Baca part ini pelan-pelan ya, biar kalian paham dengan alurnya. Kalo gak kalian pahami, kalian gak akan paham part selanjutnya🙏🏻
"Jadi, karna itu lo gak bisa maafin gue? Karna itu lo masih benci sama gue sampai detik ini?" tanya Darka, menyadari Darka yang tengah menatapnya Arisha segera membuang pandangan ke arah lain. Arisha tersentak saat Darka menyentuh kedua bahunya.
"Arisha, gue tau lo marah. Gue tau kesalahan gue gak akan pernah bisa hilang dari hati lo, karna kesalahan gue udah fatal. Gue bener kan? Tapi, Sha. Entah Seyna adik gue atau bukan, keadaannya tetap sama. Lo, tetap jadi seseorang yang singgah di hati gue. Dulu, dan sekarang. Sebenci apapun gue sama lo, gue gak akan biarin orang lain ngelakuin yang sama buat lo, Sha," tutur Darka panjang lebar.
Ya, itu benar. Arisha baru menyadarinya sekarang. Saat di mana Darka membencinya dulu, dan saat di mana Remon yang mendekatinya dan menyentuhnya, Darka marah dan hilang kendali hingga membuat Remon koma di rumah sakit.
"Arisha, gue selalu nunggu kesempatan dari lo. Gue mohon, biarin gue kembali masuk ke hidup lo. Lo pernah bilang mau kita sama-sama kayak dulu kan? Ayok, kita mulai sama-sama," ujar Darka mengusap pipi Arisha lembut tetapi Arisha justru memundurkan langkahnya.
"Apa gue harus percaya? Apa gue harus percaya, kalo lo gak akan nyakitin gue lagi? Apa gue harus percaya, kalo lo gak akan bersikap kasar lagi?" tanya Arisha.
Darka menggeleng seraya tersenyum. "Lo gak harus percaya sama gue, lo harus percaya sama diri lo sendiri. Ikuti apa kata hati lo, di sini gue bakal nunggu lo sampai kapanpun."
Tangan Darka terulur menepuk pucuk kepala Arisha tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya. "Temuin gue kalo lo udah maafin gue, ya?"
Arisha hanya diam, gadis itu tidak memberikan respon sama sekali. Sampai akhirnya Darka berjalan pergi meninggalkannya. Melihat itu Arisha segera menyusulnya, mengikuti Darka yang berjalan ke luar rumah sakit. Darka menyebrang, begitupun Arisha.
Tepat di tengah jalan, langkah Arisha terhenti karena sorot cahaya lampu mobil menyinarinya hingga matanya terasa sakit. Arisha memejamkan matanya kuat, kepalanya bahkan terasa sangat pening.
Hingga tidak lama, Arisha kembali membuka matanya. Betapa terkejutnya yang ia lihat saat ini adalah ruang rawat rumah sakit. Dengan rasa pening yang mendera, Arisha menyadari bahwa dirinya sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai alat di tubuhnya.
Tunggu, apa yang terjadi?
(Fyi, sejak kejadian kecelakaan, percakapan mereka hanya alam bawah sadar Arisha)
"Arisha, lo udah sadar?" Arisha menoleh ke arah sisi kirinya hingga terdapat Amara yang menatapnya dengan raut wajah senang.
"Sha, ada yang sakit? Gue panggil dokter, ya?" Sedangkan di sisi kanannya menunjukkan Remon yang tengah mengusap surai rambutnya dengan lembut.
"R-Rey ...." rintih Arisha merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit. Hal itu membuat Amara dan Remon saling memandang satu lain.
"Arisha, lo baru sadar setelah sebulan koma. Lo harus istirahat," ujar Amara.
"A-apa?" tanya Arisha tidak percaya.
"Lo, Rey, dan Darka. Kalian bertiga kecelakaan satu bulan yang lalu," tutur Amara. Perkataan Amara membuatnya teringat pada kejadian tersebut.
Di sana, Rey terbaring lemah dengan darah di sekujur tubuhnya namun tetap memandangnya dengan senyuman walaupun tubuhnya terasa remuk.
Tatapan Arisha masih terkunci pada tempat yang sama. Namun kali ini, gadis itu tidak dapat menahan tangisannya. Di sisi lain Darka hanya dapat memandang keduanya, laki-laki itu masih terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Bagaimana Darka yang menyaksikan kejadian tadi di depan matanya sendiri.
Arisha berdiri dan berjalan ke arah Rey yang berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Gadis itu tidak sadar bahwa dari arah kananya ada sebuah mobil melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Darka yang berada di sisi jalan segera berlari ke arah Arisha. Namun terlambat, tepat saat Darka menggenggam Arisha keduanya sudah terpental karena tubuh mereka yang menghantam mobil tersebut cukup kuat.
Hari itu, ketiganya mengalami kecelakaan dalam waktu yang bersamaan.
*****
Arisha terduduk di kursi roda. Ya, dokter mengatakan bahwa ada keretakan pada kedua kakinya hingga membuatnya harus berada di kursi roda. Tetapi bagi Arisha, bukan itu masalahnya. Arisha ingin bertemu Rey dan Darka yang masih dalam keadaan tidak sadar.
Tangan gadis itu gemetar saat ingin menarik knop pintu ruangan di mana kedua laki-laki itu berada. Ya, keduanya masih berada di ruangan ICU. Arisha teringat dengan ucapan Amara kepadanya beberapa saat lalu.
"Di antara lo bertiga, cuma lo yang gak separah mereka, dan Rey ... kondisinya paling kritis."
Pandangan Arisha terkunci pada Rey, banyak alat dan perban di sekujur tubuhnya. Berbeda dengan Darka yang hanya kepala dan lengannya yang terbalut perban. Sangat terlihat jelas, bahwa kondisi Rey yang paling parah di antara mereka bertiga. Arisha berjalan mendekati brankar milik Rey. Menatap lekat wajah laki-laki itu yang masih terlihat goresan.
"R-Rey ... k-kenapa lo ada di sini?" tanya Arisha parau.
"Rey, ayok bangun. Lo gak boleh ada di sini, bangun, Rey," isak Arisha tidak dapat menahan air matanya.
Arisha menggigit bibir bawahnya menahan agar tangisnya tidak pecah, Arisha menggenggam tangan Rey. Gadis itu sangat terlihat terluka melihat Rey yang terbaring lemah seperti ini. Mengapa Rey berada di sini? Ini salahnya, seharusnya Arisha membuay Rey menjauh darinya sejak dulu. Dengan begitu, Rey tidak mungkin berada di sini bukan?
"Rey, kenapa lo diem aja? Lo marah sama gue? Lo maraj sama gue karna gue jawab pertanyaan lo?" tanya Arisha memandangnya nanar. "Jawab gue, Rey. Biasanya lo selalu jawab gue 'kan? Tapi kenapa sekarang lo diem aja?"
"Rey, gue mohon bangun ...." lirih Arisha pelan.
Arisha mengeratkan genggamannya pada Rey.
"Rey, jangan diem aja. Jawab gue! Jawab gue, Rey!"
Keadaannya masih tetap sama. Hanya suara mesin elektrokardiogram yang hanya dapat didengar. Sebenarnya, kejadian macam apa ini? Arisha sungguh tidak mengerti akan takdirnya sendiri.
"Lo gak harus percaya sama gue, lo harus percaya sama diri lo sendiri. Ikuti apa kata hati lo, di sini gue bakal nunggu lo sampai kapanpun."
"Temuin gue kalo lo udah maafin gue, ya?"
Kini Arisha beralih memandang Darka yang juga dalam posisi yang sama. Arisha mengusap air matanya, menggerakan roda agar mendekat ke arah brankar Darka.
"Ini yang lo maksud? Lo minta gue nemuin lo di saat kondisi lo kayak gini?" tanya Arisha tersenyum miris namun raut wajahnya kembali datar, begitupun air matanya yang kembali menetes tanpa diminta.
"Dulu kita pernah main petak umpet, tapi lo gak akan muncul sebelum gue nangis karna ketakutan. Sekarang lo ngelakuin itu juga 'kan? Gak lucu, Darka," racau Arisha.
"Lo ngelakuin ini biar gue maafin lo 'kan? Iya kan? Jawab, Darka!" sentak Arisha sebelum kembali terisak.
Gadis itu kembali menangis. Dalam hati Arisha terus menyalahkan dirinya sendiri. Baginya, karena dirinya baik Rey maupun Darka berada di ambang kematian.
"K-kalian gak bisa gini ... kalian gak bisa hukum gue kayak gini," isak Arisha semakin menjadi.
Arisha mendongak, kembali memandang Darka yang memejamkan matanya. Mencoba berpikir jernih, tentang kenyataan yang sudah ia pendam selama ini.
Saat ini, Darka yang terbaring lemah masih belum mengetahui fakta tentang adik kandungnya.
TBC
Semoga kalian gak gagal paham ya, alurnya sengaja aku mundurkan, dan jangan komentar yang aneh-aneh dulu, masih ada sesuatu di next part ͡° ͜ʖ ͡°
Penasaran gak nih?
Spam next di sini yaa
See you next chapter^^
Oktober, 2021
Remake, Mei 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Fiksi Remaja"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)