P A R T 3 2

47.2K 3K 1.1K
                                        

Okey, author double up lagi nih! Doa'in aja semoga sering double up yaa😂 Cara mudahnya spam next sebanyak-banyaknya, siapa tau besok double up lagi maybe?

Komentar setiap paragraf yaa, klik bintangnya jangan lupa, dan bantu share cerita ini ke medsos kalian yaaaa❤

Happy Reading❤


“Pacar kamu kayaknya sayang banget ya? Sampe rela donorin darahnya buat kamu.”

Arisha menoleh ke arah suster yang
memeriksa infusannya. “M-maksud Suster?”

Suster itu menoleh. “Iya, pacar kamu donorin darahnya bahkan setiap hari dia nungguin kamu bangun. Cepet sembuh, ya? Saya tinggal dulu.”

Arisha terdiam menatap kepergiannya, dan berpikir ... mungkinkah itu Rey? Tanpa sadar, Arisha tersenyum tipis.

Namun, hingga tak lama Rey mengatakan bahwa Darka lah yang memberikannya donor darah. Saat itu pula, senyuman dan perasaan hangat Arisha perlahan hilang begitu saja.

Prang!

Arisha melempar sebuah kotak musik dengan penuh amarah hingga berakhir mengenaskan. Bersamaan dengan Darka yang baru saja membuka pintu ruang rawatnya. Darka menunduk, menatap kotak musik yang sudah pecah lalu beralih memandang Arisha yang terduduk di brankar dan juga menatapnya dengan sorot yang sangat tajam.

Tanpa diketahui, Arisha meremas kuat selimut yang ia kenakan. Percayalah, tubuh Arisha masih belum sepenuhnya pulih. Gadis itu masih merasa lemah namun kemarahan menguasainya tepat saat memandang kotak musik yang seharusnya tidak pernah berada di sana.

Tatapan keduanya bertemu, mereka memandang satu sama lain dengan sorot arti yang berbeda. Namun saat ini Darka menyadari karena mendapatkan tatapan berbeda dari Arisha. Ralat, sangat berbeda. Ini pertama kalinya Arisha memandangnya seperti memendam ... kemarahan?

Darka melangkah mendekati gadis itu. “Arisha—”

“Pergi,” tegas Arisha menyorot tajam kedua mata Darka.

“Arisha gue—”

“PERGI!” teriak Arisha kali ini tatapannya lebih tajam. “GUE BILANG, PERGI! LO TULI HAH!”

Langkah laki-laki itu sontak terhenti, hatinya mencelos menyadari fakta Arisha benar-benar tidak ingin melihatnya. Deru napas Arisha tidak beraturan, disisi lain Arisha berusaha menutupi rasa sakit dikepalanya yang tiba-tiba terasa pening.

Darka tidak pergi, melainkan bersimpuh seraya memohon pada Arisha. “Arisha, maaf. Maafin gue, g-gue nyesel, Arisha. Pukul gue, tampar gue sebanyak yang lo mau, tapi gue mohon maafin gua, Sha.”

Arisha melepas infusan dengan kasar, tidak peduli darah yang mengalir dari punggung tangannya. Arisha mendekati Darka saat laki-laki itu berdiri menyadari Arisha yang mendekat. Sampai akhirnya Arisha mendorong Darka agar segera pergi.

“Pergi! Pergi dari sini! Gue gak mau liat lo lagi, brengsek!”

Darka berangsur mundur karena Arisha terus mendorongnya, namun tak lama ia berhenti ketika ingin mencapai pintu. “Arisha, gue mohon—”

“Apa? Mohon? Mohon, lo bilang?” Arisha tersenyum miris lalu memundurkan langkahnya, Arisha sontak menyentuh sisi brankar ketika tubuhnya terasa akan tumbang.

“Arisha—”

“JANGAN SENTUH GUE!” sentak Arisha ketika Darka mencoba menahan tubuhnya.

“Buat apa lo di sini? Buat apa permohonan maaf lo? Selama ini lo kemana hah?” tanya Arisha suaranya bergetar menahan tangis, rasa sakit dalam hatinya masih sangat nyata.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang