“Darka! Buka pintunya, dengerin penjelasan gue dulu!” teriak Seyna yang masih berada di luar.
“Hey, ada apa ini?” tanya Bu Rima yang menghampiri Seyna sedang berada di luar UKS.
“E-enggak, Bu. I-itu cuma—”
“Jawab saya, ada apa?!”
“Arisha sama Darka di dalam, Bu.”
Guru itu terkejut mendengarnya. “Di dalam? Berduaan?”
“Darka, saya minta buka pintunya,” ucap Bu Rima. Di sisi lain Seyna merasa gelisah karna Darka tidak juga membuka pintunya.
Darka sama sekali tidak mempedulikan suara yang mengganggunya. Dengan rahang yang mengeras, tatapan laki-laki itu semakin tajam memandang Arisha yang juga sedang menatapnya.
“Apa? Kenapa diem? Mana kata-kata lo yang kasar itu—awshhhh,” ringis Arisha saat Darka mencengkeram lengannya dengan sangat kuat.
“Belajar dari mana lo memutarbalikkan fakta kayak gini? Kali ini lo udah melangkah terlalu jauh, Arisha,” bisik Darka.
“Lo duluan yang mulai,” balas Arisha berusaha melepaskan tangan Darka yang mencekalnya.
“Darka, buka pintunya!”
“Bu, biar saya dobrak pintunya.”
Arisha menoleh ke arah pintu, namun suara Darka kembali membuat Arisha menatapnya.
“Gue gak akan tinggal diam kalo lo masih berani deketin Seyna, inget ucapan gue baik-baik,” desis Darka.
Brak!
Pintu terbuka hingga memperlihatkan Seyna, Bu Rima, dan beberapa siswa. Keheningan terpecahkan ketika Bu Rima bersuara.
“Kalian berdua, ikut saya ke ruang BK.”
*****
“Apa yang kalian lakukan di UKS? Berduaan, pintu dikunci, kalian pikir itu pantas? Kalian mau mencoba membuat malu sekolah ini?”
Arisha menundukkan kepalanya seraya memainkan jemarinya, lain halnya dengan Darka yang masih dengan raut wajah tenang. Bu Rima menghela napas karena di antara mereka tidak ada yang berniat menjawab.
“Siapa yang mau menjelaskan? Atau saya harus panggil orang tua kalian agar kalian berbicara?”
Arisha sontak mengangkat kepala dan segera bersuara. “D-Darka cuma ngobatin saya, Bu. Tadi saya jatuh jadi kaki saya luka.”
“Lalu? Apa pintu harus dikunci?” tanya Bu Rima.
“I-itu ... kita terkunci di dalam, Bu. Pintunya macet, gak bisa dibuka,” kata Arisha menggigit bibir bawahnya, semoga guru itu tidak menyadari jika dirinya sedang berbohong.
Bu Rima memandang Arisha dengan tatapan menyelidik lalu beralih menatap Darka. “Benar seperti itu, Darka?”
Darka tidak memberi respon apapun, ia hanya diam tidak bersuara.
“Darka, jawab pertanyaan saya. Benar seperti itu?”
“Ya,” balas Darka singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Novela Juvenil"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)