“Arisha!”
Tatapan keduanya menoleh ke arah seorang gadis yang menghampiri Arisha dengan penuh kekhawatiran.
“Arisha, lo baik-baik aja kan?” tanya gadis itu menyentuh bahu Arisha seraya membantunya berdiri.
“A-Amara?” Arisha terkejut karena kehadiran Amara di tengah-tengah mereka.
Amara mengalihkan pandangan pada laki-laki yang berdiri menatapnya, Amara mendekatinya dan memberikannya tatapan nyalang.
“Ternyata bener? Ternyata lo yang selama ini ngikutin Arisha? Brengsek, apa yang lo mau dari Arisha!” teriak Amara mendorong dada laki-laki itu walaupun tidak membuat berpindah posisi. Amara membalikkan tubuhnya kembali menatap Arisha.
“Sha, asal lo tau. Belakangan ini lo diikutin sama dia! Begitupun tadi, itu sebabnya gue nyusul lo ke sini!” kata Amara menjelaskan serinci mungkin.
“Lo, jawab gue! Jawab gue, Gema!” desak Amara.
Ya, laki-laki itu adalah Gema. Akhir-akhir ini Amara diam-diam mengetahui Gema yang mengikuti Arisha. Entah apa maksudnya, awalnya Amara berpikir itu hanya perasaannya saja. Namun tidak, hari ini Gema membuktikan hal itu adalah kebenaran.
“Apa yang harus gue jawab? Gue ngelakuin semua ini atas perintah lo, Ra! Kenapa lo nyalahin gue?” tanya Gema menatapnya tidak percaya.
“Apa maksudnya?” tanya Remon yang entah kapan sudah berada di sana. Mereka menatap Remon yang berjalan mendekati Amara dan juga Gema.
“Apa maksudnya kalo lo ngelakuin ini atas perintah Amara. Apa maksudnya!” bentak Remon.
Gema tersenyum miris. “Ya, ini semua perintah Amara. Lo tau sendiri selama ini gue gak punya masalah sama Arisha kan? Tapi Amara yang nyuruh gue ngelakuin ini!”
Amara menarik kasar lengan Gema agar menatapnya. “Apa yang lo bicarain? Gue gak pernah nyuruh lo, kenapa lo lakuin ini ke gue!”
“Ra, cukup lah! Gue gak bisa lagi jalanin rencana lo, kita berhenti di sini,” tegas Gema.
“Cih, drama,” decih Remon membuang pandangan walaupun dalam hati ia sangat ingin menghabisi Gema jika tidak mengingat kondisi Arisha saat ini.
Amara menggeleng tidak percaya, dalam bayangannya saja Amara tidak pernah memikirkan untuk berbuat buruk pada Arisha. Namun ... seseorang menuduhnya?
Remon yang cukup muak dengan keadaan, ia segera menghampiri Arisha untuk membawanya pergi. “Kita pergi di sini.”
“Amara hamil anak gue,” ucap Gema.
Pergerakan Remon terhenti, rahangnya mengeras setelah mendengarnya. Ia melepaskan genggaman pada Arisha dan kembali berbalik, berjalan menghampiri Amara dengan pandangan datar.
Amara menggeleng kuat. “E-enggak. Enggak, Leo. I-itu gak bener!”
“Gema! Kenapa lo lakuin ini ke gue! Jawab! Bilang ke Remon kalo itu semua gak bener! Kenapa lo fitnah gue, Gema!” murka Amara menatap Gema namun Remon menarik lengannya hingga mereka berhadapan.
“Jadi ini alasannya lo minta putus? Ini alasannya lo putusin gue?” tanya Remon.
Tanpa sadar Amara menitikkan air mata.
“E-enggak, Leo. G-gue gak hamil. Gema bohong, dia bohong!”
“Amara hamil anak gue, dan dia ancam gue mau gugurin kandungan itu dan bunuh diri kalo gue gak ngelakuin apa yang dia suruh. Sorry, Mon. Sorry karna gue belum lama ini tau hubungan lo sama Amara,” sesal Gema.
“Bohong! Itu semua bohong! L-Leo, percaya sama gue, gue gak hamil! Gema bohong, Leo,” isak Amara memandang Remon dengan tatapan memohon agar mempercayainya.
Amara beralih pada Arisha setelah mendekati gadis itu. “Arisha, lo percaya sama gue kan? Lo percaya gue gak ngelakuin itu kan?”
“Amara ngelakuin itu semua karna cemburu lo deket sama Arisha. Apalagi akhir-akhir ini lo selalu ada buat Arisha. Gue berkali-kali cegah Amara tapi gak ada hasil. Gue gak bisa apa-apa karna dia hamil anak gue, Mon, Sha, gue minta maaf,” kata Gema tidak berani menatap keduanya.
“Amara.” Arisha menatap lekat Amara yang menunggunya bicara kembali. “Kepercayaan gue selalu dihancurkan di saat gue mulai percaya sama orang lain. Maaf, gue gak bisa percaya siapapun selain diri gue sendiri.”
Amara mengangguk mengerti, kali ini ia beralih pada Remon dengan penuh harapan walaupun saat ini Remon mengalihkan pandangan karena tidak ingin menatapnya.
“Leo, di sini lo yang paling lama kenal sama gue. Lo tau gue seperti apa, lo tau apa yang gak pernah gue lakuin selama ini. Lo percaya sama gue kan? Iya kan?”
“Buktiin,” ucap Remon membalas tatapan Amara. “Buktiin kalo lo gak hamil, setelah itu gue baru bisa percaya sama lo.”
Bahu Amara menurun, tidak mengharapkan Remon akan mengatakan ini kepadanya.
“Selama ini gue percaya sama lo tanpa bukti, Leo,” lirih Amara meneteskan air matanya.
“Remon, yang harus lo tau. Gue gak pernah punya niat perkosa Amara, saat itu gue mabuk. J-jadi ... Amara yang ngejebak gue.”
Bugh!
Tanpa mengatakan apapun Remon memukul Gema tepat mengenai sudut bibirnya, Remon mencengkeram kuat kerah baju Gema dan memberikannya tatapan tajam.
“AMARA CEWEK BAIK-BAIK, LO BUAT KESALAHAN BESAR KALO BERANI NGEJEBAK AMARA KAYAK GINI, ANJING!”
Bugh!
Bugh!
Remon kembali memukulinya tanpa henti, Amara yang melihat Remon sudah mulai hilang kendali segera menghentikannya.
“Leo, udah! Gue mohon, udah. Dia bisa mati!” Remon menatap Amara dengan napas yang tidak beraturan.
“Minggir, Amara. Dia harus dikasih pelajaran biar gak kelewat batas,” desis Remon.
“Lo bego, Mon! Uhuk! Lo tolol karna percaya sama Amara! Selama ini dia cuma manfaatin lo doang! Bahkan Amara juga yang nyuruh gue buat bakar markas lo!”
“E-enggak. Enggak, Leo. Itu gak bener, dia bohong!” Amara mendekati Gema menarik kerahnya.
“Gema, kenapa lo lakuin ini ke gue? Apa salah gue salah sama lo! Gue gak pernah punya masalah sama lo, tapi kenapa lo jebak gue kayak gini!” teriak Amara kali ini memukuli dada bidang Gema berulang kali. “Bilang itu semua bohong! Gue mohon, bilang itu semua bohong!”
“Ra, kenapa lo kayak gini? Lo yang nyuruh gue, kenapa lo marah sama gue?” Pergerakan Amara terhenti, memundurkan langkahnya menatap Gema tidak percaya.
“Gue mohon, Ra. Berhenti, udah cukup kemarahan lo. Gue gak bisa lagi ngelakuin ini. Gue udah lakuin apa yang lo suruh, jadi jangan pernah berpikir buat gugurin anak kita ya?” ujar Gema tangannya terulur menyentuh pipi Amara namun gadis itu lebuh dulu menepisnya.
“Brengsek.” Amara menatap tajam Gema. “Lo brengsek, Gema!”
“Gue bakal terima anak itu walaupun itu kesalahan, Ra. Please, kali ini aja dengerin gue,” tutur Gema menatapnya penuh keyakinan.
Amara menggelengkan kepalanya bersamaan air mata yang kembali mengalir membasahi pipinya. Amara beralih memandang Arisha dan Remon bergantian yang hanya menatapnya datar.
Ya, tidak ada yang mempercayai Amara untuk saat ini.
TBC
Kalian lebih percaya siapa nih? Amara atau Gema?
Keliatannya Remon bingung juga harus percaya sama siapa huhu :(
Aku jelaskan dulu ya, jangan mengira Gema yang pernah melecehkan Arisha. Seperti yg kalian tau, Arisha pernah menjadi korban pelecehan satu tahun lalu, dan karna kejadian ini, Arisha kembali merasakan traumanya. Gak kebayang sih gimana takutnya :')
So, mau next kapan nih?
Spam next di sini yaaa
See you next chapter^^
Publish Oktober, 2021
Remake Maret, 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Teen Fiction"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)