P A R T 1 8

34.5K 2.5K 32
                                        

Arisha meremas selimut tanpa mengalihkan pandangan dari Darka, mencoba mencari kebohongan melalui netra laki-laki itu. Tidak, apa yang ia pikirkan tidak benar-benar terjadi bukan?

“Lo bohong, lo gak mungkin bisa ngelakuin itu ke gue. Gue tau lo, Darka!”

Wajah Darka terlihat tenang, dalam posisi yang sama ia kembali berbicara. “Apa gue harus lakuin itu lagi biar lo percaya?”

“E-enggak. L-lo bohong. Lo p-pasti bohong.” Suara gadis itu bergetar. Mencoba meyakini hatinya bahwa Darka hanya sedang berbohong kepadanya.

“Lo bohong. Iya, kan?”

Darka melirik sejenak ke arah perut Arisha lalu kembali menatap lekat kedua mata gadis itu. “Sekarang tinggal tunggu aja, tanggal mainnya.”

Arisha sontak mendorong Darka agar menjauh, Darka menyeringai menyadari Arisha yang ketakutan.

Darka berdiri, mengambil pakaian di atas meja lalu melemparnya ke arah Arisha hingga tepat mengenai wajahnya.

“Buruan mandi. Nyokap gue udah nungguin lo.”

“Tapi kan—”

Darka kembali berbicara karena mengetahui apa yang akan diucapkan gadis itu. “Libur, ada rapat guru.”

*****

Arisha tersenyum ketika Liana menyajikan sarapan untuknya. Jujur saja, sampai detik ini Arisha tidak mengerti mengapa Darka membawa dirinya ke rumahnya, dan juga orang tua Darka yang tidak mempertanyakan kehadiran Arisha saat ini.

“Wah, Arisha keliatan cantik ya Darka pakai baju itu,” ujar Liana.

“Makasih, Tante,” balas Arisha yang memakai dress polos selutut berwarna peach hingga membuatnya terlihat anggun.

“Kamu keliatan cocok pakai baju itu. Itu baju adiknya Darka loh, postur tubuh kalian sama jadi Tante suruh Darka biar kamu pakai baju adiknya.”

“Oh ya? Terus sekarang di mana adiknya Darka, Tante?” tanya Arisha.

Mereka semua terdiam sejenak, dan hanya saling memandang satu sama lain. Arisha dapat merasakan bahwa mereka semua menyembunyikan sesuatu yang penting.

Arisha yang menyadari suasana kecanggungan menoleh ke arah Darka yang memberi tatapan datar padanya.

“Ayok di makan, Arisha. Nanti nasi gorengnya dingin,” ucap Liana kini duduk bersama mereka.

“Kenapa kita gak percepat pernikahan kalian?” tanya Satya memecah keheningan.

Arisha yang mendengar itu sontak tersedak saat menelan makanan, ia segera meneguk air bersamaan dengan Darka yang menjawab pertanyaan itu.

“Aku gak pernah mau nikah muda,” jawab Darka.

“Apa bedanya sekarang atau nanti kalian menikah?” Liana membenarkan ucapan suaminya.

Darka meletakkan sendok dipiringnya hingga menimbulkan suara. “Mama sendiri yang bilang kalo aku gak harus nikah dalam waktu dekat.”

“Iya, tapi semalam kamu sendiri yang bilang habis dinner sama Arisha. Makanya kamu bawa ke sini karna rumah Arisha gak ada orang kan?”

Ah, iya. Darka terpaksa berbohong karena kenyataannya ketika mengantar gadis itu pulang tidak ada yang membukakan pintu hingga akhirnya membawa Arisha ke rumahnya.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang