P A R T 4 0

37.1K 2.3K 145
                                        

"Lo yang berjuang dapetin permintaan maaf Arisha, dan gue yang berjuang dapetin hatinya Arisha. Biar kita liat, siapa yang Arisha pilih."

Darka menatap Rey tajam sebelum pergi dari sana begitu saja, ketika melewati kolam renang, langkahnya terhenti karena berpapasan dengan Arisha. Gadis itu terlihat kikuk saat ingin berbicara.

"L-lo ... lo gak lagi berantem sama Rey kan?" tanya Arisha.

"Lo khawatir sama gue, atau sama Rey?" Darka berbalik tanya.

Arisha tidak menjawab, ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan Darka sampai akhirnya laki-laki itu kembali bersuara ketika Arisha membuang pandangan.

"Arisha, sorry."

Gadis itu menoleh ke arahnya, lagi-lagi tidak memberi jawaban melainkan menatap lekat laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya.

"Lo udah hancurin hal yang seharusnya lo jaga, Darka. Lo tau apa itu?" Darka membalas tatapannya dengan dalam menunggu Arisha melanjutkan ucapannya. "Kepercayaan. Lo juga pasti tau kan, seberapa susahnya membangun sebuah kepercayaan?"

Bagi Arisha, hal paling menyakitkan yang ia rasakan yaitu ketika seseorang yang paling ia percayai justru bersikap sebaliknya. Ah, tidak. Darka bahkan membencinya sampai tiada hari tanpa mencacinya dengan perkataannya yang kasar. Selama ini, selama Darka membencinya, Arisha masih menaruh secercah harapan jika hubungan mereka mungkin saja akan membaik seperti dahulu.

Ekspetasi tidak selalu sesuai dengan realita.

Namun ... apakah rasanya sesakit ini?

Sakit rasanya, mengingat bagaimana sikap Darka kepadanya. Membayangkan bagaimana tidak ada seseorang yang berada di sisinya, Arisha selalu merasa sakit jika mengingatnya. Arisha tidak memiliki dendam, Arisha bahkan bisa saja memaafkannya hari ini. Tetapi rasa sakit yang Darka berikan, nyatanya jauh lebih besar hingga membuatnya kehilangan cara untuk sekadar memberikannya kesempatan kedua.

"Arisha, please," ucap Darka merendahkan nada suaranya.

"You don't deserve the chance, Darka," jawab Arisha.

"Sha-"

"Lo yang buat gue berubah, hubungan kita seharusnya gak pernah sejauh ini," potong Arisha. Baru saja Darka ingin menjawabnya, seseorang tiba-tiba memanggil namanya.

"Darka!"

Darka berbalik, begitu juga Arisha yang menatap lurus Gema yang memanggil Darka dari jarak yang tidak begitu jauh.

Namun tidak lama, Arisha merasakan seseorang mendorong tubuhnya hingga berakhir membuatnya terjatuh ke dalam kolam. Darka segera membalikkan tubuhnya, tanpa menunggu Darka melepas jas yang ia kenakan dan masuk ke dalam kolam. Itu karna Darka tahu, bahwa Arisha tidak pandai berenang.

"Arisha!" teriak Amara panik begitupun dengan Celline dan temannya yang lain.

Arisha mencoba menghirup udara namun untuk melakukannya terasa sangat sulit baginya mengingat dalamnya kolam renang tersebut.

Darka yang melihat Arisha semakin tenggelam ia segera menarik Arisha ke dalam dekapannya, membawanya ke atas agar gadis itu dapat bernapas. Dengan bantuan yang lain, Darka membaringkan Arisha di sisi kolam. Menepuk-nepuk pipi Arisha seraya membangunkannya.

"Arisha! Arisha, bangun!" Darka menepuknya berulang kali.

"Arisha! Arisha please dong bangun, jangan bikin gue khawatir," kata Celline menggerakan lengan gadis itu bersama Amara di sebelahnya hingga tidak lama Arisha terbatuk-batuk mengeluarkan air dari mulutnya.

Darka menyentuh bahu Arisha membantunya untuk duduk, namun pergerakannya terhenti saat Rey yang menariknya dan memberi pukulan tepat di wajahnya. Darka menyentaknya kasar dan mengusap darah yang mengalir di hidungnya.

"Bangsat, apa maksud lo hah!"

"Lo udah buat Arisha hampir mati, dan lo masih berani tanya?" Rey menggelengkan kepalanya tersenyum miring. "Lo lebih cocok jadi pembunuh, Darka."

Bugh!

"JAGA OMONGAN LO, ANJING!" teriak Darka yang memukul rahangnya dan melempar tubuh Rey hingga meja yang berada di dekatnya terjatuh bersamaan dengan suara pecahan gelas yang sudah hancur berserakan.

Rey menegakkan tubuhnya lalu kembali memandang Darka. "Lo satu-satunya orang yang ada di dekat Arisha, gue liat itu!"

Darka mendekat, menarik kerah baju Rey sangat erat. "Kalo lo ngeliat itu, seharusnya lo tau siapa yang dorong Arisha!"

"Gue gak yakin karna gue gak liat Arisha jatuh, gue cuma liat saat Arisha udah ada di kolam!"

"Kalo lo gak yakin, kenapa lo nuduh gue, bangsat!"

"Karna cuma lo yang berusaha bunuh Arisha!" balas Rey lebih tajam.

Keadaan seketika hening, mereka semua yang mendengarnya saling memandang satu sama lain. Begitupun Darka yang perlahan melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Rey, ia sadar pembahasan yang dimaksud laki-laki itu. Hal itu mengingatkan Darka pada hari di mana dirinya dengan sengaja mencekik Arisha.

"Hari itu, di depan mata gue sendiri, lo berusaha bunuh Arisha. Lo gak berniat buat pura-pura amnesia kan?" tanya Rey penuh penekanan.

"Gue gak pernah punya niat buat bunuh Arisha," tegas Darka.

"Laki-laki yang hobinya sering nyakitin perempuan, omongannya gak akan pernah bisa dipegang," tekan Rey.

Hal itu membuat Arisha menoleh ke arah Rey, tatapan kedua laki-laki itu seperti sedang mengobarkan bendera perang. Namun Arisha memilih diam karena tubuhnya masih terasa lemah.

Tatapan Darka menajam setelah mendengarnya. "Laki-laki yang berusaha mati-matian terlihat sempurna di depan cewek yang dia suka, lebih buruk daripada laki-laki yang punya banyak kekurangan."

Rey tersenyum. "Kenapa lo terus-terusan ngalihin permasalahan? Jujur aja, tujuan lo yang sebenernya belum tercapai kan?"

"Gak usah bersikap lo tau semua hal tentang gue, Rey! Harus berapa kali gue bilang!"

"Harusnya lo yang sadar diri. Bukan gue yang berusaha terlihat sempurna, tapi lo sendiri." Rey melangkah mendekat ke arah Darka. "Bersikap benci seolah gak saling kenal, tapi sekarang bersikap baik seolah layaknya pasangan kekasih. Mana yang lebih buruk? Gue, atau lo?"

Darka menyeringai. Ia bahkan tidak menggubris Gema yang berusaha menahannya. "Makin ke sini kayaknya lo makin kurang ajar, ya?"

"Kalo gitu biar gue pastiin satu hal." Rey berjalan mendekati Arisha dan membungkuk hingga tatapan keduanya bertemu.

"Arisha, ada seseorang yang sengaja dorong lo kan?"

Rey menunggu jawaban Arisha. Namun nihil, gadis itu hanya diam tidak berniat menjawab membuat Rey menyentuh bahunya bermaksud menyadarkannya dari lamunan.

"Sha, jawab gue. Seseorang sengaja dorong lo ke kolam kan?"

Arisha yakin bahwa ada seseorang yang sengaja membuatnya terjatuh. Namun, yang lebih Arisha yakini adalah ....

Pandangan Arisha menatap satu-persatu orang yang berada di dekatnya. Mereka adalah teman-teman Darka, dan juga teman dekat Arisha.

Bahwa ada seseorang di antara mereka semua yang tidak menginginkan kehadiran Arisha.







TBC

Jangan lupa share cerita ini ke media sosial yang kalian miliki dan juga teman-teman kalian yaaa❤❤❤

Jangan lupa follow akun ig dan wp Author❤

Jangan lupa spam next biar Author tambah semangat❤

Mau next kapan??

Spam di sini yaaa

Di sini juga yaa

See you next chapter^^

Publish September, 2021
Remake Februari, 2022

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang