Darka memandang nanar seorang gadis yang terbaring lemah dengan berbagai alat ditubuhnya. Melalui kaca yang menembus ke ruang ICU tempat di mana Arisha berada, ia dapat melihat cukup banyak luka ditubuhnya. Pipi yang tergores, kepala yang terbalut perban, bahkan tangannya yang juga terkena goresan aspal. Kedua tangannya terkepal ketika mengusap kaca tersebut, membayangkan seberapa besar rasa sakit yang Arisha derita.
"Maaf, Arisha. Maaf, maafin gue," lirih Darka pelan hampir tidak bersuara.
Darka menoleh ketika seorang dokter yang baru saja ke luar setelah memeriksa kondisi Arisha. Sudah hampir dua belas jam pasca Arisha selesai operasi. Namun tidak ada tanda-tanda gadis itu membuka kedua matanya.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Rey yang segera mendekati dokter itu.
"Kondisi pasien masih kritis, saya tidak dapat memprediksi kapan dia akan bangun. Tetapi saya akan mencoba yang terbaik demi pasien agar dapat sadar kembali."
"S-saya boleh masuk kan, Dok?" tanya Darka tiba-tiba membuat Rey memandang ke arahnya.
"Tapi—"
"Saya mohon, Dok. Sebentar aja," pinta Darka sampai akhirnya dokter itu menganggukkan kepalanya.
"Baik, silakan. Namun, hanya satu orang yang boleh masuk, mengingat kondisi pasien yang belum sepenuhnya pulih. Saya permisi dulu."
Darka terdiam begitupun dengan Rey, sampai akhirnya Rey mengalah dengan menganggukkan kepalanya.
"Lo masuk aja, gue gampang," ujar Rey, jauh dari lubuk hatinya ia sangat ingin melihat Arisha.
"Thanks, Rey."
Darka berjalan perlahan mendekati Arisha dengan pakaian khusus berwarna hijau yang melekat ditubuhnya. Arisha masih memejamkan matanya, tidak lupa dengan alat bantu oksigen yang berada dihidungnya membantu pernapasan gadis itu.
Dari mana Darka memulai? Apakah Arisha masih ingin melihatnya? Apakah Arisha masih ingin mendengar suaranya? Apakah Arisha dapat memaafkan segala kesalahannya? Itulah yang ada dipikiran Darka saat ini.
Dengan cukup keberanian, Darka semakin mendekat, menatap wajah yang kini terlihat sangat pucat diiringi suara khas monitor dipendengarannya.
"Arisha, maaf," lirihnya menundukkan kepalanya karena air matanya yang menetes begitu saja. Ya, kini seorang Arisha mampu membuat Darka menangis.
"Maaf, maaf, Arisha. Gue bodoh, gue mohon maafin gue."
Darka mengangkat kepala dan kembali menatap Arisha. "Kenapa? Kenapa, Sha? Kenapa lo gak benci gue walaupun gue kasar sama lo? Kenapa lo masih mau buktiin itu semua disaat gue gak percaya sama lo?"
"Arisha, gue mohon. Bangun," kata Darka yang kini semakin mendekati Arisha. Lagi-lagi bersimpuh menggenggam tangan Arisha. "Gue mohon, Sha. Setelah lo bangun, lo bebas ngelakuin apapun. Lo mau marah, pukul gue, atau mau tampar gue, gue bakal terima. Tapi gue mohon lo bangun, Sha."
"Arisha, lo denger gue kan? K-kalo gitu bangun hm? B-bangun sekarang juga, Sha. Tampar gue, tampar sebanyak yang lo mau, gue mohon, jangan hukum gue kayak gini, Sha."
Darka memandang Arisha, keadaannya masih sama. Masih terdiam dan tertidur dengan nyaman. Tidak, Arisha tidak dapat berbuat seperti ini. Darka ... sangat tersiksa karena gadis itu tidak kunjung membuka matanya.
"Wake up, Arisha," bisik Darka tepat ditelinga gadis itu.
*****
Rey beranjak dari duduknya tepat saat Darka ke luar dari ruangan Arisha. Laki-laki itu tampak kacau, pandangannya kosong seolah tidak memiliki tujuan hidup. Melihat itu Rey segera mendekati Darka.
"Ka—"
Darka memandang Rey dengan tatapan sendu, dan menyela perkataan Rey. "R-Rey, Arisha gak mau dengerin gue. D-dia marah sama gue, Rey."
Rey terdiam, tidak tahu harus memberi respon seperti apa. Sikap Darka selama ini sangat menyakiti Arisha, hingga Rey kesulitan hanya untuk memberi solusi pada Darka.
"Di-dia gak mau dengerin gue, Rey. Gue nyuruh dia bangun tapi d-dia gak mau b-bangun. K-kenapa, Rey? K-kenapa dia gak dengerin gue!"
"Ka, lo tenang dulu."
"Lo sekarang masuk, temuin Arisha, Rey. B-bilang sama dia buat dengerin gue. Suruh dia bangun, Rey. Di-dia pasti dengerin lo kan? Dia pasti dengerin lo, gue mohon, Rey!" sentak Darka kini terlihat seperti kehilangan akal.
"Penyesalan lo terlambat, Ka. Arisha terlanjur sakit, gue tau dia gak mungkin gak akan dengerin siapapun selain kata hatinya sendiri," ucap Rey ada benarnya.
"E-enggak, Rey. Lo satu-satunya temen yang selalu ada buat Arisha, dia pasti dengerin lo. Gue mohon, Rey. Suruh dia bangun, dia harus marah sama gue, Rey!"
Benar, Arisha seharusnya marah kepadanya. Mengapa gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun? Mengapa Arisha justru memejamkan matanya dengan tenang tanpa mendengarkan permohonannya. Seseorang tolong bangunkan Arisha untuknya, batin Darka berucap.
"Dia harusnya marah sama gue, tapi kenapa dia diem aja, Rey? Kenapa diem aja hah? Kenapa dia gak tampar gue! Kenapa dia gak pukul gue!"
"Jawab gue. Kenapa Arisha diem aja? Kenapa dia gak marah sama gue? Kenapa dia diem aja hah?!! Dia harusnya marah sama gue, k-kenapa d-dia—"
Rey menyentuh bahu Darka bermaksud menenangkannya. "Ka, lo bisa minta maaf setelah Arisha bangun. Saat ini biarin Arisha istirahat sejenak."
"Gue gak bisa, Rey," lirih Darka menundukkan kepalanya seraya menggelengkan kepalanya. "Gue gak bisa liat dia terbaring lemah di sana, gue gak bisa liat dia diem aja tanpa jawab gue, Rey."
Ini adalah hukuman terbesar bagi Darka. Untuk pertama kalinya dalam hidup Darka mengalami penyesalan begitu dalam, sangat dalam.
"Gue harus apa, Rey? Gue harus apa biar Arisha maafin gue? Gue harus apa biar Arisha bangun?" Darka memandang Rey dengan penuh tanya.
Darka sadar, Darka sudah terlalu banyak menorehkan luka di dalam hati Arisha. Apakah itu sebabnya Arisha tidak ingin membuka matanya? Apakah itu sebabnya Arisha tidak lagi mendengarkannya? Darka sudah tidak lagi memiliki kata-kata untuk diucapkan kepada Arisha selain permohonan maaf. Bolehkah Darka mengulang waktu? Satu kali saja, Darka akan menggunakan kesempatan dengan baik, Darka akan selalu mempercayai Arisha, Darka akan selalu berada disisi Arisha, dan Darka tidak akan menyakiti Arisha seperti hari ini. Darka menundukkan kepalanya. Menatap tangan yang beberapa waktu lalu ia gunakan untuk menampar Arisha, bola mata yang mengeluarkan tetesan air mata begitu banyak kini menjadi bayang-bayang pikirannya setiap saat.
Suara isakan tangis Arisha dipendengarannya menjadi sebuah kesalahan terbesar yang ia lakukan pada Arisha.
Namun benar seperti perkataan Rey, Arisha memanglah gadis yang kuat. Gadis itu tetap berusaha menutupi lukanya, dan bahkan bersikeras melakukan apapun hanya untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.
Ya, Arisha gadis yang kuat. Gadis itu pasti akan segera bangun dari tidur panjangnya, bukan?
Dengan kedua mata yang terpejam kuat, Darka bergumam. "Sorry, and please wake up, Arisha."
TBC
Berikan kalimat mutiara kalian untuk Darka di sini!!!
Berikan segala hujatan kalian untuk Seyna di sini!!
Jangan lupa share cerita ini ke media sosial yang kalian miliki dan juga teman-teman kalian yaaa❤❤❤
Jangan lupa follow akun ig dan wp Author❤
Jangan lupa spam next biar Author tambah semangat❤
Spam di sini yaaa
Di sini juga yaa
See you next chapter^^
Publish September, 2021
Remake Januari, 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Dla nastolatków"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)