Bab 40 B

10.5K 1.5K 63
                                        

Happy reading, semoga suka.

Yang mau baca duluan, boleh ke Karyakarsa, sudah update part 51.

Yang mau baca duluan, boleh ke Karyakarsa, sudah update part 51

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Boleh follow saya dsana: carmenlabohemian

Luv,
Carmen

__________________________________________

"Yang Mulia!"

Sambil membentak terkejut, wanita itu berusaha mendorong bahu Zayyeed, menggeliat, mencoba lepas. Zayyeed hanya tersenyum kian lebar. Kelembutan dan kehangatan tubuh wanita itu akan membunuhnya tapi memeluknya seperti ini juga terasa seperti surga. "Apa yang kau lakukan?"

"Seperti katamu, mari beristirahat. Bersama."

Rona merah pelan menjalari wanita itu.

"Kau... kau salah paham, maksudku..."

"Sstt, diamlah. Kau ingin menjadi bahan gosip para pelayan?" tanya Zayyeed lalu mulai berjalan keluar dari ruang duduk. "Aku sudah pernah menggendongmu seperti ini, buat apa lagi kau merasa malu, Hanaa?"

Wanita itu menggigit bibirnya lalu memelototi Zayyeed sejenak. Tapi kemudian dia pasrah saat dia memeluk Zayyeed sedikit lebih erat. Dan Hanaa menyembunyikan wajah di dada Zayyeed hingga mereka tiba di kamar.

"Ini memalukan," bisik wanita itu.

"Kenapa harus malu?"

Hanaa hanya diam. Lalu Zayyeed menurunkan wanita itu di ranjang.

"Apa kau tak akan menatapku?"

Pelan, wanita itu mengangkat wajah. Zayyeed menunduk untuk meraih dagu wanita itu. "Katakan sejujurnya, apa kau sempat merindukanku?"

"Tidak juga," jawab Hanaa sambil mengalihkan tatap.

"Begitukah? Kalau aku, aku sangat merindukanmu, Hanaa."

Wanita itu kembali menatapnya tapi setengah mencibir.

"Kurasa Yang Mulia memang setiap hari merindukan para selirnya."

"Apa kau cemburu?"

"Tentu saja tidak. Para selir tidak dibolehkan saling cemburu, karena tugasnya cuma sama-sama melayani Yang Mulia."

Zayyeed terkekeh pelan. Dari mana wanita itu mendengar ucapan tersebut?

"Tak usah membohongi diri, kau tahu yang aku rindukan cuma dirimu, Hanaa."

Pelan, Zayyeed mengusap wajah Hanaa.

"Bolehkah aku menciummu?"

"Kenapa Yang Mulia bertanya? Kalau aku bilang tidak boleh, apakah Yang Mulia akan mendengarkan?"

"Tentu saja tidak," jawab Zayyeed.

Tangan Zayyeed bergerak ke belakang Hanaa, jari-jarinya terbenam dalam rambut harum wanita itu dan ia mendongakkan wajah Hanaa seketika. Saat bibirnya turun untuk menjelajahi bibir Hanaa, tak ada keberatan yang terucap. Zayyeed menghirup aroma Hanaa dan mencecap bibir wanita itu yang manis. Dalam satu helaan napas lembut, Hanaa membuka bibir dan Zayyeed dengan senang hati menyelipkan lidahnya ke dalam. Mulut Hanaa hangat dan mengundang, dia manis seperti madu dan memabukkan seperti alkohol terlarang. Segala yang ada pada wanita itu berbeda dari yang pernah Zayyeed temui dan karenanya, api yang membakar dada Zayyeed bertambah besar. Ia menarik Hanaa berdiri lalu memeluk wanita itu, menyukai rasa tubuh lembut itu yang menempel di tubuhnya yang keras dan panas.

"Hanaa..." bisiknya dalam mulut wanita itu. "You'll be the death of me."

"Jadi Yang Mulia masih menginginkanku?" bisik Hanaa.

"You're the only thing i want more than life."

Entah sejak kapan, Hanaa sudah menguasai seluruh akalnya, seluruh dirinya. Zayyeed hanya bisa pasrah.

Ciuman mereka berlanjut, dalam dan liar. Hanaa yang pasrah membuat Zayyeed semakin bergairah. Tahu-tahu, ia sudah membaringkan wanita itu di kasur dan menindihnya. Mulutnya mencari-cari, turun ke sisi leher Hanaa dan mengisapnya keras. Tangan-tangannya ikut mengusap wanita itu.

"Ooh!"

Suara Hanaa yang manis laksana musik terindah dan jantung Zayyeed berdebar kian hebat.

Jika dituruti, Zayyeed ingin merobek pakaian wanita itu dan menempelkan kulit telanjang Hanaa ke tubuhnya sendiri tapi ia tak ingin Hanaa ketakutan. Mulutnya kini terus turun, menciumi dada Hanaa dari balik pakaiannya.

"Yang... Oh! Yang Mulia!"

Ia mengangkat wajah menatap wanita itu.

"Tell me, Hanaa. Katakan ya dan aku akan membiarkanmu merasakan bagaimana rasanya menjadi milikku," desak Zayyeed.

Wanita itu hanya melenguh.

"Aku ingin menatap dadamu." Zayyeed meremas lembut. "Dan merasakan puncak-puncak kerasnya di dalam mulutku."

Kali ini Hanaa menggeliat, tanpa sadar mendesakkan diri sementara Zayyeed menatapnya dari atas.

"Katakan ya," bisik Zayyeed lalu tangannya mulai bergerak ke belakang tubuh Hanaa untuk meraih risleting. "Aku ingin menciumi seluruh tubuhmu, Hanaa."

Zayyeed pikir Hanaa akan menyerah. Tapi di saat terakhir sebelum Zayyeed menarik risleting pakaian wanita itu, Hanaa membuka mata dan menatapnya. Wanita itu tampak terguncang. Tapi sinar di matanya juga menampakkan penyesalan halus.

"Jangan sekarang, Yang Mulia. Aku... aku belum siap. Give me time."

Zayyeed mengerti. Mungkin ini memang terlalu cepat. Ia akan menunggu. Ia sudah menunggu lama. Pada Hanaa, ia tersenyum.

"Aku mengerti. Let's stop here. Seperti janjiku, kita pelan-pelan saja."

Hanaa tampak lega.

"Tapi aku akan tidur di sini dan memelukmu sepanjang malam."

Ekspresi Hanaa seolah dia keberatan. Tapi Zayyeed tak peduli. Ia tahu ia tak akan bisa tidur semalaman. Tapi ini lebih baik daripada harus berjauhan dengan Hanaa.

Mulai dari sekarang, ia tak akan membiarkan Hanaa tidur sendirian.

The Sheikh's Love-SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang