Happy reading,
Semoga suka
Luv,
Carmen
_________________________________________________________________
Istana Al Qasseem
Sheikh Zayyeed bangkit dari peraduannya ketika Menteri terakhirnya meninggalkan ruangan tersebut. Menaruh kedua tangannya di belakang tubuh, ia berjalan menuju satu-satunya potret yang tergantung di sana.
Ia berhenti di hadapannya dan mendongak untuk mempelajari lukisan tersebut. Potret seorang wanita cantik dalam balutan pakaian kerajaan Zaazabyeer. Kecantikannya sudah membeku dalam waktu, mata hitam indah yang dalam, alis mata tebal yang sehitam malam, wajah rupawan yang jelita dan rambut di balik kerudung itu adalah helaian terhalus yang pernah disentuh oleh Zayyeed. Seperti itulah waktu berhenti untuknya, seperti wanita dalam potret ini, wanita yang meninggal dengan membawa calon raja masa depan kerajaan ini.
Omaira... Ratunya yang lemah-lembut dan cantik jelita.
Ketika ia datang ke padang pasir tandus ini, Zaazabyeer adalah kerajaan hampir bangkrut yang memiliki pemimpin yang tirani. Zayyeed muda bersama para pejuangnya menjatuhkan pemimpin tersebut lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sang generasi penerus dari Khalifah yang menggabungkan kekuatan uang dan kekuasaan keluarganya, juga kepercayaannya untuk mematahkan penguasa zalim tersebut dan membangun ambisinya di tanah tandus ini.
Tandus di permukaan, kaya raya karena kandungan emas di bawahnya. Begitulah kira-kira gambaran Zaazabyeer. Jadi tidak heran bila tempat itu menjadi rebutan. Sayangnya, pemimpin terdahulu tidak mementingkan rakyat, semena-mena dan merendahkan nilai-nilai kultur dan bukannya mengolah kekayaan yang ada, dia menjual mentah-mentah apa yang dimilikinya demi kehidupan mewah. Asing menginvasi, rakyat semakin miskin, perang mulai meletup dan pertumpahan darah tak terhindarkan.
Zayyeed tidak haus kekuasaan. Tapi saat itu jiwa mudanya meledak-ledak memanggilnya agar memberikan keadilan bagi orang-orang yang tertindas itu. Mungkin saja ia ingin menjadi pahlawan, sikap sombongnya membuatnya berpikir bahwa ia mampu membebaskan orang-orang Zaazabyeer. Zayyeed memiliki uang dan juga kekuatan serta keahlian, jadi hal itu melambungkan kepercayaannya. Saat ia menang, takhta itu jatuh ke pangkuannya tanpa bisa dihindari. Ia adalah simbol harapan, Zayyeed tidak diberikan kesempatan untuk menolak. Ketika ia bersedia berjuang bersama mereka, orang-orang itu telah menganggapnya siap memimpin mereka, bahwa ia tidak akan meninggalkan tempat itu setelah mereka kehilangan pondasi. Itu adalah janji yang tak terucap, anggapan yang tak bisa dipatahkan dan Zayyeed tak kuasa menghindar.
Ia dinobatkan menjadi pemimpin Zaazabyeer yang baru, Sang Sheikh yang bijak dan tak terkalahkan, Sang Sheikh yang akan membawa perubahan.
Zayyeed tak pernah sekalipun bermimpi menjadi seorang penguasa negeri. Tapi takdirnya tak terhindarkan. Jadi, itulah yang dikatakannya pada istrinya, Omaira. Bahwa wanita itu akan menjadi ratunya, bahwa Zayyeed akan memberikannya kehidupan yang paling baik, paling mewah, bahwa ia akan menjaga wanita itu selamanya. Sebagai gantinya, Omaira hanya perlu berada di sisinya, mendampinginya.
Omaira yang cantik, wanita yang dipujanya sejak dulu, Omaira tidak dilahirkan untuk menjadi istri dan pendamping seorang penguasa, apalagi penguasa di tanah Zaazabyeer yang keras dan tandus, di mana banyak suku dan kekuatan asing yang akan menyerang mereka tanpa terduga. Di tahun yang sama dengan penobatannya, Zayyeed kehilangan Omaira untuk selamanya, beserta anak di dalam kandungan wanita itu.
Zayyeed berpikir bahwa niat mulianya dulu telah menumbuhkan ambisi yang membuat Omaira dan calon anaknya harus membayar harga kecongkakannya.
Tapi sumpah mengikatnya. Zaazabyeer yang direbutnya dengan ganti darah dan nyawa orang-orang yang dicintainya tidak bisa juga ia tinggalkan begitu saja. Zaazabyeer adalah sisa harta yang masih dimilikinya. Jadi ia mengerahkan segenap kemampuan untuk membangun negeri ini, sampai Zaazabyeer tumbuh selayaknya pohon yang berbuah. Butuh sepuluh tahun untuk mewujudkan keinginan tersebut. Kini, Zaazabyeer yang berada di antara padang pasir dan laut adalah permata yang sudah berkilau. Orang-orang dari Barat mengagumi negara tersebut, menyebutnya sebagai dongeng seribu satu malam di zaman modern. Seluruh orang yang hidup di tanah Zaazabyeer masih mengenakan pakaian tradisional dan mempertahankan kultur dari zaman nenek moyang, bahkan Zayyeed diminta untuk terus mempertahankan harem. Ia jelas tidak menginginkannya, namun para menteri mendesaknya, bahwa harem adalah kebanggaan bagi para penduduk Zaazabyeer, mengetahui bahwa mereka bisa mengirim perwakilan gadis terbaik untuk melayani Zayyeed. Bagi mereka, itu adalah kehormatan besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sheikh's Love-Slave
RomanceAna-Maria Francise Taranu adalah seorang gadis muda penuh mimpi dari sebuah negara kecil di Eropa Timur yang bernama St. Monty. Demi impian dan cintanya, ia mengikuti sang kekasih untuk bekerja di sebuah negara eksotis berbentuk kerajaan di Timur Te...
