Ana-Maria Francise Taranu adalah seorang gadis muda penuh mimpi dari sebuah negara kecil di Eropa Timur yang bernama St. Monty. Demi impian dan cintanya, ia mengikuti sang kekasih untuk bekerja di sebuah negara eksotis berbentuk kerajaan di Timur Te...
Happy reading, semoga suka ya. Jangan lupa vote dan komen ya.
Lanjutan bab 37 - bab 44 ada di karyakarsa ya.
Yang terbarusudah update, bab 43-44
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading.
Luv, Carmen
__________________________________________
Prev:
Kalau aku menciummusekarang, apakah kau bisadengantegasmengatakanbahwa kau tidakmerasakanapapun?
..........
Ucapan Zayyeed membuat wanita itu tampak kehilangan pijakan. Zayyeed kini makin mendekat, begitu dekat sehingga ia bisa merasakan panas napas wanita itu dan mendengar dengan jelas napas Hanaa yang memburu. Bahkan rasanya ia bisa mendeteksi debar jantung Hanaa yang memukul hebat.
“Should we try again?” bisiknya di atas bibir Hanaa yang bergetar.
“Yang Mulia… please…”
“Yes, aku ingin mendengarmu memohon seperti itu, Hanaa,” bisik Zayyeed lagi, kali ini ketika berbicara, bibirnya menempel halus di atas bibir lembut Hanaa. Ia bisa merasakan getar wanita itu di kulit bibirnya dan Zayyeed mengecup pelan seolah ingin menyerap segala keraguan Hanaa. “Buka dirimu dan biarkan aku masuk, Hanaa.”
Hanaa tak menjawab. Tapi wanita itu memejamkan mata saat bibir Zayyeed mulai berkelana. Ia mengecup ringan, berusaha tak terburu-buru, berusaha membuat Hanaa terbiasa. Ia tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama, bahwa gairahnya yang besar sudah membuat Hanaa takut. Demi wanita itu, Zayyeed akan pelan-pelan. Walau ia harus menahan segala kebutuhan yang membakar semua organ dalamnya, Zayyeed rela. Rasanya akan sebanding bila ia mendapatkan kepercayaan wanita itu. Rasanya akan sebanding bila pada akhirnya Hanaa membuka diri dan membiarkannya masuk. Zayyeed akan menikmati proses itu, bagaimana ia akan membuka pertahanan Hanaa selapis demi selapis, merayu wanita itu keluar dari cangkang tebalnya sebelum kemudian menjadikan wanita itu miliknya seutuhnya.
Sial! Berpikir seperti itu di saat bibir mereka bertaut bukanlah hal baik. Zayyeed bisa merasakan dorongan gairahnya bangkit mendadak. Dengan cepat ia menjauh dan Hanaa membuka mata bingung.
Zayyeed mengelus wajah Hanaa pelan sebelum menjauhkan diri. Ia berusaha mengatur napas juga debaran jantungnya sendiri. Wanita itu benar-benar membuatnya hilang akal. Satu ciuman ringan seperti ini saja bisa membuat napas Zayyeed sesak.
“Katakan Hanaa, apa kau merindukan keluargamu? Kakakmu?” tanyanya ketika napasnya sudah teratur.
Hanaa langsung menegang. “Tentu saja,” jawab wanita itu singkat, nyaris muram, dan ia tahu wanita itu tengah menyalahkannya.
“Aku bisa mempertemukanmu dengan mereka.”
“Jangan membohongiku!”
“Tidak, Hanaa. Aku bersungguh-sungguh.”
“Mengapa kau ingin melakukannya? Yang Mulia sendiri yang berkata bahwa aku dilarang bertemu siapapun, bahwa aku harus hidup terpenjara di sini, bersembunyi dari semua orang bahkan keluargaku. Kenapa sekarang Yang Mulia berubah pikiran?”
“Karena aku ingin kau tahu bahwa aku tidaklah seburuk yang kau bayangkan, Hanaa. Dan kau juga tahu, kau ada di sini untuk keselamatanmu sendiri.”
Hanaa masih tampak sulit percaya tapi dia tidak mengatakan apapun.
“Aku bersungguh-sungguh, Hanaa.”
“Aku bisa bertemu kakakku?” tanya Hanaa lagi setelah ragu sesaat.
“Ya,” tegas Zayyyed.
Dan ia bisa melihat mata Hanaa yang kini melebar cerah. Ada secercah bahagia menyelinap di sana dan dada Zayyeed terasa menghangat. “Kau… kau bersungguh-sungguh? Aku bisa bertemu kakakku? Kau mengizinkannya? Kau tidak bohong? Kau tidak akan berubah pikiran?”
Zayyeed menggeleng. “Tidak, aku tidak sedang berbohong. Aku sungguh-sungguh.”
“Asal kau tahu, aku benci sekali dengan pembohong, Yang Mulia.”
Hampir saja Zayyeed tidak bisa menahan mulutnya dan berkata pada Hanaa bahwa jika memang begitu, dia seharusnya membenci Bruce Landon sampai ke sum-sum tulangnya. Untungnya, Zayyeed berhasil mengendalikan diri. Sebagai gantinya, ia bahkan tersenyum lembut pada Hanaa dan mengucapkan janji yang ia tahu mungkin tidak akan bisa ditepatinya. “Kalau begitu, aku tidak akan pernah membohongimu, Hanaa.” Tapi satu hal yang pasti, Zayyeed tidak akan pernah mencelakai Hanaa.
“Kapan kalau begitu?” tuntut wanita itu cepat.
“Minggu depan, ikutlah bersamaku. Setelah urusanku selesai, aku akan mempertemukanmu dengan keluargamu, Hanaa.”