Dua puluh tujuh

33.1K 3.4K 201
                                        

Happy reading yaa.

Semoga sukaa, jgn lupa vote dan komennya ya. Dan yes, walaupun saya sering ga fast update, but i already and will try my best, jadi bersabar ya dan terima kasih selalu menunggu cerita ini. I write for you, my readers 😍😍😍

Oh, sekalian info ya, bagi yang mau ebook terbaru saya, sila ke playstore ya, search aja sesuai keyword di bawah.


Thanks for the support, so i can keep writing.

Stay safe and healthy.

Luv,
Carmen
______________________________

Empat hari kemudian, dengan perasaan lega karena pria itu tidak pernah datang lagi, Ana-Maria akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Aaliyah. Mengapa ia mengambil inisiatif? Karena wanita itu tidak datang lagi. Dan terus terang, Ana-Maria merindukan Aaliyah.

Apakah dengan absennya kunjungan sang sahabat baru, maka berarti persaingan di harem telah dimulai?

Tidak, itu alasan yang berlebihan. Karena selain Aaliyah, semua selir yang lain memperlakukannya dengan biasa. Ana-Maria menghadiri satu kali jamuan makan siang dengan selir pertama, dan walaupun wanita itu agak kaku, tapi dia memperlakukan Ana-Maria dengan baik. Satu kali jamuan makan siang bersama Ameera yang ceria dan bersemangat lalu satu kali jamuan sore bersama beberapa selir lain di taman Istana Harem.

Tapi Aaliyah tidak pernah tampak di acara-acara tersebut, dan Ana-Maria merindukan perbincangan mereka yang sederhana dan apa adanya. Ia rindu merasakan ketulusan dalam kata-kata dan seperti pendapat awalnya, ia menyukai Aaliyah.

"Anda ingin berjalan kaki ke tempat Selir Aaliyah, My Lady?"

"Kenapa tidak boleh?" tukas Ana-Maria pada Nahla.

"Tapi..."

Ia mempercepat langkah, meninggalkan kedua pelayan pribadinya yang kini terburu mengejarnya dari belakang.

Aaliyah - seperti yang Ana-Maria bayangkan - terkejut menerima kedatangannya.

"Selir Hanaa..." Dia datang menyambut Ana-Maria, sedikit tergopoh ketika pelayannya menyampaikan kedatangan Ana-Maria. "Apa yang membawamu ke sini?"

Ana-Maria tersenyum dan berjalan mendekati Aaliyah. "Apa aku tidak boleh mengunjungimu?" tanyanya geli.

Aaliyah segera menggeleng. "Oh! Tidak, kau salah paham, aku hanya..."

Ana-Maria mengulurkan tangan dan meremas jari-jemari Aaliyah. "Aku tahu. Aku hanya merindukanmu, Aaliyah."

Senyum muncul di wajah cantik tersebut. "Aku juga, Selir Hanaa."

"Karena kau tidak datang berkunjung, jadi aku memutuskan datang dan menanyakan kabarmu."

Aaliyah menggandeng lengan Ana-Maria dan membawanya ke dalam. Sebelumnya, ia tidak berkunjung ke kediaman Aaliyah, tapi tempat itu hampir seluas kediamannya, minus taman di dalam bangunan seperti yang dimilikinya. Mereka duduk di ruang tamu luas dan berangin dan para pelayan menyediakan kue-kue dan minuman teh khas racikan Zaazabyeer.

"Jadi, apa yang membuatmu sibuk beberapa hari ini?" Ana-Maria memulai, setelah mencoba salah satu jenis kue berlumur manisan kental, yang menurut Aaliyah adalah salah satu kue khas milik sukunya. "Kupikir, kita sepakat kalau kau akan mengajariku cara merajut khas Zaazabyeer."

"Maaf... Selma... dia jatuh sakit."

Selma? Oh, kucing Persia kesayangan Aaliyah.

"Oh, ya ampun... apakah dia baik-baik saja?" Ana-Maria bertanya cepat.

"Ya... ya, dia... beberapa hari ini dia menolak untuk makan," ujar Aaliyah murung.

"Apa... apa ada semacam dokter hewan di tempat ini?"

Aaliyah mengangguk. "Ya, dia sudah diberi obat. Tapi keadaannya masih lemah, jadi aku tidak ingin meninggalkannya."

Tentu saja, ucap Ana-Maria dalam hati. Kucing Persia itu kesayangan Aaliyah, bisa dibilang satu-satunya teman setia wanita itu sebelum Ana-Maria datang ke tempat ini, terlebih itu hadiah dari si mesum, orang yang dikagumi Aaliyah luar-dalam.

"Aku turut prihatin. Kuharap dia cepat sembuh. Apa ada yang bisa kulakukan untuknya?" Ana-Maria tidak yakin ada sesuautu yang bisa dilakukannya untuk Selma tapi ia merasa harus bertanya.

"Oh, tidak perlu, sungguh. Perhatianmu sudah cukup, Hanaa. Ini... ini pertama kalinya aku... kau tahu, menerima perhatian semacam itu," jelasnya malu.

Ya, Aaliyah selalu sendirian di tempat ini, sebelum ia datang. Jadi, Ana-Maria mengerti perasaannya.

"Terima kasih sudah datang," lanjut Aaliyah tulus. Wanita itu menatapnya dan tersenyum simpul. "Maaf aku tidak mengunjungimu, selain karena Selma, aku juga segan mengganggumu."

"Huh?"

"Mengganggumu dan Yang Mulia," sambung Aaliyah lagi, malu-malu.

Ana-Maria tidak tahu kenapa ia harus merona merah. Sambil memaki dirinya sendiri, ia menanggapi kata-kata Aaliyah dengan nada melengking tidak biasa. "Kenapa kau berpikir seperti itu?!"

"Maksudku, kau membutuhkan lebih banyak waktu bersama Yang Mulia," Aaliyah buru-buru menjelaskan. "Dan... dan rasanya aneh bila aku ada di sana ketika Yang Mulia datang. Jadi kupikir, lebih baik aku menghindar beberapa lama, kau tahu, memberimu waktu untuk... kau tahu... bersama Yang Mulia."

This is so awkward.

"Apa... apa kau marah?"

"Marah?" tanya Aaliyah bingung.

"Kecewa?"

Alis wanita itu bertaut.

"Cem... cemburu?"

"Oh, tentu saja tidak," tukas Aaliyah. "Kenapa aku harus cemburu?"

Ini adalah pembicaraan yang sangat, sangat aneh, menurut Ana-Maria. Tapi ia tidak bisa menepis pengetahuan bahwa Aaliyah sangat mencintai pria itu dan mengetahui bahwa pria itu menginginkan Ana-Maria membuatnya merasa bersalah.

"Aku... kau mencintai Yang Mulia."

Kali ini giliran Aaliyah yang merona merah. "Hanaa... kita, kita adalah selir Yang Mulia, semua wanita di tempat ini mencintai Yang Mulia tapi sungguh, aku tidak pernah cemburu. Apalagi kepadamu. Malah kuharap, dan aku bersungguh-sungguh, kau akan terpilih menjadi Ratu Zaazabyeer."

Itu tidak mungkin dan itu tidak akan pernah terjadi.

"Kau tahu... aku juga berharap hal yang sama, kalau kaulah yang akan terpilih menjadi Raru Zaazabyeer, Aaliyah."

Anehnya, wanita itu tertawa pelan dan menggeleng. "Itu tidak mungkin terjadi, Hanaa."

Ana-Maria tidak ingin membahas masalah itu lagi dan menepikan topik tersebut dengan cepat. Ia datang ke tempat ini untuk berbincang dengan teman. Setelah menghabiskan semua kue dan minuman yang disajikan dan sebelum malam menjadi terlalu larut, Ana-Maria memutuskan untuk kembali ke kediamannya, dengan janji ia akan datang keesokan sore.

Tapi harapannya untuk tidur tenang malam itu buyar. Ketika ia pulang, pria berengsek itu ternyata sudah menunggunya di sana.

How unlucky!!!

Kali ini, apalagi yang diinginkan pria itu!!!

The Sheikh's Love-SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang