"Jadi Lee itu seorang agen polisi yang menyamar di perusahaan ini?! Daebak!" pekik Yuna. Kami makan siang di cafetaria yang berada di lantai bawah.
"Berarti dia sudah tidak bekerja di sini lagi?"
"Ya begitulah. Penyamarannya sudah usai, setelah kasus bandar narkoba itu," jelas ku.
"Pantas saja dia sangat dekat dengan manager, ternyata untuk kepentingan kasus saja."
Putra manager perusahaan kami, terbukti menjadi pemasok utama narkoba se-Asia. Itulah alasan Lee bekerja di sini. Dia terus memberikan kinerja yang baik, sehingga menjadi pusat perhatian kalangan atas. Lee sangat dekat dengan manager kami. Ternyata dia sengaja melakukan itu, karena mengincar putra tunggal keluarga kaya tersebut. Setelah kasus itu terungkap, manager kami mengundurkan diri.
Lee sudah tidak terlihat di kantor sejak beberapa hari lalu. Dia kembali ke pekerjaan sebenarnya, menjadi petugas polisi. Tapi aku masih sering bertemu dengannya, entah di tempat latihan atau sengaja makan bersama. Bagiku bertemu Lee adalah sebuah berkah. Dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri.
.
.
.
Bel pintu berbunyi beberapa kali, aku tergesa-gesa sambil berteriak agar tamu di luar menunggu sebentar. Segera saja jaket tebal kupakai, dan tidak lupa tas ransel kubawa serta. Hari ini Aku dan Lee akan pergi ke perayaan rumah baru salah satu pelatihku. Dia adalah Daniel Choi. Pria berumur 40 tahun itu sudah menikah dan memiliki dua orang putri serta seorang putra yang jarak umurnya tidak begitu jauh. Daniel dan Lee adalah sahabat sejak lama. Mereka berasal dari kampung yang sama, dan mengadu nasib di kota bersama. Walau jalan hidup mereka berbeda. Daniel memilih berprofesi menjadi pengajar bela diri saja. Dia pengajar yang baik dan sabar, tapi juga tegas. Istrinya Kim Rani, adalah guru di sekolah swasta. Putri mereka bernama Lin berumur 10 tahun, dan Min selisih satu tahun dari kakaknya, 9 tahun. Sedangkan Kim, putra bungsu, berumur 5 tahun.
Kami harus melewati hutan kecil sebelum sampai ke rumah Daniel. Suasananya cukup rindang, Daniel sangat pintar mencari lokasi tempat tinggal yang nyaman. Tak lama kemudian, sampai di sebuah rumah yang cukup luas. Hanya saja tidak ada rumah lain di sekitarnya. Benar-benar sunyi. Menenangkan. Atau mengerikan?
Mesin mobil dimatikan, Lee mengajakku turun. Baru berjalan beberapa langkah, pemilik rumah muncul dari balik pintu. Daniel menyambut kami dengan suka cita. Kami pun masuk ke dalam.
Suasana di dalam rumah sungguh nyaman. Aku akui rumah Daniel cukup mengesankan, walau berada di tengah hutan, jauh dari tetangga dan hiruk pikuk perkotaan. Tapi Daniel memang lebih suka suasana yang sunyi seperti ini. Aku pun sebenarnya suka suasana di sini, hanya saja terlalu sunyi cukup membuat pikiranku negatif, dan biasanya muncul keramaian lain nantinya.
Setelah pintu masuk, kami langsung diberikan pemandangan ruang tamu dengan tangga di tengah ruangan. Di samping kiri ada ruang santai dengan sofa besar serta tv layar datar yang cukup besar pula. Ruang tamu ini juga lebih besar dari ruang santai, di sebelah kanan ada sofa dan ada ruang yang kosong di antara pintu dan tangga. Lampu gantung yang menghiasi bagian atas, tampak membuatnya cukup megah dan elegan. Dapur ada di bagian belakang, pintu dapur berada tepat di sebelah tangga. Di lantai dua, hanya ada beberapa kamar tidur saja disertai balkon di tiap ruangannya.
"Silakan duduk," Daniel menyuruh. "Rani sedang pergi berbelanja untuk makan malam," tambah Daniel saat sadar aku mencari istrinya.
"Oh, baiklah. Rumah ini nyaman sekali, ya?"
"Yah, begitulah, Ines. Aku cukup beruntung mendapatkannya. Harganya cukup murah, apalagi dengan beberapa perabotan yang ditinggalkan."
"Murah?" tanyaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mirror : Death Note
HorrorInestia Rossi Sagala, mulai bisa melihat makhluk tak kasat mata sejak kecelakaan setahun lalu. Tak hanya itu, dia juga bisa mencium aura kematian seseorang. Dalam cermin, para hantu tidak akan bisa memanipulasi nya, karena bagi Ines, cermin tidak ak...
