“Anemia lo kambuh, maag lo udah parah. Kenapa sih lo gak peduli sama diri sendiri?”
Arisha mendelik, baru beberapa menit Arisha siuman tetapi Remon langsung menghujamnya seperti ini. Walaupun apa yang dikatakannya itu benar, seharian Arisha tidak makan, dan beberapa hari ini juga Arisha merasakan pening. Tetapi, apakah harus Remon mengomelinya sekarang?
“Gue baru banget sadar loh,” ujar Arisha memandangnya kesal.
“Kalo lo gak sadar, mati yang ada,” balas Remon seenak jidat.
“Lo—” Arisha mengambil bantal berniat melempar kearahnya. Namun terhenti karena Rey tiba-tiba memasuki ruang rawatnya.
Rey berjalan mendekat dan memberikannya parcel buah kepadanya. “Gue bawain ini buat lo, kalo kurang bilang aja ya?”
Arisha terkekeh pelan menerimanya. “Thanks, Rey.”
“Gue keluar dulu, mau beli makan,” ucap Remon yang melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Untuk sesaat mereka terdiam. Tiba-tiba Arisha mengingat pada saat Rey yang membicarakan sesuatu kepadanya, Rey yang duduk di dekat brankar mengalihkan pandangan saat Arisha bersuara.
“Ehm, Rey. Lo bilang, kemarin lo mau ngomong sesuatu. Mau ngomong apa?”
“Oh, itu ... enggak, lupain aja. Gak penting kok,” jawab Rey tersenyum.
“Gak penting?” Arisha mengerutkan dahi.
“Iya, udah gak usah dipikirin.”
Arisha mengangguk mengerti. Dalam diam ia memperhatikan Rey yang kembali sibuk pada ponselnya. Ingatannya kembali saat-saat Rey yang membela dirinya di depan Darka, kebaikan Rey yang selalu ada untuknya. Tanpa sadar, Arisha tersenyum tipis mengingatnya.
Ketika teringat sesuatu, Rey segera memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu beralih menatap Arisha.
“Sha, sorry. Gue kayaknya harus lo tinggal lo sebentar, gue ada urusan penting. Lo gak masalah kan?”
“Iya, lo pergi aja,” jawab Arisha.
“Okey,” balas Rey yang melangkah pergi.
“Rey.” Saat baru beberapa langkah Rey melangkah, perkataan Arisha membuat Rey kembali menatap Arisha. Untuk sesaat Arisha terdiam sebelum akhirnya berbicara.
“Nanti, atau sekarang. Jangan pernah punya perasaan lebih buat gue, ya?”
Tubuh Rey menegang, tiba-tiba saja ia kehabisan kata-kata hanya untuk membalas perkataan Arisha.
“Gue gak mau kehilangan seorang sahabat untuk kedua kalinya. Saat ini, lo adalah orang yang paling berarti buat gue. Lo bisa kan, ngelakuin itu buat gue?” tanya Arisha penuh keraguan di matanya karena Rey cukup lama tak bersuara sebelum akhirnya Rey memberikan senyuman.
“Of course,” balas Rey tersenyum hangat lalu kembali melangkah pergi dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan.
*****
“Berapa kali lo panggil gue jalang? Berapa kali lo minta gue mati, dan berapa kali lo hancurin kepercayaan gue?”
“Berapa kali lo sakitin gue, berapa kali lo injak harga diri gue, Darka! Jawab gue!”
“Cinta? Lo cinta sama cewek yang pernah lo sakiti? Lo yakin itu cinta? Nyatanya, pernyataan cinta lo gak bisa buat gue luluh. Bagi gue, pernyataan cinta lo adalah musibah buat gue.”
“Gue lebih baik mati, daripada harus nerima cinta dari lo, Darka.”
“ARGHHH!”
Prang!
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Teen Fiction"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)