Sepuluh

34.8K 3.2K 61
                                        

Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi semua teman-teman pembaca The Sheikh's Love-Slave, mohon maaf lahir dan batin.

Semoga berkenan dengan lanjutannya. Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak.

Happy reading

Luv,

Carmen

________________________________________________________________________________

Saat wanita itu meraih tangannya, Zayyeed langsung tahu bahwa wanita itu memang ditakdirkan untuknya.

Ana-Maria Francise Taranu, batinnya dalam hati, siapa yang menyangka, bukan?

Ia mempererat genggamannya pada wanita itu saat menariknya berdiri sambil mengoreksi ucapannya sendiri. Bukan Ana-Maria, tapi Hanaa, wanita yang namanya telah dipilihnya dengan hati-hati.

Hanaa berdiri gamang di hadapannya, seolah tak yakin dengan apa yang sedang dihadapinya, seolah-olah dia tidak percaya pada apa yang baru saja disetujuinya dan masih menatap Zayyeed dengan tatapan bingung.

"Hanaa..." panggil Zayyeed menyadarkan wanita itu.

Dia mengerjap bingung, mungkin masih tidak terbiasa dengan nama barunya lalu ketika dia sadar, dengan cepat wanita itu menarik tangannya kembali.

"Kau aman sekarang," tambah Zayyeed.

Mendengar ucapan tersebut, ekspresi wanita itu menunjukkan keraguan yang jelas. Tapi, dia tidak mengatakan apa-apa, masih tetap berdiri diam di hadapannya, kedua lengannya kemudian pelan memeluk tubuhnya sendiri. Zayyeed menatap sekilas, lalu rasa iba memenuhnya ketika ia menyadari bahwa abaya wanita itu tampak kotor dan berantakan, dipenuhi keringat dan mungkin darah kering di belakang punggung, dan penutup kepalanya entah hilang ke mana.

"Tunggu di sini," ucapnya kemudian, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu.

Saat melihat Mahmoed berdiri di luar pintu, Zayyeed langsung melontarkan perintah agar pria itu mencari selimut untuknya. Mahmoed mengikuti tanpa kata, tanpa bantahan sekalipun, sama seperti ketika pria itu tidak membantah ketika Zayyeed ingin menjadikan Hanaa penhuni haremnya. Walaupun ia tahu, apa yang ada dalam pikiran Mahmoed, namun kesetiaan pria itu mengalahkan segalanya. Walaupun Mahmoed tahu bahwa Zayyeed mengambil resiko, bahwa tindakannya ini tidak masuk akal, bahwa ia bertingkah tidak seperti biasanya, tidak seperti seorang pemimpin kerajaan, namun pria itu menyimpan pendapat tersebut dan hanya menuruti apa yang diperintahkan padanya.

Zayyeed bukannya tidak tahu bahwa ia sama sekali tidak menunjukkan sikap layak sebagai pemimpin Zaazabyeer, tapi kesempatan ini rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan. Ketika pertama kali bertemu di balkon tersebut, Zayyeed sudah menyimpan ketertarikan dan melihat Hanna tak berdaya di dalam sel dinginnya, bagaimana mungkin Zayyeed tidak ingin mengulurkan tangan dan mengambil kesempatan tersebut? Apalagi ketika ia tahu bahwa Hanaa mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin ia membiarkan wanita itu mati sia-sia atau membiarkan wanita itu membusuk di penjara tanpa nasib yang jelas.

Apa yang harus saya katakan jika orang-orang bertanya, Yang Mulia?

Katakan yang sebenarnya, bahwa kita sudah membentuk tim investigasi rahasia untuk menyelidiki kasus ini dan suruh mereka untuk menutup mulut jika tidak ingin membuat para teroris semakin di atas angin. Katakan bahwa kita tidak bisa membocorkan informasi apapun sampai penyelidikan selesai.

Tapi jika mereka mulai bertanya tentang tersangka yang ditang...

Katakan saja bahwa wanita asing itu sudah diamankan. Dan menunggu penyelidikan lanjutan. Kumpulkan keluarga kerajaan, pejabat dan tamu-tamu yang menyaksikan langsung kejadian kemarin dan aku akan berbicara langsung pada mereka. Yang paling penting, jangan sampai kasus ini bocor ke publik. Tekanan publik akan menyulitkanku.

Saya mengerti, Yang Mulia.

Pikirannya teralihkan ketika Zayyeed melihat Mahmoed kembali. Pria itu itu mengulurkan selimut tebal dengan kedua tangannya. Zayyeed meraihnya dan panggilan pria itu menahan langkahnya untuk berbalik dan berjalan kembali ke dalam ruang interogasi.

"Apakah wanita asing itu menerima tawaran Anda, Yang Mulia?"

Zayyeed mengangguk. "Mulai saat ini, dia akan dipanggil Hanaa, Mahmoed. Dan aku ingin kau menunjukkan rasa hormatmu seperti yang selama ini kau tunjukkan kepada para penghuni haremku."

"Tentu saja, Yang Mulia."

Zayyeed kembali mengangguk dan berbalik. Saat ia melangkah ke dalam ruangan, Hanaa masih berdiri di posisi yang sama, tak bergerak seinci pun dan kedua lengannya masih memeluk tubuhnya sendiri. Zayyeed mendekat dan kehadirannya mengejutkan wanita itu, dia terperanjat ketika Zayyeed menyampirkan selimut itu ke punggung dan kepalanya.

"It's okay, Hanaa. I won't hurt you."

Zayyeed tahu wanita itu ingin melemparkan pendapat yang berbeda tapi dia menahan diri dan hanya mengangguk. Tidak masalah bila wanita itu masih bersikap waspada, kepercayaan membutuhkan waktu, bukan?

"Sekarang, ikutlah denganku."

Zayyeed membimbing Hanaa, mengabaikan fakta bahwa tubuh wanita itu menggigil samar dan mengajaknya keluar ruangan. Di sana, Mahmoed sudah berdiri menunggu dengan setia. Begitu Zayyeed muncul bersama Hanaa, pria itu langsung membungkuk memberi salam formal.

"Saya Mahmoed, siap melayani Anda, Selir Hanaa."

Lewat sudut matanya, Zayyeed bisa melihat Hanaa bergidik pelan, namun lagi-lagi wanita itu membisu seribu bahasa.

"Mahmoed, antarkan Selir Hanaa pada kepala harem dan suruh dokter istana untuk memeriksa luka di tubuh Selir Hanaa."

"Siap laksanakan, Yang Mulia."

Zayyeed mengangguk puas. Lalu dengam pelan, ia mendorong Hanna agar maju. "Don't worry, Hanaa. From now on, you'll be taken care of."

Lagi, Hanaa tak menjawab. Lalu, seperti robot, Hanaa mengikuti langkah Mahmoed ketika pria itu mempersilakannya untuk ikut bersama. Zayyeed hanya menatap punggung wanita itu yang menjauh dan setelah keduanya menghilang, barulah Zayyeed meninggalkan tempat tersebut. Saat ini, ia belum ingin terlihat bersama Hanaa. Tapi segera, ia akan mengunjungi wanita itu ketika segala urusannya selesai.

The Sheikh's Love-SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang