Pintu terbuka hingga memperlihatkan seseorang terbaring di brankar. Shit! Darka tidak tahan menyaksikan sandiwara ini. Tatapan tajam, kedua tangan terkepal kuat, Darka seolah menulikan pendengeran ketika seseorang memanggilnya.
“Bangun lo!” Darka memberikan tajam pada Remon yang tidak sadarkan diri. Beruntung saat ini tengah malam sehingga penghuni kamar lain tidak dapat mendengarnya.
Saka dan Gema yang melihat itu, saling memandang satu sama lain. Tidak mengerti mengapa Darka tiba-tiba datang lalu meminta seseorang yang tidak sadarkan untuk kembali bangun.
“Gue kira lo gak bakal ke sini—”
“Bangun, anjing!” tekan Darka tanpa menggubris perkataan Saka.
Saka meneguk salivanya kasar, ia merasakan aura kemarahan dari Darka. Terlihat dari kedua tangan yang terkepal dengan wajah yang terlihat merah, tatapannya juga terlihat nyalang seolah akan melahap seseorang saat ini juga.
“Gue tau lo cuma pura-pura. Bangun sekarang atau lo gak akan pernah bangun lagi,” desis Darka.
Gema mendekat. “Ka, lo—”
Saka dan Gema membulatkan matanya karna detik berikutnya Darka menendang brankar Remon hingga tergeser mengenai dinding cukup kasar. Saka segera menarik Darka namun Darka menyentaknya.
“Gimana, nih, kalo gue nahan Darka bisa-bisa gue yang mati,” bisik Gema pada Saka, dalam hati ia tidak tenang menyaksikan pertengkaran ini.
“Gue juga gak bisa mati gitu aja. Kasian ciwi-ciwi gemoy gue yang berharap jadi pacar gue kalo gak kesampean,” balas Saka yang juga berbisik.
Gema mendelik menatap Saka yang tidak peduli situasi. “Mending mati aja lo sana.”
Darka mendekati brankar, menarik Remon hingga membuatnya terduduk. “Bangun!”
Tubuh Remon terjatuh di lantai karna Darka yang melemparnya sangat kasar. Darka tersenyum miring melihatnya, kali ini Darka menginjak perut Remon tepat di mana ia memukulnya, dan benar saja tidak lama terdengar tawa yang mampu memancing amarahnya.
“Ah, Darka ... biarin temen gue seneng-seneng dulu sama jalang lo,” ujar Remon tertawa menahan rintihan sembari menyentuh perutnya yang terasa sakit ketika Darka menekannya dengan kakinya.
“Kenapa gak bilang kalo lo mau main-main sama gue? Kalo gue tau, gue bisa kasih yang lebih dari ini,” kata Darka yang semakin menekannya.
“Gue cuma mau main sebentar sama jalang lo. Kenapa lo marah hah?!”
Rahang Darka mengeras mendengar hal itu. “Buat pilihan sebelum gue lakuin apa yang gue mau. Markas lo hancur, atau anak buah lo yang mati? Gue rasa lo gak lupa seberapa berharganya mereka buat lo kan?”
Raut wajah Remon terlihat merah padam, perkataan Darka mampu menggoyahkan tujuannya. “Lo—”
“Suruh anak buah lo, anter cewek yang dia bawa ke rumahnya dengan selamat. Kalo gue tau cewek itu terluka sedikit pun, gue bakal hancurin semua hal yang paling berharga buat lo. Waktu lo, tiga menit dari sekarang.”
*****
Darka bersidekap dada dengan bersandar pada pagar, memperhatikan seorang gadis yang turun dari motor lalu berjalan mendekatinya setelah motor itu pergi meninggalkan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Fiksi Remaja"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)