P A R T 3 7

35K 2.4K 451
                                        

Jangan lupa tinggalkan jejak, komentar setiap paragrafnya ditunggu ya shay😘

Happy Reading❤

***

"Lo gila? Lo jadiin Arisha taruhan? Di mana otak lo hah!" sentak Rey.

Ya, Rey terpaksa datang ke sirkuit karna Saka yang mengatakan Darka dan Remon berada di sana hanya untuk taruhan. Amarahnya memuncak mengetahui apa yang dijadikan bahan taruhan mereka. Di sisi lain, Gema dan Saka hanya saling pandang dengan bersandar pada motor. Sedangkan Remon ada di sebrang jalan bersama teman-temannya yang lain.

Darka melepas helm yang ja kenakan. Menatap malas ke arah Rey. "Gak usah ikut campur, Rey."

Tanpa bisa dicegah Rey mengambil kunci motornya begitu saja. "Gue harus ikut campur kalo lo bawa-bawa Arisha."

"Kenapa sih akhir-akhir ini lo selalu halangin gue? Suka lo sama dia?" tanya Darka namun terdengar nada tidak terima disetiap kalimatnya.

"Ya! Gue suka sama Arisha! Mau apa lo!"

Gema, Saka, bahkan Darka sendiri pun terkejut dengan pengakuan Rey. Selama ia mengenal Rey laki-laki itu tidak pernah membawa perempuan dalam setiap masalahnya. Namun kali ini Rey mengakuinya di depan teman-temannya.

"Udah gue bilang, gue pelindungnya Arisha. Gak akan gue biarin orang lain nyakitin dia sekalipun itu lo, Darka!" lanjut Rey terdengar sangat serius dalam bicaranya.

"Gue gak nyakitin Arisha. Cuma dengan cara ini Remon berhenti gangguin Arisha. Dia berbahaya, gue gak mau Arisha kenapa-kenapa!" balas Darka tajam.

"Lo yakin Arisha baik-baik aja kalo dia tau lo jadiin dia bahan taruhan?"

Darka terdiam. Laki-laki itu tidak memikirkan hal itu, Darka membuang pandangan hingga tatapannya terkunci pada Remon yang memandangnya tersenyum sinis.

"Kali ini aja gunain otak lo. Arisha gak akan pernah maafin lo kalo dia tau hal ini." Rey melempar kunci motor kepada pemiliknya yang ditangkap oleh Darka. "Lo lakuin apa yang lo suka, gue juga bakal lakuin apa yang gue suka."

Darka menatap Rey yang kembali mengendarai motornya dan pergi dari sana. Darka tersentak ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang yang tidak lain adalah Saka bersama Gema yang berdiri di sampingnya.

"Udahlah yuk, pulang aja. Gue gak mood nyaksiin pertempuran lo sama Remon. Kita 'kan, temen. Iya gak, bro?" tanya Saka pada Gema yang dibalas anggukan.

"Yoi. Saran gue, ikutin apa kata Rey. Kita duluan," kata Gema yang bersama Saka pergi meninggalkan Darka dengan berbagai pikirannya.

*****

"Brengsek! Arghhh!"

Gema memantulkan bola basket dengan penuh amarah. Ya, beberapa menit lalu hubungannya baru saja kandas dengan Saras. Dengan seenaknya gadis itu memutuskan hubungannya hanya untuk kembali dengan mantan kekasihnya, Arthur. Di lapangan indoor, laki-laki itu meluapkan amarahnya di sini.

"Lo itu cuma atm berjalan buat gue, Gema. Mimpi lo ketinggian berharap gue cinta sama cowok kayak lo."

"Lo itu cowok pertama yang gampang gue begoin."

"Sampai kapanpun, lo gak akan pernah pantas jadi cowok gue. Jadi, gak usah berharap lebih."

"BANGSAT!"

Arisha yang baru saja memasuki lapangan itu menatap bola basket yang berada tepat di kakinya. Arisha mengambilnya, melakukan dribbling seraya berjalan ke arah Gema, dan tepat berada di samping laki-laki itu ia memasukkannya ke dalam ring hal itu membuat Gema menoleh ke arahnya.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang