Setelah keduanya terdiam, Darka justru tertawa mendengar penuturan Arisha. Ya, bagaimana bisa Darka percaya dengan fakta yang baru saja ia dengar.
“Adik? Seyna adik gue?” Darka meredakan tawanya, kini memandang Arisha dengan tatapan serius. “Sumpah, Sha. Bercandaan lo gak lucu.”
“Apa gue keliatan bercanda?” tanya Arisha membuat raut wajah Darka kembali datar.
“Kalian sedarah, Darka. Bahkan dunia sekalipun, gak akan bisa menyangkal hubungan kalian. Itu sebabnya gue bilang, lo harus temuin dia. Karna dia butuh lo, selama ini dia hidup sendirian,” lanjut Arisha.
“Sejak kapan lo tau?” Darka memandang Arisha dalam.
“Sejak gue pindah ke sekolah kita,” balas Arisha.
Darka menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Selama itu lo gak pernah ngasih tau gue? Lo—”
“Apa selama ini lo percaya sama gue? Apa selama ini lo peduli sama gue?” potong Arisha mampu membuat Darka terdiam.
“Gue pernah bilang, bakal ngasih lo kejutan kan? Ini yang gue maksud. Lo akhirnya tau hubungan lo dengan Seyna tepat saat lo benci sama dia. Apa yang lo rasain, Darka?”
“A-apa maksud lo?”
“Gue tau gimana perasaan lo saat ini. Lo rindu dia, tapi lo gak bisa peluk dia. Lo sayang dia, tapi lo gak bisa ada di sisinya,” ujar Arisha melangkah mendekati Darka.
“Lo pernah ngasih gue luka sedalam itu bahkan lebih menyakitkan, Darka.”
Darka tertegun, menatap netra Arisha yang terlihat merah bahkan berlinang air mata. Jujur, Darka tidak pernah menyangka Arisha akan berbuat sejauh ini.
“Ini yang gue rasain saat itu. Gue butuh lo, gue mau kita sedekat dulu, gue mau kepercayaan lo yang dulu. Tapi semuanya tertutup cuma karna kebencian lo.”
“Arisha, maaf.”
“Sekarang kita impas, Darka. Bedanya, orang yang lo benci adalah adik lo sendiri. Gue rasa, semuanya udah jelas sekarang,” ucap Arisha mengikis jarak mereka hingga dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Arisha tersenyum, sedikit berjinjit agar dapat berbisik padanya.
“Rasa benci yang lo tanam buat gue, sekarang ada di diri lo sendiri. Lo salah kalo selama ini anggap gue lemah. Karna gue, selalu berada satu langkah di depan lo,” bisik Arisha lalu memberikannya tatapan yang berbeda.
Darka menoleh ke arah Arisha, membalas tatapan gadis itu. Lagi, Darka tidak dapat menyiratkan arti dari tatapan Arisha yang diberikan kepadanya.
Kejadian ini membuat Arisha teringat pada kejadian buruk yang menimpanya. Kejadian di mana ia mengalami kecelakaan yang hampir merenggang nyawanya sendiri. Lebih tepatnya, ketika Arisha mendapatkan bukti akan keberadaan Seyna.
(Penjelasan part 27-kejadian sebelum Arisha mengalami kecelakaan)
Arisha berada di halte sembari mengeratkan jaket yang ia kenakan. Hari ini mungkin ia sudahi saja, taksi berhenti tepat di depannya. Ketika ingin membuka pintu, tatapan Arisha terkunci pada seorang gadis yang memakai hoodie yang sama yang ia lihat tepat Seyna membakar tubuhnya.
Tanpa menunggu Arisha segera mempercepat langkahnya. Gadis itu memasuki sebuah gang, Arisha mencekal lengan gadis itu hingga membuat penutup kepalanya terbuka. Wajahnya tampak terkejut saat tatapannya bertubrukan dengan Arisha.
“S-Seyna,” lirih Arisha.
Harapannya seolah runtuh begitu saja. Jujur, sebelum ini, Arisha masih berharap jika Seyna tidak benar-benar melakukan itu. Arisha berharap bahwa apa yang ia duga salah. Tetapi kenyataan, tidak berpihak padanya.
Seyna menyentak tangan Arisha yang mencekal lengannya. Seyna tersenyum miring, bersandar pada dinding sembari bersidekap dada.
“L-lo gak ngelakuin itu semua kan, Sey? Iya kan, Sey? Gue tau lo gak bisa ngelakuin itu,” ujar Arisha terbata-bata.
“Arisha-Arisha, gue kira lo itu polos, tapi ternyata gue salah,” ucap Seyna kini mendekati Arisha merapikan kerah baju yang dikenakan Arisha.
“Gue gak nyangka lo se-pinter itu. Padahal rencana gue, polisi nemuin bukti dan lo masuk penjara. Setelah itu gue muncul, dan bilang ke Darka kalo selama ini gue diculik sama lo. Gimana? Perfect kan?”
Arisha menggeleng tidak percaya. “E-enggak ... lo pasti lagi bercanda kan? K-kenapa lo ngelakuin itu? G-gue tau lo gak sejahat itu-“
“Lo mau tau satu hal? Gue benci lo, Arisha. Setiap gue ngeliat lo rasanya gue pengen bunuh lo, tapi itu terlalu mudah. Gue mau orang lain benci sama lo begitupun Darka. Tapi kenapa Darka masih peduli sama lo hah?! Bahkan disaat dia benci sama lo, tapi setiap kali dia gak sadar, dia selalu manggil nama lo, Arisha! Kenapa!” teriak Seyna.
Arisha memundurkan langkahnya, ia meremas tangannya sendiri. Bibirnya bergetar menahan agar tangisnya tidak pecah. Ini pertama kalinya Seyna berbicara begitu kasar kepadanya. Terkejut? Sangat. Arisha tidak pernah mengharapkan hal ini dari Seyna.
“Gue yang salah. Harusnya waktu itu gue gak usah pura-pura nolongin lo. Mungkin hari ini lo udah mati, Arisha!”
“M-maksud lo?” tanya Arisha.
“Kecelakaan satu tahun yang lalu, gue yang ngatur. Gue pura-pura nolongin lo. Karna dengan itu, Darka benci sama lo, Arisha. Seperti sekarang, Darka bahkan panggil lo jalang. Lo gak mau tau apa alasannya?”
Arisha hanya diam tidak menjawab, ia menunggu kelanjutan ucapan Seyna.
“Pelecehan.” Seyna menyeringai ketika menyadari tatapan ketakutan dari Arisha. “Gue yang nyuruh orang-orang itu buat lecehin lo, Arisha. Gue juga tau, selama lo menghilang lo selalu konsumsi obat buat ngilangin trauma lo, kan? Tapi sayang, Darka gak tau kejadian yang sebenernya.”
“Tapi yang Darka tau, lo yang dateng sendiri ke tempat itu. Darka bahkan ngeliat lo masuk ke tempat pelecehan lo itu. Mau tau kenapa gue ngelakuin itu? Gue cinta Darka. Gue cinta dia, Arisha! Kenapa lo gak bisa liat itu?”
“E-enggak. L-lo gak bisa cinta sama Darka. Gak bisa, Seyna. Kalian—”
“Gak bisa? Karna lo juga cinta sama dia? Ya, gue tau itu kok. Karna itu gue pengen lo mati,” desis Seyna melangkah maju hingga Arisha memundurkan langkahnya namun punggungnya terbentur dinding di belakangnya.
“Gak bisa, karna lo adiknya, Seyna! Darka kakak lo, dia kakak kandung lo. Itu sebabnya—”
Seyna tergelak tawa. “Kakak? Lo segitu cintanya sama Darka sampai bilang dia kakak gue, biar gue berhenti cinta sama dia? Wah, lo licik, Arisha.”
“Seyna, percaya sama gue—arghh,” ringis Arisha saat Seyna mencekik kuat lehernya, kedua tangan Arisha berusaha melepaskan tautannya di lehernya namun gadis itu semakin memperkuatnya.
“Lo banyak bicara, Arisha. Gue bakal nyingkirin semua yang halangin gue sama Darka. Cuma gue yang harus ada di hidup Darka. Cuma gue,” desis Seyna.
“Seyna l-lepas—” Arisha merasakan pasokan udara yang ia hirup semakin menipis, tatapan Arisha terkunci pada kalung bertuliskan nama Seyna yang dikenakan gadis itu. Tanpa Seyna ketahui tangan Arisha yang lain sudah berada di pindak gadis itu agar lebih mudah menariknya.
“Sampai kapan pun lo akan pernah bisa rebut Darka dari gue! Lo—arghh!” pekik Seyna saat Arisha menghantam tulang keringnya dan segera pergi meninggalkan Seyna yang meringis kesakitan.
Melihat kepergian Arisha, Seyna mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ketika tersambung, gadis itu segera berbicara.
“Bunuh seseorang buat gue, sekarang juga,” ucapnya dengan tatapan yang terus memandang punggung Arisha yang sudah semakin menjauh.
TBC
Ternyata selama ini Arisha gak diem aja. Karna terlalu banyak teka-teki lebih baik author undur diri. Sampai jumpa di next part (^▽^)
Ada yg berharap Arisha dan Darka baikan? Atau lebih baik mereka musuhan aja?
Yg mau sad end spam next di sini
Yg mau happy end spam next di sini
See you next chapter^^
Oktober, 2021
Remake, Mei 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Fiksi Remaja"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)