Bab 31

20.1K 2.3K 151
                                        

Happy reading, semoga suka. Jangan lupa vote dan komen yang banyak ya.

Luv,

Carmen

___________________________________________________________________________

Zayyeed sengaja tidak mengejar wanita itu.

Sama seperti Hanaa, ia membutuhkan waktu untuk mengembalikan kontrol dirinya, menenangkan kekacauan dalam otaknya, mendapatkan kembali kontrol atas tubuhnya, meredakan gemuruh di dadanya dan entah apalagi.

Intinya, ia terguncang.

Tidak bisa dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Zayyeed terguncang karena sebuah ciuman sederhana. Kapan terakhir kali ia terbuai, terseret oleh gairah karena sebuah ciuman? Zayyeed tidak ingat ia pernah merasa demikian. Bahkan tidak sekalipun dengan Omaira.

Oh ya, ia mencintai Omaira, itu tidak bisa disangkal. Namun Zayyeed adalah pria yang lembut ketika bersama istri terdahulunya itu, gairahnya manis terhadap Omaira, sentuhannya lembut, nafsunya manis, ciumannya juga manis, bahkan cara mereka bercinta pun lembut dan manis, nyaris penuh kehati-hatian. Zayyeed selalu merasa bangga karena itu, ia merasa sudah mampu mengontrol dirinya dengan baik. Ia bahkan merasa menjadi suami yang sempurna. Itulah dirinya, pria yang mampu mengontrol tubuh dan pikirannya, yang bisa mengendalikan nafsu dan birahinya.

Tapi nyatanya, itu hanya terjadi sebelum ia bertemu dengan Hanaa.

Dengan Hanaa, semua berubah. Ia bahkan mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa segalanya terasa berbeda ketika bersama wanita itu? 

Zayyeed langsung menginginkan Hanaa kali pertama ia menatap wanita itu. Ia juga mengambil resiko, kesempatan bahkan mungkin ia akan berlaku sangat curang untuk menempatkan Hanaa di sisinya. Dan bukan saja ia kesulitan mengontrol tubuh dan pikirannya bila berkaitan dengan wanita itu, Zayyeed juga sadar bahwa Hanaa mempengaruhinya dengan cara yang membuatnya tidak lagi mengenali dirinya sendiri. Bila bersama Omaira, ia adalah pria yang lembut dengan gairah manis, maka bersama Hanaa, ia berubah menjadi monster lain. Kebutuhannya brutal, keinginannya liar, nafsunya penuh tuntutan dan ganas, sentuhannya tak lagi lembut, ciumannya meledak-ledak, api terasa menjilat tubuhnya sehingga Zayyeed kesulitan mengatasinya. Ia hanya memiliki satu pikiran ketika memeluk wanita itu - Zayyeed ingin segera memiliki Hanaa, ia ingin bergerak masuk dalam satu dorongan singkat, bergerak cepat dan menuntaskan semua kegilaan yang menguasai tubuhnya. 

Singkatnya, ia menginginkan Hanaa dengan cara yang tak pernah dialaminya, caranya menginginkan wanita itu berbeda dengan yang lainnya, tak ada yang seperti Hanaa, wanita asing yang hanya dengan tatapannya bisa menyalakan bara menakutkan di dada Zayyeed yang tangguh dan sekeras batu.

Hanaa jelas terlalu istimewa, hingga rasanya menakutkan. Dan Zayyeed butuh menjauh untuk mengontrol dirinya kembali. Tidak apa-apa membiarkan Hanaa pergi sekarang, mereka membutuhkan waktu. Lagipula, tak perlu terburu-buru, Hanaa akan memberinya kesempatan, lagi dan lagi. Karena hanya tinggal menunggu waktu sebelum wanita itu menyadari bahwa Zayyeed benar - mereka tercipta untuk satu sama lain, setidaknya tubuh mereka tercipta untuk satu sama lain, ketertarikan itu tak mungkin bisa diabaikan. Oh, Zayyeed tidak membicarakan cinta, definisi itu terlalu berat, lagipula cintanya hanya milik Omaira, tak mungkin ia bisa jatuh cinta lagi pada wanita lain, hal itu akan terasa konyol karena seseorang tidak bisa mencintai dua wanita sekaligus. Tapi tetap saja, walau hatinya milik Omaira, tapi tubuhnya yang masih panas dan dialiri darah tetap saja berdenyut untuk wanita yang raganya bisa ia cium dan peluk. Manusiawi, bukan?

Dan walau Zayyyeed bisa mendaftar seribu alasan kenapa ia sebaiknya menjauhi wanita itu, namun ia tahu bahwa ia bisa gila jika tidak berhasil mendapatkan Hanaa. Setelah semua yang dilakukannya, ia tak mungkin lagi melepas wanita itu. Ia juga bisa gila jika terlalu lama tidak melihat Hanaa, sehingga malam berikutnya, ia mendapati dirinya berkunjung kembali ke harem, menuju kediaman sang selir termudanya.

Hanaa sepertinya sudah berhasil mengubahnya menjadi jenis pria yang paling dihindarinya - tipe yang kehilangan akal bila menyangkut wanita.

Seperti yang sudah ia duga, Hanaa tidak memperlihatkan kegembiraannya, atau jika dia senang, maka wanita itu tidak memperlihatkannya. Namun Zayyeed bisa melihat rona tak biasa di wajah cantik tersebut dan walaupun mulutnya tak ramah, wanita itu jelas tidak berani menatap langsung kedua matanya.

"Kupikir kau akan senang melihatku lagi, Hanaa."

Zayyeed sepertinya mendengar Hanaa menggumam tapi wanita itu tidak mengatakan apapun yang cukup keras yang bisa ditangkap telinganya. Sebaliknya, kedua pelayan pribadinya tertawa cekikikan, jelas-jelas memiliki gambaran sendiri tentang alasan kedatangan sang raja. Selir mereka adalah sang favorit, mana mungkin mereka tidak senang?

"Anda terlambat, Yang Mulia. Selir baru saja menyelesaikan makan malamnya," ucap Nahla.

"Tidak apa-apa," jawab Zayyeed. "Aku tidak tertarik dengan makan malam."

Kalimat penuh arti itu tentu saja membuat Hanaa melotot menatapnya dan membuat kedua pelayan itu terkikik makin keras.

"Panggilkan para penari dan pemusik. Aku ingin menikmati hiburan dengan Selir malam ini." 

" 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
The Sheikh's Love-SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang