Ana-Maria Francise Taranu adalah seorang gadis muda penuh mimpi dari sebuah negara kecil di Eropa Timur yang bernama St. Monty. Demi impian dan cintanya, ia mengikuti sang kekasih untuk bekerja di sebuah negara eksotis berbentuk kerajaan di Timur Te...
Selamat Hari Raya IdulAdhabagisemuateman-teman yang merayakan.
And happy reading, semoga suka. Jangan lupa vote dan komennya ya.
Cerita inimemang slow burn ya, so just enjoy the ride, no rush.
Bab terbaru 54 sudah update di Karyakarsa. Bab inimengandungadegandewasa yang cocokuntuk 21+, jadisesuaikanusiamasing-masing ya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalian boleh follow saya di KK: carmenlabohemian
Enjoy
Luv, Carmen
________________________________________
Saat mereka kembali, hari sudah lewat tengah malam. Tapi keajaiban malam itu tetap tinggal, tidak menguap hilang seperti sihir dalam kisah Cinderella.
Dan sang pangeran tampan masih ada di sisinya, kembali pulang ke hotel bersama Ana-Maria.
Ralat, pria itu bukan pangeran tampan, dia seorang raja, seorang penguasa di tanah yang eksotis dan keras, dan kisah mereka jauh berbeda dari kisah Cinderella.
"Kau senang berada di sini?" tanya pria itu saat mereka tiba di suite.
Ana-Maria baru sadar kalau selama ini tangan pria itu diletakkan di lekukan pinggangnnya, seolah ingin meraup Ana-Maria sekaligus melindunginya. Ia baru sadar akan tekanan halus itu saat mereka sudah berdua di suite besar ini. Dan tiba-tiba saja Ana-Maria menjadi gugup.
"Y... ya, tentu saja."
"How 'bout tonight? Kau senang, Hanaa?"
Bisikan serak pria itu membuat Ana-Maria semakin gugup. Kedekatan mereka saja sudah membuat Ana-Maria merasa jengah dan salah tingkah, apalagi ditambah dengan bisikan pria itu dan panas napas yang membelai sisi wajahnya, mungkin karena itu juga ia jadi tidak bisa mengontrol ucapannya. Perasaannya yang kacau balau dan tak menentu telah mengacaukan segalanya di antara mereka.
"I... iya, kau juga tahu ini negara favoritku. Dulu Bru..."
Terlambat! Walaupun Ana-Maria menggigit lidahnya untuk menahan suku kata selanjutnya, Zayyeed sudah tahu. Betapa cerobohnya! Nama Bruce tabu di hadapan pria itu dan sekarang Zayyeed akan berpikir ia sengaja melakukannya. Ana-Maria seharusnya tidak peduli, seperti yang lalu-lalu, tapi kenyataannya ia memang mulai peduli. Ia mulai peduli pada apa yang dipikirkan pria itu.
Dan seperti dugaannya, mengucapkan nama Bruce seperti mantra penolak. Ana-Maria tidak percaya bahwa ia kecewa ketika tiba-tiba pria itu menurunkan tangannya lalu menjauh.
"Yang Mulia..." panggilnya, sedikit panik. Tolol memang, tapi itulah yang dirasakannya. Ana-Maria merasa bersalah karena telah menjadi penyebab hancurnya keajaiban kecil di antara mereka. Seolah sihir menakjubkan itu lenyap karena ucapannya. "Ma... maaf, aku tak bermaksud..."
"It's okay, Hanaa. Kau butuh waktu, aku mengerti."
Tapi pria itu menolak menatapnya, juga ucapannya terasa dingin.
"Kau boleh menggunakan kamar mandi utama untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, aku akan menggunakan kamar mandi satunya. Setelah itu lebih baik kita tidur, besok aku harus menghadiri pertemuan pagi-pagi. Kau ingin memanggil Nahla untuk membantumu?"
Entah kenapa, rasa bersalah itu berganti menjadi kekesalan. Mungkin karena Ana-Maria merasa pria itu memperlakukannya tak adil. Dia bahkan menahan Ana-Maria untuk menjelaskan apapun.
"Aku bisa sendiri," ketusnya agak tajam. "Aku belum cacat, Yang Mulia."
"Baiklah."
Lalu tanpa mengatakan apapun, pria itu berjalan ke kamar. Ana-Maria menyusul dan melihat pria itu meraup pakaian ganti yang sudah disediakan dan berjalan keluar kamar. Ketika melewati Ana-Maria, dia tak mengatakan apapun, juga berusaha untuk menjaga jarak agar tubuh mereka tak bersentuhan. Ana-Maria tahu pria itu marah tapi salah Zayyeed sendiri yang suka berpikiran picik. Ana-Maria takkan lagi meminta maaf, ia tak akan lagi mengatakan apapun. Pria itu boleh berpikir sesukanya.
Ana-Maria mandi singkat, mencuci wajah lalu berpakaian. Ia senang bisa mengenakan pakaian modern di sini, gaun tidur sutra abu yang dingin dan nyaman lalu pasangan kimononya. Saat ia keluar, pria itu sudah berbaring di ranjang. Dia lalu menatap Ana-Maria dan memberikan pujian basa-basi.
"Kau terlihat berbeda, Hanaa. Cantik."
Menurut Ana-Maria, pujian pria itu hanya setengah hati. Sama sekali tak tulus, malah terkesan sinis.
"Thanks," jawabnya lalu melaju ke sofa panjang di hadapan jendela besar.
"Kau belum ingin tidur, Hanaa?" tanya pria itu kemudian.
"Aku ingin duduk di sini dulu dan memandang Sungai Thames." Ana-Maria beralasan.
"Oh, terserah padamu saja."
Sialan pria itu.
Ana-Maria lalu duduk di sana dan menahan kantuk. Tapi ia tak sudi tidur seranjang dengan pria itu. Apa yang akan dilakukannya jika tiba-tiba pria itu memutuskan untuk menyentuhnya. Ana-Maria tidak mau. Ia tak mau disentuh pria itu di saat perasaan mereka berdua tak menentu.
Ana-Maria tidak tahu berapa lama ia duduk di sana memandangi Sungai Thames yang berkilau oleh cahaya. Telinganya menangkap dengkur halus pria itu dan merasa lega mengetahui bahwa pria itu sudah terlelap. Ana-Maria menurunkan kewaspadaannya dan lama-lama kantuk menjemputnya. Tak sadar, ia sudah berbaring di sofa panjang itu dan jatuh dalam alam mimpi.
Mimpinya meresahkan. Bayang demi bayang yang membuatnya cemas dan takut. Berganti-ganti. Tanpa visual yang jelas. Hanya perasaan tak tenang dan gelisah. Sampai pria itu tiba. Awalnya Zayyeed menatapnya tak suka. Dan Ana-Maria merasa sedih. Ia ingin berkata pada pria itu bahwa kali ini ia tak bermaksud menyakitinya tapi mulutnya terkunci.
Mengapa? Mengapa Zayyeed menatapnya seperti itu? Ana-Maria tak sanggup...
Maaf...
Ia merasa jatuh. Tapi ada tangan-tangan hangat yang menangkapnya lalu meraupnya. Ia merasa aman, setengah melayang, merasa nyaman saat tubuhnya terangkat dan Ana-Maria merasa... bahagia.