Ana-Maria Francise Taranu adalah seorang gadis muda penuh mimpi dari sebuah negara kecil di Eropa Timur yang bernama St. Monty. Demi impian dan cintanya, ia mengikuti sang kekasih untuk bekerja di sebuah negara eksotis berbentuk kerajaan di Timur Te...
Happy reading, semoga suka. Yang mau baca lebih cepat boleh silakan ke Karyakarsa ya, sudah update sampai bab 88, and bagi yang membaca bab2 baru ini, please be nice to Zayyeed, just follow the flow, okay karena konfliknya udah mulai muncul. Ikutin saja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yang mau baca bab 56 yang lebih komplit dan hot, kalian boleh ke Karyakarsa aja ya, but di wattpad juga saya rasa sudah cukup oke kok.
Anyway, happy reading, thanks selalu bersabar, i will update till end kok.
Saat Hanaa mencondongkan wajah ke arahnya, Zayyeed menerimanya sebagai sinyal. Ia tidak akan menahan diri lagi. Tidak ada permainan. Tidak ada lagi kepura-puraan. Mereka sudah menelanjangi perasaan mereka masing-masing, dengan jujur mengakui apa yang mereka inginkan dan harapkan jadi kini saatnya menelanjangi pakaian mereka berdua.
Zayyeed menunduk untuk menyambar mulut Hanaa dengan lapar, menciumi wanita itu dengan segenap gairahnya yang berusaha menyeruak keluar. Sudah terlalu lama, sudah terlalu lama ia menahan diri. Bibirnya menyerang Hanaa dengan agresif, mencium dan mengisap bibir bawah Hanaa yang penuh, menggigit sampai wanita itu mengaduh terkejut lalu membuka mulutnya. Hanaa berusaha mengimbangi sebaik mungkin, lidah wanita itu menyambut Zayyeed, saling melilit dan menarik bersama sementara gairah memuncak hingga ke kepala Zayyeed. Ia tidak bisa menghilangkan pikiran ini dari benaknya, bahwa ia akan memiliki wanita itu malam ini, setelah menunggu sekian lama.
Hanaa...
Hanaa-nya yang cantik dan manis.
Hanaa-nya yang terasa lebih harum dari wangi bunga terbaik dan lebih manis dari madu berkualitas terbaik.
Hanaa... She will be his. And his only.
Zayyeed lalu melingkarkan lengan-lengannya ke sekeliling Hanaa, mengangkat wanita itu pelan saat bibirnya terbenam dalam di bibir Hanaa, mereka berciuman seolah hidup mereka bergantung pada hal itu. Ia kemudian menjauhkan bibir, menelusuri sepanjang garis rahang Hanaa yang halus, mendengar desahan tertahan wanita itu saat ia menempelkan mulutnya di sisi leher Hanaa yang harum dan mengisap kulit lembut wanita itu.
"Aaahhh..."
Erangan Hanaa seperti nyanyian musik yang paling lembut tetapi juga memabukkan jiwa...
Zayyeed mengangkat Hanaa lebih tinggi lalu menempelkan tubuh bawah wanita itu ke kejantanannya yang keras. Lalu ia mulai berjalan mendekati ranjang, masih dengan Hanaa dalam rangkulan lengannya karena Zayyeed tak ingin melepaskan wanita itu darinya. Tapi lapisan pakaian di antara mereka terlalu banyak dan Zayyeed harus menyingkirkan penghalang itu.
Saat ia berhasil melepaskan semua pakaian di tubuh Hanaa, wanita itu tampak malu-malu. Ia melihat bagaimana wanita itu mencoba untuk menutupi dadanya dengan menyilangkan lengan-lengannya dan Zayyeed dengan cepat menarik lengan-lengan Hanaa menjauh.
"Jangan menutupi tubuhmu dariku, Hanaa. Kau begitu cantik, begitu sempurna, please... let me admire you."
Lalu dengan lembut, Zayyeed membaringkan Hanaa di atas ranjang, lalu ia menatap Hanaa dengan kekaguman yang seolah tak pernah berakhir. Dia sudah pernah bersama dengan wanita, tapi tak pernah sekalipun ia terpesona dengan seorang wanita seperti halnya dengan Hanaa. Dan kecantikan wanita itu, wajahnya yang eksotis, rambut pirang emasnya yang begitu luar biasa, kulitnya yang pucat dan lembut, keindahan lekuk tubuhnya, kesempurnaannya... semuanya begitu memikat Zayyeed.
Zayyeed lalu mendekat pada Hanaa, jarinya dengan pelan menelusuri perut wanita itu. "Matamu begitu indah. Terkadang, caramu menatap membuatku cemas kau telah menyihirku."
Hanaa menggeliat kecil, mungkin jari Zayyeed di atas perutnya menimbulkan gelitikan halus. "Harusnya... harusnya aku yang berpikir seperti itu, Yang Mulia."
"Oh?" Kini, ia membayang di atas Hanaa, mata mereka kini bertatapan. "And why is that?"
"Kadang aku berpikir, caramu menatapku membuat lututku melemah."
Pengakuan tak disangka-sangka itu membuat Zayyeed meledak dalam tawa. "Oh Hanaa, betapa polosnya dirimu. I am just so lucky."
"A... aku tak pernah..."
"Huh?"
Zayyeed bisa melihat rona di kedua pipi Hanaa. Wanita itu kemudian membuang tatapnya saat berucap sedikit gugup. "Kau... kau tahu, bukan? Aku tidak pernah... uh... aku belum pernah..."
"Aku tahu," potong Zayyeed kemudian dan ia mengelus wajah Hanaa untuk mendapatkan perhatian wanita itu kembali. "Kau tidak perlu malu tentang itu, Hanaa. Kau tidak tahu betapa berartinya itu bagiku."
Zayyeed kembali menghilangkan jarak di antara mereka dan menempelkan bibirnya pelan di atas bibir Hanaa. Awalnya hanya lembut, untuk menghibur wanita itu, untuk menunjukkan betapa berharganya dia di mata Zayyeed tapi di detik bibir mereka bersentuhan, selalu ada percik api yang membakar tubuh mereka berdua. Ciuman mereka berubah dalam dan liar, lebih kuat. Lengan-lengan Hanaa kini naik untuk memeluk lehernya sementara Zayyeed bergerak pelan ke atas tubuh Hanaa dan memperdalam ciuman mereka, lidahnya kembali menyusup masuk untuk menggoda dan merayu wanita itu.
Wanita itu memang sempurna di dalam pelukannya. Dan betapa menyenangkannya mencium Hanaa, menikmati kelembutan tubuh wanita itu di bawahnya, ia menekan lembut dan kaki-kakinya bergerak di antara Hanaa. Ia berusaha sekeras mungkin untuk menahan gairahnya sendiri. Ia tahu ini adalah saat pertama Hanaa dan Zayyeed ingin membuatnya seindah mungkin bagi wanita itu.
Sambil terus mencium Hanaa, Zayyeed mengusap wanita itu, mempersiapkan Hanaa untuknya. Tangannya bergerak, mencari-cari, menjelajah hingga ke antara kedua kaki wanita itu sementara ciuman Zayyeed semakin turun.
Desah napas wanita itu, debar jantungnya, basah di antara kedua kakinya, rasa wanita itu di mulutnya, Zayyeed tidak sabar lagi menjadikan Hanaa sebagai miliknya. Zayyeed lalu bergerak bangun, melepaskan pakaiannya dan kembali memposisikan diri di tengah tubuh wanita itu, menggunakan lutut-lututnya untuk melebarkan kedua kaki Hanaa.
Wanita itu sejenak menghentikannya, menatap Zayyeed ngeri.
"Kau... I saw you. You... you're big. Can it fit?"
Wajah Hanaa merah padam tapi Zayyeed hanya tersenyum kecil. "Trust me. After this, you'll never want to come back to be the old you."
Lalu Zayyeed mendorong maju dan membenamkan dirinya di dalam kehangatan rapat Hanaa yang selama ini dirindukannya.