❤

Jangan lupa follow akun ig dan wp Author❤

See you next chapter^^

Publish : Agustus, 2021
Remake : Januari, 2022

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang