Dua Puluh Satu

34.2K 3.6K 285
                                        

Happy Sunday,  masih ada yang menunggu kisah Hanaa Sang Selir dengan raja mesumnya? 😂😂

Happy reading ya, jangan lupa vote, vote and comment, supaya semangat updatenya 😍😚

Dan bagi yang ingin mengoleksi karya saya yang udah terbit, boleh silakan kontak OS, rata2 pada jual, atau bisa koleksi ebooknya tapi cuman di Playstore, pleaseeee jgn beli yg bajakan, please, please, please >•< 

Cukup dengan buka Playstore dan search dengan kata kunci : carmen labohemian

Meantime, happy reading yaa...

Luv you all,
Carmen

___________________________________________________________________

Tiga hari kemudian, Nyonya Kouri memanggilnya. Awalnya, Ana-Maria berpikir bahwa ia akan dijejali dan dituntut untuk menguasai sejumlah keahlian sebagai seorang selir - bekal untuk merayu dan menyenangkan Yang Mulia, begitu istilahnya - dan Ana-Maria sudah bersiap dengan alasan bahwa ia sedang mempelajari semua itu, secara privat, pada Aaliyah. Tapi ternyata Nyonya Kouri memperkenalkan seorang guru privat yang akan mengajarinya Bahasa Arab. Oke, Ana-Maria tidak akan menolak hal itu.

Ia memang tidak mengalami kemajuan yang besar selama tiga minggu tersebut, tapi apa yang diharapkannya, bukan? Tiga minggu adalah waktu yang singkat untuk mempelajari bahasa baru, apalagi bahasa yang begitu berbeda dari yang pernah dikenalnya.

Selama tiga minggu itu juga ia menyusun rencana, memikirkan segalanya dengan hati-hati, memastikan tidak ada kesalahan. Tidak boleh ada kesalahan, karena itu berarti akhir bagi Ana-Maria. Walaupun tentu saja, sebesar apapun ia membenci tempat ini, ada hal-hal yang membuat Ana-Maria cukup sedih. Aaliyah. misalnya. Ada sedikit rasa sedih karena harus pergi begitu saja tapi Ana-Maria tidak punya pilihan. Ia menyukai Aaliyah, namun wanita itu tidak bisa diharapkan untuk membantunya. Bila Ana-Maria bercerita, wanita itu akan menghalanginya. Bila Ana-Maria berpikir untuk mengajak Aaliyah, memberinya pilihan untuk mendapatkan hidupnya sendiri di dunia luar, Aaliyah mungkin akan melaporkannya langsung pada Nyonya Kouri atau mungkin wanita itu akan terkena serangan jantung mendengar saran Ana-Maria. Jadi, ia tidak punya pilihan selain kabur begitu saja tanpa memberitahu teman terbaiknya di tempat ini.

Kemudian, Ana-Maria juga memikirkan kedua pelayan pribadinya. Selama ini mereka telah melayaninya dengan baik. Jika ia pergi begitu saja, apakah Nahla dan Azra akan berada dalam masalah? Tapi situasinya terlalu gawat jika ia terus berada di sini. Lagi, Ana-Maria tidak punya pilihan selain kabur secepatnya. Ia hanya berharap para pelayannya tidak disalahkan. Saat ini, memikirkan dirinya sendiri adalah poin terpenting.

Jadi, Ana-Maria harus menjalankan rencananya malam ini. Secepat mungkin. Ia mengeluarkan tali panjang yang disambung dari berhelai-helai selendang, yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat. Tali kain itu panjang, ia mengetes kekuatan ikatan di setiap sambungan dan merasa puas.

Ana-Maria berhenti sejenak ketika menatap bayangannya di cermin. Pakaiannya ini jelas bukan jenis yang akan dipilihnya tapi walaupun ia diberikan selemari penuh pakaian, semuanya nyaris seragam. Dan ini salah satu model yang menurutnya paling mendukung, setidaknya bawahan yang dikenakan Ana-Maria berbentuk celana walaupun atasannya yang panjang menutup hingga ke betis - tapi itu lebih baik dari gaun. Ia merapatkan selendangnya, tiga lapis, hanya untuk berjaga-jaga seandainya ia membutuhkan lebih.

Karena tidak memiliki uang, ia terpaksa harus mengambil satu buah gelang emas dan sebentuk cincin - Ana-Maria tidak mencuri, jika berkesempatan ia akan mengembalikannya, tapi jikapun tidak, ia beralasan bahwa ini bukan salahnya. Ana-Maria adalah korban!

Ia menarik napas dalam dan keluar ke balkon luas tersebut lalu dengan lincah bergerak ke arah tangga melingkar. Ana-Maria sudah melakukannya puluhan kali, ia terkadang yakin ia bahkan bisa menuruni tangga itu dengan mata terpejam. Segera, aroma pasir yang tajam memenuhi indera penciumannya. Ana-Maria memasang cadarnya, merapatkannya untuk menutup bibir dan hidung lalu mulai bergerak. Begitu kakinya menjejak tanah, ia menatap sekelilingnya dan berputar ke belakang bangunan besar tersebut. Satu hal yang mungkin menguntungkannya, tempat ini tidak dijaga ketat oleh para pengawal wanita, karena selain terisolir, mungkin Sang Raja tak pernah berpikir bahwa akan ada selir yang mencoba kabur darinya.

Begitu sampai di kompleks belakang bangunan yang ditempatinya, Ana-Maria bergerak menuju pohon yang telah dipilihnya. Ia mendongak untuk menatap pohon besar tersebut, yang cabang-cabang kuatnya beberapa menjulur hingga melewati tembok istana. Kalau Ana-Maria ingin jujur, Istana Harem ini memang spesial, persis seperti zamrud di tepi padang pasir yang tandus - ia tidak tahu apakah ini keajaiban, atau karena teknologi atau karena sesuatu sebab yang lain, tempat ini bisa ditumbuhi.

Oke, tapi spesial apapun, saatnya untuk pergi. Ana-Maria mengetatkan buntalan yang diikatnya ke punggung - bekal yang diam-diam dikumpulkannya dua hari ini, satu setel pakaian, gelang dan cincin, yang kesemuanya dibungkus dengan kain hanya karena Ana-Maria tidak bisa menemukan sesuatu yang lebih baik dari itu. Untungnya, semasa kecil Ana-Maria tidak menghabiskannya dengan bermain boneka. Jadi memanjat pohon hanyalah hal kecil untuknya.

Tapi memanjat pohon dengan pakaian seperti ini terbukti sedikit menyusahkan. Ia menghela napas keras dan menaikkan bajunya hingga sepinggang - persetan dengan etika berpakaian tempat ini, pikirnya kesal. Tak butuh waktu lama hingga ia bertengger di salah satu cabang kuat sambil mulai mengikatkan tali selendang itu ke pinggangnya dan memastikan ikatan tersebut kuat. Setelah itu, barulah Ana-Maria bergeser untuk meraih cabang pohon terkuat yang sudah dipilihnya, yang menjulur hingga melewati tembok istana. Ia akan mengikat ujung tali selendangnya di ujung ranting yang gemuk itu lalu turun perlahan-lahan. Ujung tali lain yang terlilit di pinggangnya setidaknya akan menjaga Ana-Maria agar ia tidak jatuh menghantam pasir.

Sedikit saja, tinggal sedikit saja dan ia akan bisa meninggalkan tempat terkutuk ini. Sisanya, akan ia pikirkan nanti. Yang penting ia keluar dulu dari Istana Harem.

Namun belum setengah jalan mencapai ujung cabang, ia terkejut setengah mati.

"Apa kau tidak takut mematahkan kaki cantikmu itu, Hanaa?"

Oh Tuhan!

Ana-Maria begitu terkejut, jika diibaratkan jantungnya sudah melompat duluan ke tanah, sebelum ia menjerit terkejut lalu melepaskan jeritan kaget saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh mengikuti gravitasi.

Tapi Aba-Maria tidak jatuh menghantam kekerasan di bawahnya. Sebaliknya, ia jatuh mendarat dalam pelukan pria yang ia harap tak pernah dilihatnya lagi. Dan yang lebih sial, dalam kepanikannya, Ana-Maria tidak sadar bahwa ia mengalungkan tangannya di sekeliling leher kokoh tersebut dan pria berengsek mesum itu menundukkan wajah begitu dekat dengannya. "Fortunately, i am here to catch you when you fall, My Hanaa."

Ya Tuhan! Pria ini sungguh menyebalkan!

The Sheikh's Love-SlaveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang