Bab 33

26K 2.6K 346
                                        

Happy reading, vote dan komen yang banyak ya. Kalau udah banyak, baru kuupdate ya.

BACA AFTER BUKA PUASA YA!!!

Luv,
Carmen

________________________________________

Begitu tinggal berdua, tanpa membuang waktu, wanita itu bergerak mencengkeram lengan Zayyeed dan memaksanya melepaskan pegangan. "Lepaskan aku!"

Setelah berhasil meloloskan diri, wanita itu mendorongnya keras lalu berdiri. Tapi belum sempat Hanaa melangkah, Zayyeed kembali menjulurkan lengan lalu meraih wanita itu dan menyentaknya keras. Limbung, Hanaa kehilangan keseimbangan dan mendarat di atas pangkuan Zayyeed. Tak ingin memberi Hanaa kesempatan untuk mengelak, Zayyeed melingkarkan lengan-lengannya dan memeluk wanita itu erat.

"Got you, Hanaa."

"Ya Tuhan! Lepaskan aku!" Hanaa memekik kaget, berusaha menjauh tapi lengan-lengan Zayyeed tak memberi ampun. "Ya Tuhan, apa sebenarnya yang kau inginkan dariku!"

"Kau."

Zayyeed membalikkan Hanaa agar mereka bisa saling bertatapan. Dan segala ucapan yang tadinya nyaris keluar dari mulut Hanaa kini menghilang. Zayyeed kembali menatap Hanaa yang merah padam. "Please, Yang Mulia..."

"Kau tahu kenapa aku tidak menikmati pertunjukan tadi?" bisik Zayyeed, wajahnya mendekat seinci.

Hanaa tak menjawab, wanita itu berfokus untuk mencegahnya merapatkan diri lebih dekat.

"Karena aku membayangkan kaulah dalam balutan kostum itu dan menari untukku. Private dance, hanya kita berdua."

Ia kembali mendengar kesiap napas Hanaa. "Kau... jangan bermimpi, Yang Mulia."

Hanaa terdengar ketus, tapi wajahnya tak menampakkan keyakinan yang sama. Zayyeed terkekeh pelan, ia tak sakit hati. Sikap kasar wanita itu hanyalah mekanisme pertahanannya terhadap Zayyeed.

"We'll see."

"Sekarang, lepaskan aku!"

"Kalau tidak, kau akan menjerit?" ejek Zayyeed, keningnya terangkat.

"Kau... benar-benar tak punya moral."

Ia menatap wanita itu. "Aku ingin melakukan banyak hal tak bermoral padamu."

Zayyeed tak menyangka bahwa Hanaa akan benar-benar berontak. Lengan-lengan wanita itu mendarat di tubuhnya, memukul sembarangan dalam usahanya untuk melepaskan pelukan Zayyeed. Wanita itu berhasil berdiri lalu menunduk menatap Zayyeed yang masih pada posisi semula. "Kau sebaiknya pergi, Yang Mulia. Aku ingin beristirahat."

Hanaa berbalik dan melangkah. Jika wanita itu pikir Zayyeed lagi-lagi akan membiarkannya menghindar seperti sebelumnya, maka dia salah. Zayyeed sudah lelah menunggu, ia mulai lelah berperan sebagai gentleman. Sudah saatnya Hanaa merasakan seperti apa pengaruhnya pada Zayyeed. Ia ingin menggunakan gairah untuk membakar wanita itu. Sudah sepantasnya Hanaa menyerah padanya dan membiarkan Zayyeed memperlihatkan betapa sempurnanya mereka. Ia berdiri secepat kilat dan mengejar langkah Hanaa. Tangannya menghentikan wanita itu meraih kenop pintu lalu membalikkan tubuh mungil tersebut. Sekali lagi, Hanaa berada dalam dekapannya.

Dan sekali lagi, wanita itu melontar kata-kata yang sama.

"Yang Mulia! Lepaskan aku!" Dia berusaha menggeliat.

Zayyeed menunduk lebih dekat. "Tidak. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."

"Kau... kau gila!"

"Ya, tergila-gila padamu. Jadi kau harus bertanggungjawab, Hanaa." Zayyeed merapatkan tubuh mereka, menggesekkan dirinya, tak peduli pada napas Hanaa yang tercekat. "Aku tidak bisa tidur karena ciuman kemarin. Aku harus menciummu lagi."

Ia tidak meminta persetujuan Hanaa, juga tak menunggu wanita itu memberikan izin. Kali ini, ia mengambil. Bibirnya turun di atas bibir Hanaa, menghirup aroma manis wanita itu lalu membenamkan bibirnya. Tubuh Hanaa menegang tapi Zayyeed memeluknya erat. Ini adalah ciuman yang tak bisa dihindari Hanaa. Ini adalah bagian dari gairahnya yang terkurung yang memaksa untuk lepas. Zayyeed mengusap bibir Hanaa penuh gairah, ia mengecup keras dan mengisap. Lidahnya membelai lalu menuntut. Tangannya bergerak untuk merenggut selendang Hanaa lalu menautkan jemarinya di helaian-helaian pirang itu. Lalu Zayyeed menarik rambut-rambut Hanaa, memaksa wanita itu bereaksi. Hanaa mengaduh dan lidah Zayyeed menyelinap masuk. Ia memaksa, bibir, lidah, giginya mendominasi, tak memberi ruang bagi Hanaa untuk menolak.

Saat menjauhkan bibirnya, ia menatap Hanaa yang terpejam, yang masih berusaha meredakan sengal hebatnya.

"Hanaa..." panggilnya pelan.

Wanita itu membuka matanya. Bibirnya yang sedikit bengkak bergetar di bawah sentuhan jemari Zayyeed. "Yang Mulia..."

"Panggil aku Zayyeed."

Ia menatap Hanaa dan bisa melihat wanita itu mulai luruh.

"Call my name, Hanaa," bujuk Zayyeed lagi lembut.

Dan rasanya seperti memenangkan peperangan ketika wanita itu menyebut namanya. "Za... Zayyeed..."

Suara wanita itu begitu lembut, membuat kendali diri Zayyeed runtuh. Ia menginginkan wanita itu, ia menginginkan Hanaa, seperti ia tak pernah menginginkan wanita lain.

"You're mine, Hanaa. Mine only."

Zayyeed lalu membopong wanita itu dan melangkah kembali ke bantal-bantal yang bertebaran. Ia lalu merebahkan wanita itu di atas karpet berbulu lembut. Napasnya bergetar saat ia menunduk menatap Hanaa. Tubuhnya mengeras hebat saat ia menindih wanita itu dan membenamkan wajahnya di antara rambut Hanaa yang tergerai. Zayyeed memuja wanita itu lewat gerakan bibir. Ia menciumi helaian-helaian halus itu, lalu kening Hanaa, melewati pelipis wanita itu, telinganya, turun dan menempel di sisi leher Hanaa yang halus. Ia bergetar, dadanya berdentam dan bergemuruh saat bibirnya menikmati kemanisan kulit Hanaa. Tangan-tangannya menjelajah, mengusap wanita itu dan berlabuh di dada. Jantungnya terasa meledak saat ia menyentuh dada lembut Hanaa dari balik pakaian sutra yang membungkusnya. Lalu terus turun, mengusap, membelai, jari-jarinya mengangkat gaun wanita itu, rasanya tak sabar mengelus kehalusan kulit Hanaa yang pastinya seperti sutra hangat.

Zayyeed mengerang, tak sanggup menguasai diri.

"Oh Hanaa..."

Ia bangkit, ingin menatap wanita itu lalu membeku saat mendapati air mata di sudut mata Hanaa yang terpejam erat.

"Hanaa?" panggilnya kasar. "Kau menangis?"

"Jangan..."

Zayyeed mengerjap, susah payah melawan gairah yang membelitnya. Lalu wanita itu membuka mata.

"Kumohon, don't do it." Hanaa menggeleng, tampak sengsara. "Aku tak menginginkannya."

"Apa katamu?" desis Zayyeed di sela napas beratnya.

"Please, Yang Mulia. Aku tak menginginkannya." Lalu air mata wanita itu mengalir.

"Kenapa? Karena aku bukan Bruce? Kau baru sadar aku bukan dia?!" sergahnya kasar. Saat ucapan itu keluar, Zayyeed juga mengagetkan dirinya sendiri.

Tapi jawaban Hanaa-lah yang membuatnya ingin membunuh Bruce saat ini juga lalu mencekik Hanaa agar wanita itu tahu betapa terhinanya Zayyeed.

"Ya."

Ia menggeretakkan gigi menahan amarah. "Bedebah. Sialan kau, Hanaa!"

Zayyeed bangkit, begitu cepat, begitu penuh amarah sehingga wanita itu tampak ketakutan. Tidak, ia tak akan menyakiti Hanaa. Ia juga tak akan memaksa wanita itu. Ia tak akan melakukan apapun. Baru beberapa detik yang lalu ia keras bagai batu, tapi ucapan singkat Hanaa bagai siraman air es yang mematikan semua gairahnya. Ia mengibas jubahnya kasar, melirik sekilas pada Hanaa yang masih berbaring di lantai.

"Kau terlihat lelah dan tidak sehat, jadi aku tak akan mengganggumu malam ini. Aku akan menyuruh Nahla dan Azra mengantarmu ke kamar untuk beristirahat," ujar Zayyeed dingin sebelum berjalan pergi.

The Sheikh's Love-SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang