Tidak lama, Darka mengurai pelukannya. Lagi-lagi menatap lekat kedua mata Arisha, mereka bertatapan sesaat sebelum Arisha bersuara.
"Okey. Gue bakal kasih lo kesempatan, karena gue juga suka sama lo, Darka," ucap Arisha tersenyum hangat bahkan penuh kelembutan disetiap nada bicaranya. "Gue sadar kejadian itu cuma kesalahpahaman. Gue percaya sama lo lebih dari diri gue sendiri."
Darka memandangnya tidak percaya, sudut bibirnya terangkat karena Arisha yang memberinya kesempatan.
"A-Arisha i-ini—"
Arisha memotong perkataannya, raut wajahnya kembali datar bahkan kali ini terlihat lebih menyeramkan. Gadis itu seperti memiliki dua kepribadian, sangat sulit ditebak.
"Itu? Itu kan, yang mau lo denger dari gue?" tanya Arisha tertawa pelan. "Cuma perempuan yang gak punya otak, ngasih kesempatan buat cowok brengsek kayak lo."
Darka diam menunduk, Arisha tidak mungkin begitu mudahnya memberinya kesempatan.
"Ah, gue punya pertanyaan buat lo," lanjut Arisha.
"A-apa?"
"Berapa kali lo panggil gue jalang? Berapa kali lo minta gue mati, dan berapa kali lo hancurin kepercayaan gue?"
Setiap ucapannya mampu membuat Darka bungkam. Saat ini Darka bahkan tidak memiliki keberanian hanya untuk menatap Arisha.
"Berapa kali lo sakitin gue, berapa kali lo injak harga diri gue, Darka! Jawab gue!" teriak Arisha tubuhnya bergetar hebat.
"Permasalahan kita, emang berawal dari kesalahpahaman. Tapi itu semua terjadi karna lo yang menutup mata! Bukan cuma kebenaran, lo bahkan gak pernah sadar kalo gue selalu berdiri di samping lo walaupun lo benci sama gue!"
Darka mengangkat kepalanya, menatap kedua mata yang tersirat kemarahan di dalamnya. "Arisha, maaf. G-gue gak bisa kayak gini Arisha, gue gak bisa ngeliat lo benci sama gue. Gue gak sanggup, Arisha."
Arisha tersenyum miring. "Posisi lo sekarang, belum sebanding dengan apa yang lo lakuin ke gue, Darka."
"Cinta? Lo cinta sama cewek yang pernah lo sakiti? Lo yakin itu cinta? Nyatanya, pernyataan cinta lo gak bisa buat gue luluh. Bagi gue, pernyataan cinta lo adalah musibah buat gue."
Hatinya terasa mencelos. Jujur, Darka tidak menyangka Arisha akan mengucapkan kalimat yang cukup terbilang menyakitkan.
"Gue lebih baik mati, daripada harus nerima perjodohan ini, Bitch," ucap Arisha pada Darka mengingatkan perkataan laki-laki itu kepadanya waktu lalu.
"Inget? Kalo gitu kenapa lo gak mati aja sekarang? Perlu bantuan? Gue bisa dorong lo ke tengah jalan, buat lo jatuh dari atas gedung, atau lebih mudahnya, gue bisa kasih racun ke minuman lo. Gimana?"
Cinta? Laki-laki seperti Darka mampu mencintainya? Benarkah? Tidak, Arisha tidak mempercayainya. Rasa sakitnya masih terasa, dan Darka dengan mudahnya menyatakan cinta kepadanya seolah tidak ada yang terjadi? Arisha tidak sebodoh itu, Arisha tidak bodoh untuk membalas cinta dari laki-laki yang menyakitinya.
"Come on. Sadar, Darka. Posisi kita berubah sekarang, jadi biarin gue ngeliat lo tersiksa lebih dulu," kata Arisha menyeringai.
Arisha melangkah pergi, namun saat berdiri tepat di samping tubuh laki-laki itu. Arisha berbisik sebelum melanjutkan langkahnya. Sebuah perkataan, yang mampu menghancurkan jati diri Darka.
"Gue lebih baik mati, daripada harus nerima cinta dari lo, Darka," bisik Arisha.
Karena baginya, menerima cinta Darka sama saja seperti menggenggam duri di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Fiksi Remaja"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)