P A R T 0 6

37.7K 3K 70
                                        

"Arisha." Arisha membalikkan tubuhnya, memperlihatkan Seyna yang berjalan mendekatinya. "Lo apa kabar? Gue seneng kita bisa ketemu lagi."

"Gue baik-baik aja. Lo—" Arisha menarik lengan Seyna yang terbalut perban ditelapak tangannya. "Ini ... sorry, gara-gara temen gue lo jadi terluka kayak gini."

Seyna tersenyum. "Lo masih sama. Selalu minta maaf walaupun lo gak buat kesalahan."

Keduanya terdiam sejenak, entah mengapa keadaan menjadi canggung di antara mereka setelah sekian lama tidak bertemu. Tidak ada yang berubah dari Seyna, gadis itu masih ramah, dan hangat dalam berbicara.

"Lo tau? Selama ini gue pengen banget ketemu lo. Semenjak kecelakaan itu, semuanya jadi berubah kan, Sha? Karna itu juga gue harus nunda masuk sekolah sampai akhirnya gue jadi junior lo," tuturnya tertawa miris.

"Sey—"

"Gue tau, Arisha. Gue tau, saat itu lo yang berusaha nyelametin gue. Gue berhutang nyawa sama lo," ucap Seyna mengusap bahu Arisha.

"Dan soal Darka ... gue gak tau kenapa dia berubah kasar sama lo. Tapi lo harus tau, Darka yang kita kenal gak akan berubah gitu aja, Sha," lanjut Seyna.

Arisha mengalihkan pandangan ke arah lain, ia tidak memiliki keberanian untuk membalas tatapan Seyna. Kedekatan mereka saat dulu seperti memiliki hubungan darah. Siapa sangka, kini keduanya terlihat canggung hanya karna keadaan yang tidak memungkinkan.

"Gue janji sama lo, gue bakal berusaha biar Darka kembali kayak dulu. Begitupun persahabatan kita. Lo percaya kan sama gue?"

Arisha hanya diam membisu. Entahlah, apakah Arisha harus mempercayai sebuah hal yang mustahil akan terjadi.

*****

"Hai."

Pergerakan Arisha terhenti ketika seseorang bersandar pada pintu kelas dan menatapnya dengan senyuman menggoda. Arisha kembali melanjutkan memasukkan buku ke dalam tasnya. Arisha bahkan tidak menyadari jika orang itu sudah berada di hadapannya.

"Lo belum tau nama gue kan? Gue Remon, cowok yang suka sama lo."

Arisha hanya menatap Remon dengan datar, ia sama sekali tidak ingin membalas perkataan yang dilontarkan laki-laki itu.

"Gue duluan," kata Arisha yang berdiri ketika ingin pergi dari sana, namun Remon kembali berkata.

"Biar gue anter," ucap Remon.

"Gak perlu, gue bisa sendiri," balas Arisha kembali berjalan.

"Kalo Darka yang nawarin, apa lo tolak juga?" tanya Remon menaikkan sebelah alisnya. Arisha membalikkan tubuhnya hingga keduanya bertatapan. Suasana kelas sunyi karena hanya ada mereka berdua.

"Urusan gue sama Darka, apa lo harus ikut campur juga?" Arisha berbalik tanya.

"Gue gak tau sih seberapa deket kalian. Tapi dari yang gue liat, kalian lebih dari sekadar deket. Karna panggilan Darka yang manggil lo ...." Remon menggantungkan ucapannya seraya berbisik. "Jalang."

Apakah Remon mencoba mencari masalah dengannya? Ayolah, mereka tidak sedekat itu. Lantas mengapa Remon begitu lancang dengan mencampuri urusannya bersama Darka. Ya, tidak heran mengapa Darka sering berkelahi dengan Remon hanya karena masalah kecil.

"Gak usah basa-basi. Apa yang mau lo bicarin?" tanya Arisha.

"Jadi pacar gue."

Arisha tampak terkejut. "Apa?"

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang