Celline bernapas lega karena Arisha baru saja membuka pintunya, di sisi lain Celline cukup terkejut dengan kondisi Arisha yang jauh dikatakan baik-baik saja. Gadis itu terlihat pucat dengan tatapannya yang kosong, Arisha bahkan tidak berbicara hingga mereka saling duduk berhadapan dengan posisi Arisha yang duduk di sisi ranjang, dan Celline yang duduk di kursi meja belajarnya.
“Gue ke sini karna khawatir sama lo. Remon bilang, dari kemarin lo gak keluar kamar.” Celline yang menyadari tatapan Arisha saat memandangnya segera menggelengkan kepalanya. “Enggak, gue gak minta lo cerita kok. Lo bisa cerita kapanpun yang lo mau.”
“Celline, apa lo pernah merasa sendirian?” tanya Arisha memandangnya dengan nanar.
“Gue—”
“Lo semua ada di dekat gue, tapi gue selalu merasa sendirian. Mereka semua punya kesibukannya masing-masing. Tapi apa salah, kalo gue cuma butuh perlindungan mereka?”
Celline diam mendengarkan, tatapan Arisha berubah sendu menyiratkan kesedihan di dalam sana.
“Satu tahun lalu, gue korban pelecehan. Walaupun gue berhasil lolos dari mereka, tapi rasa trauma gue gak pernah hilang. Dan kejadian kemarin gue—” Napas Arisha tercekat, perkataannya terhenti bersamaan air mata yang menetes sampai akhirnya Celline mengusap punggung tangannya.
“G-gue, gue takut. Gu-gue takut, Cel. G-gimana kalo mereka perkosa gue? Gimana kalo gak ada yang nolongin gue? G-gue t-takut ....”
Celline berpindah tempat dan duduk di sampingnya, menarik Arisha ke dalam dekapannya hingga tangisan Arisha tidak dapat lagi tertahankan.
“Keluarin, Sha. Keluarin semua tangisan lo,” ucap Celline mengurai pelukan mereka. “Nangis bukan berarti lo lemah, Sha.”
“Selama ini gue berusaha buat baik-baik aja, Cel. Tapi kenapa seberat itu?” lirih Arisha.
Amara berdiam diri tepat di pintu kamar Arisha menyaksikan keduanya. Amara baru mengetahui jika Arisha memiliki trauma yang cukup dalam terlihat dari bagaimana cara gadis itu mengurung diri hanya untuk menghilangkan rasa traumanya.
*****
“Gue mau ketemu Arisha.”
Remon menahan tubuh Darka ketika laki-laki itu mencoba memasuki rumahnya, sudah berkali-kali Darka mencoba namun Remon tetap pada pendiriannya. Tidak membiarkan Darka menemui Arisha.
“Gue mau ketemu Arisha, kenapa lo cegah gue?” tanya Darka tidak habis pikir.
“Gue punya hak buat larang lo ketemu Arisha. Lo punya hak, buat ketemu Arisha?” Remon berbalik tanya.
“Apa sih maksud lo? Apa masalah lo sama gue? Gue cuma mau ketemu Arisha!”
“Gue bilang enggak!” balas Remon tak kalah tajam.
Darka berdecak, tanpa ragu ia menggeser tubuh Remon namun kalah cepat karena Remon yang lebih dulu menariknya dan menghantamkan pukulan yang mengenai sudut bibirnya.
Bugh!
“Lo emang harus dibilangin pake cara kasar ya?” kata Remon pada Darka yang menyentuh sudut bibirnya karena terasa perih.
“Kenapa lo larang gue ketemu Arisha? Apa hak lo?”
Remon melangkah mendekati Darka dengan seringaian diwajahnya. “Hak gue adalah seorang kakak yang melindungi adiknya. Sampe sini paham kan?”
“A-apa lo bilang?” tanya Darka.
“Gue punya hak yang jauh lebih besar daripada lo. Harusnya lo tanggung jawab sama apa yang udah lo lakuin ke Arisha. Kalo kalian gak pernah kenal, Arisha gak mungkin dalam bahaya kayak sekarang,” tegas Remon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Teen Fiction"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)