Jam berapa kalian baca part ini?
Siapa yang berharap karma cepet-cepet datang buat Darka? Tahan, Author juga sudah greget sama Darka :D
Ada yang ingin disampaikan untuk Darka? Comment di sini!! Jangan lupa klik bintang dan spam next biar Author tambah semangat! Happy Reading❤
Suasana mencekam, lagi-lagi Arisha berada di ruangan yang paling dihindari oleh siswa lain. Ruang BK, pertengkaran dengan Darka tadi ternyata sampai ke telinga guru killer itu. Dengan tatapan menyelidik, Bu Rima dan Pak Bagas menatap mereka dengan bergantian.
"Arisha, Darka, baru kemarin kalian saya hukum dan sekarang kalian kembali buat ulah?" Kali ini Bu Rima beralih menatap Darka.
"Darka, apa kamu tidak malu bertengkar dengan perempuan seperti itu?"
Kini Pak Bagas yang bersuara. "Darka, tidak biasanya kamu sering bertengkar dan sering masuk ke ruang BK. Sebenarnya apa apa?"
"Kamu juga, Arisha. Kamu itu murid pindahan, bahkan belum sebulan di sekolah ini. Jika kamu tidak ada perubahan, terpaksa pihak sekolah akan mengeluarkan kamu," lanjutnya namun tetap tidak ada yang menjawab di antara mereka. Arisha terlonjak kaget saat Pak Bagas memukul meja cukup keras.
"Kalian dengar saya tidak!" bentak Pak Bagas.
"Maaf, Pak," sesal Arisha.
Bu Rima membuka laci lalu mengambil dua amplop dan memberikannya pada Darka dan Arisha. "Berikan ke orang tua kalian. Saya rasa, saya harus berbicara dengan orang tua kalian."
Arisha hanya menatap amplop putih yang berada diatas meja tanpa berniat mengambilnya di saat Darka sudah menerima amplop itu.
"Saya permisi." Arisha bangkit dari duduknya tanpa mengambil amplop itu. Darka yang menyadari itu segera mengambilnya dan menyusul Arisha setelah mendapat anggukkan dari Bu Rima.
Setelah ke luar Darka melihat punggung Arisha yang menjauh, ia mempercepat langkahnya. Menarik Arisha dan memberikan amplop itu ke genggamannya. Tetapi Arisha menyentaknya.
"Gue gak butuh," kata Arisha berniat pergi tetapi Darka mencekal kuat lengannya.
"Apa susahnya sih ngambil ini doang?" ketus Darka.
"Apa bedanya gue ambil surat itu apa enggak? Orang tua gue gak akan pernah dateng, jadi lebih baik lo buang surat itu."
"Maksud lo apa?" tanya Darka.
Arisha tersenyum tipis. "Apa peduli lo? Itu kan yang lo mau? Lo mau gue pergi dari sini? Lakuin sesuka lo, gue gak peduli."
Darka tersenyum miring memandang kepergian Arisha. Rupanya kebencian, mulai tertanam di dalam diri Arisha.
*****
Darka meneguk minuman bersoda hingga tandas, pikirannya kacau. Tentu saja karena Arisha, akhir-akhir ini gadis itu selalu mengganggunya. Shit! Apakah tidak ada cara agar Arisha menghilang dari pandangannya?
“Masuk BK lagi lo?”
“Hm,” jawab Darka membalas pertanyaan Rey.
“Lo sebenernya punya masalah apa sih, Ka?” tanya Rey.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Novela Juvenil"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)