"Leo." Sang empu nama membalikkan tubuhnya, membalas tatapan Amara dengan kerutan dahi.
"Apa yang lo lakuin ke Gema sampai dia ngakuin kesalahannya?"
Remon melangkah mendekat. "Gue gak ngelakuin kesalahan, Ra."
Amara menghela napas, membuang pandangan ke arah lain karena Remon tidak menjawab pertanyaan dengan benar. Ya, Amara mengkhawatirkannya. Amara tidak ingin Remon melakukan hal yang buruk hingga berakhir dengan sebuah masalah besar.
"Ra." Gadis itu kembali memandang Remon.
"Jawab gue," tegas Amara.
"Gue yang bantu Gema. Gue bantu dia biar dia jujur tentang semuanya, Ra. Itu sebabnya Gema ngakuin kesalahannya," ucap Remon.
Amara menggeleng. "Enggak, yang lo lakuin pasti lebih dari itu."
"Cuma itu yang gue lakuin, Ra. Temen gue yang lain bantu gue, makanya gue tau kalo Gema gak ngelakuin ini semua sendirian." Remon menyentuh kedua bahu Amara dan menatapnya lekat. Memandang gadis itu dengan tatapan sendu namun menyiratkan kejujuran di kedua matanya.
"Gue gak ngelakuin kesalahan, Amara."
*****
"Saya Widya, adik dari ibu-nya Rey."
Tubuh Arisha membeku saat tatapannya bertubrukan dengan seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Widya yang menyadari Arisha terduduk di kursi roda, ia bersimpuh agar dapat memandang gadis itu lebih leluasa.
"Bisa jelaskan apa yang terjadi? Di antara kalian bertiga, cuma kamu yang baru sadar dari koma. Saya harap kamu bisa jelaskan apa yang terjadi."
"I-itu—"
"Tante, maaf. Bisa bahas ini nanti? Arisha juga harus istirahat, tolong beri kami waktu," ujar Remon yang berada di belakang Arisha.
Widya mengangguk mengerti. "Yasudah, kalo gitu—"
"Saya bisa ceritakan semuanya," potong Arisha kali ini menoleh ke arah Remon seolah memberi isyarat agar laki-laki itu meninggalkan keduanya. Hingga tak lama, Remon benar-benar pergi setelah memberi anggukan pada Arisha.
"Rey mencoba menolong saya, Tante. Maaf, saya minta maaf karna saya sekarang Rey ...." Arisha berhenti berbicara untuk sesaat, gadis itu menundukkan kepala seraya meremas pakaian yang ia gunakan.
"Kamu ... Arisha?"
Arisha kembali menatap Widya, seingatnya ia belum memperkenalkan dirinya. Widya tersenyum, tangannya terulur mengusap rambut Arisha dengan lembut.
"Kamu pasti seseorang yang special buat Rey," ujarnya membuat Arisha mengerutkan dahi.
"M-maksud Tante?" tanya Arisha.
"Kamu selalu jadi topik pembicaraan Rey setiap hari saat bersama saya. Ehm, kamu sudah kenal Rey berapa lama?"
"Belum lama, Tante," balas Arisha.
"Kamu tau, kalo kedua orang tuanya Rey tinggal di luar negri?"
Arisha menggeleng. "Enggak, Tante. Selama ini Rey gak pernah cerita tentang keluarganya."
"Orang tua Rey tinggal di luar negri sejak Rey berumur tiga tahun. Namun, karna permintaan Rey yang ingin sekolah di sini, itu sebabnya saya yang mengurus Rey," terangnya sebelum melanjutkan perkataannya.
"Karna itu, saya harus membawa Rey pergi dari sini. Kedua orang tua Rey, ingin Rey tinggal kembali bersama mereka."
"A-apa? M-maksud Tante, Rey akan menetap di luar negri?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Jugendliteratur"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)