Ana-Maria Francise Taranu adalah seorang gadis muda penuh mimpi dari sebuah negara kecil di Eropa Timur yang bernama St. Monty. Demi impian dan cintanya, ia mengikuti sang kekasih untuk bekerja di sebuah negara eksotis berbentuk kerajaan di Timur Te...
Sial! Ia bahkan tidak ingin tampak gentar di depan pria itu.
Namun, begitu Zayyeed melepaskannya, ia tidak kuasa menahan keseimbangan tubuhnya dan ambruk ke bawah, jatuh terduduk di ubin taman. Dan bendungan air matanya bobol.
"Sial, sial, sial!" Ia menumbuk dadanya sendiri ketika sesak itu memenuhinya.
Ini bukan air mata takut, tapi lebih karena Ana-Maria marah, karena ia kesal dan frustasi. Siraman perasaan yang selama ini berusaha ditekannya dalam-dalam kini nyaris menenggelamkannya.
Ciuman kasar pria itu adalah pemicunya. Ana-Maria menangis marah sambil menghapus jejak ciuman pria itu dari bibirnya, menggosok kasar dengan jemarinya yang dingin dan gemetaran dalam usahanya untuk menghilangkan perasaan terhina tersebut. Itu jelas bukan ciuman, tapi terasa seperti hinaan, bahkan sesuatu yang lebih buruk. Rasanya menyakitkan, menyesakkan lalu perasaan itu diikuti perasaan yang lain.
Kemarahan.
Ya, ia marah sekali pada Zayyeed. Pria itu mempermainkannya. Tak pelak, Ana-Maria merasa terjebak. Bukankah pria itu berkata bahwa ia berada di sini semata-mata hanya untuk bersembunyi sementara mereka bekerja bersama membersihkan namanya. Bukankah sang raja menjanjikan hal tersebut padanya, dan berkata bahwa dia mempercayai Ana-Maria? Karena alasan itulah, ia menyetujui ide konyol untuk berpura-pura hidup sebagai selir pria itu.
Tapi, apa kenyataannya?
Dasar berengsek!
Zayyeed kini malah terang-terangan mengaku bahwa dia memiliki maksud tersembunyi, rencana licik yang membuat Ana-Maria bergidik takut.
What do i get in return?
Pria itu menginginkan sesuatu darinya, sesuatu yang spesifik, sesuatu yang membuat Ana-Maria sekarang menggigil ngeri. Betapa bodohnya ia! Ana-Maria percaya begitu saja pada Zayyeed dan membiarkan pria itu menuntunnya ke dalam jebakan. Ia memeluk dirinya sendiri ketika ingatan akan ciuman pria itu menguasai benaknya. Bibir pria itu menyerang kasar, kuat, tanpa rasa hormat apalagi kelembutan, perlakuannya brutal, penuh hinaan, membuat Ana-Maria merasa kecil dan tak berharga - tingkah pria itu memang persis seperti manusia barbar.