P A R T 3 8

34.1K 2.3K 241
                                        

Suara bel membuat Arisha melangkahkan kakinya ke arah pintu dan segera membukanya. Setelah menyadari siapa yang menemuinya, gadis itu segera membuang pandangan. Dengan sangat terpaksa, Arisha harus menyetujui undangan makan malam keluarga Darka di rumahnya. Namun di sisi lain, percayalah, Arisha masih memikirkan cara bagaimana menolak undangan itu. Setelah terdiam sesaat Darka kini memulai pembicaraan.

"Gue ke sini—"

Arisha menoleh ke arah Darka dan memotong pembicaraannya. "Lo udah buat gue benci sama lo, lo juga udah berhasil ngusir gue dari hidup lo. Jadi, apa alasan lo ngelanjutin perjodohan kita?"

"Sha, gue ... gue gak bisa batalin perjodohan itu," jawab Darka.

"Gak bisa?" tanya Arisha menaikkan sebelah alisnya. "Gak bisa, atau gak mau?"

Darka yang mendengar itu mengalihkan pandangan tanpa berniat menjawabnya, membuat Arisha kembali berbicara.

"Sampai kapanpun, gue gak akan pernah bisa batalin perjodohan itu. Tapi lo bisa, kenapa lo gak ngelakuin itu? Apa yang lo mau dari gue!" sentak Arisha.

"Sha, gue sadar, gue salah. Kasih gue kesempatan, Sha. Gue gak akan ngecewain lo lagi. Gue mohon ...."

Arisha tersenyum miring. "Kesadaran lo gak akan merubah apapun, Darka."

Darka menatap lekat mata gadis itu. Ya, hanya tatapan kebencian yang Arisha berikan kepadanya.

"Gue cuma minta batalin perjodohan kita. Kenapa sesulit itu hah!"

Tatapan Arisha teralihkan pada Remon yang datang dengan motornya. Begitupun Darka yang cukup terkejut dengan kedatangan Remon. Darka kembali menatap Arisha dengan tatapan tidak percaya. Seraya berpikir, sudah berapa jauh hubungan mereka berdua?

Remon terlihat biasa saja, laki-laki itu bahkan bersikap seolah tidak ada siapapun di sana. Namun ketika Remon ingin memasuki rumah, tiba-tiba saja Arisha merangkul lengannya membuat Remon menatap ke arahnya.

"Gue mau jalan sama Remon," kata Arisha yang kini mengalihkan pandangan pada Remon. Remon yang menyadari itu menyunggingkan senyuman, laki-laki itu bahkan mengelus lengan Arisha lembut.

"Ya. Gue mau jalan sama Arisha. Ngapain lo di sini?" tanya Remon.

Tanpa menunggu jawaban Darka, Arisha segera menarik Remon ke motornya. Darka yang melihat itu segera mencekal lengannya. Dengan tatapan tajam, Arisha justru menyentaknya.

Darka menatap kepergian mereka hingga suara deru motor yang perlahan menjauh. Kedua tangannya mengepal kuat, nyatanya Darka, memiliki perasaan lebih dari sekadar teman pada Arisha.

*****

"Lo pacaran sama Darka? Gue perhatiin lo deket banget sama dia."

Arisha menoleh ke arah Remon, mereka sedang berada di taman yang tidak begitu jauh dari rumah.

"Gue pergi sama lo, bukan berarti lo bisa tanya-tanya ke gue," jawab Arisha.

"Larangan adalah perintah," balas Remon tidak mau kalah. "Sebelumnya Darka yang benci lo, sekarang lo yang benci sama dia. Apa masalah lo? Apa gue perlu nyuruh temen-temen gue buat nyingkirin Darka?"

"Gue gak pernah ikut campur urusan lo, kenapa lo selalu ikut campur urusan gue?" tanya Arisha sebelum terkejut dengan apa yang dilakukan Remon selanjutnya.

Laki-laki itu tersenyum, tangannya bahkan mengusap lembut rambut Arisha yang terurai. "Karna lo adik gue."

"A-apa?" Sungguh, Arisha tidak dapat menutupi rasa terkejutnya karena perilaku Remon yang tiba-tiba terasa ... hangat?

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang