P A R T 4 1

31.3K 2.3K 223
                                        

Arisha mengambil roti lalu mengoleskan selai di atas rotinya, gadis itu sudah lengkap dengan seragam sekolahnya, ia hanya sendirian, sepertinya Remon masih berada di alam mimpinya. Arisha mengunyah pelan roti tersebut namun pergerakannya terhenti ketika mendengar suara yang memanggil namanya terus-menerus.

“Arisha!”

“Arisha, di mana kamu? Mama mau bicara!”

Gadis itu menghela napas, meletakkan kembali roti di atas piring dan hanya melirik ibunya ketika sudah berada di dekatnya.

“Arisha, Mama sudah ingatkan kamu untuk makan malam dengan keluarga Darka. Mama juga sudah mengirimkan kamu dress, kenapa kamu tidak datang? Kamu mau membuat malu Mama?!”

Bukannya menjawab Arisha justru meneguk susu dengan tenang, membuat Yunita kembali berbicara.

“Mama sedang bicara, Arisha,” tegasnya tidak mengalihkan dari putrinya.

Arisha meletakkan gelas yang ia genggam dengan sangat kasar hingga menimbulkan suara, beralih menatap ibunya dengan tatapan datar.

“Selama ini Mama gak pernah dengerin aku, jadi seharusnya aku juga gak perlu dengerin Mama kan?”

“Apa maksud kamu?” tanya Yunita melangkah menyusul Arisha karena gadis itu yang pergi begitu saja meninggalkannya. Yunita menarik Arisha agar kembali berhadapan. “Apa maksud kamu bicara seperti itu? Kamu lupa siapa Mama? Mama yang melahirkan kamu, Arisha!”

“Terus? Mama nyesel udah ngelahirin aku? Itu sebabnya Mama selalu bersikap seenaknya tanpa minta persetujuan dari aku?”

Suara tamparan menggema di ruangan itu, bersamaan dengan Remon yang menghentikan langkahnya di tangga namun Arisha maupun ibunya tidak menyadari hal itu.

Yunita menggeleng tidak percaya. “Kamu sudah semakin kurang ajar ya? Apa susahnya kamu turuti permintaan Mama tanpa membantah, Arisha!”

“Dan apa susahnya Mama turuti permintaan aku!” teriak Arisha, air matanya perlahan menetes membasahi kedua pipinya. Arisha melangkah lebih dekat ke arahnya.

“Apa susahnya, Ma? Selama ini, aku gak pernah nuntut ke Mama atau Papa walaupun kalian selalu sibuk kerja. Selama ini aku gak pernah minta waktu kalian! Itu karna aku tau, kalian kerja keras agar aku gak pernah kekurangan.”

Arisha menganggguk kuat. “Ya, aku gak pernah merasa kekurangan. Tapi ada satu kekurangan yang Mama sama Papa gak tau. Mama tau apa itu?”

Yunita terdiam dan menunggu perkataan Arisha selanjutnya.

“Kasih sayang Mama dan Papa,” lirih Arisha tersenyum masam.

“Arisha—”

“Harus berapa kali aku mohon sama Mama untuk batalin perjodohan aku, Ma? Enggak, bukan karna perjodohannya, tapi karna Mama yang menjodohkan aku sama Darka. Apa Mama gak pernah punya niat untuk bertanya tentang keinginan aku walaupun sekali?” tanya Arisha.

Remon yang mendengar hal itu, terdiam kaku. Ia cukup terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Tanpa Remon sadari, secara perlahan ia mulai mengetahui alasan dibalik sikap dingin Arisha.

“Lagi-lagi kamu membahas itu. Darka, Darka, Darka, apa yang salah dengan Darka! Dia yang terbaik untuk kamu, Arisha! Dia yang bisa jaga kamu, dia juga sahabat kamu yang sudah kamu kenal. Bukan Darka yang menjadi permasalahannya, tapi kamu, Arisha!”

“Ma, tapi—” Perkataan Arisha terhenti karena Yunita yang pergi begitu saja, hal itu membuat Arisha kembali menyusulnya.

“Ma, dengerin aku dulu. Darka—”

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang