Bab 55 B

6.6K 692 31
                                        

Happy reading, semoga suka. Jangan lupa vote dan komen ya.

Yang mau baca cepat, boleh merapat dulu ke Karyakarsa, sudah update sampai bab 81.

Follow saya di KK ya : Carmenlabohemian

Dan ada cerita baru di lapak wattpad saya, enjoy.

Luv, Carmen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Luv,
Carmen

_________________________________________

Apa ia harus mengatakan sesuatu? Tapi apa yang harus ia katakan?

"Bagaimana tidurmu, Hanaa?"

Pertanyaan pria itu, suaranya yang serak membelai membuat Ana-Maria terkejut. Ia lalu menoleh dan menatap Zayyeed yang duduk di kepala meja. Senyum miring pria itu tersungging di bibir tipisnya saat dia lanjut berbicara, dengan nada sinis mengejek yang membuat Ana-Maria geram. "Kuharap nyenyak."

Ana-Maria menggigit pipi dalamnya, dalam usahanya untuk tak berteriak kesal. "Nyenyak, Yang Mulia. Terima kasih atas perhatiannya. Kuharap tidurmu juga nyenyak."

Zayyeed terkekeh kecil dan Ana-Maria semakin kesal. "Kau agak emosian hari ini. Frustasi?" Zayyeed merendahkan suaranya dan mendekatkan wajah, membuat Ana-Maria nyaris melemparkan serbet ke wajah pria itu.

Dasar menyebalkan!

"Atau mungkin kau hanya bosan." Zayyeed kembali menegakkan duduknya sebelum Ana-Maria sempat melemparkan sesuatu ke wajah pria itu. "Kita bisa jalan-jalan di kota."

Oh, begitu? Jadi mereka akan berpura-pura tidak ada apapun yang terjadi? Oke... kalau Zayyeed bisa, Ana-Maria apalagi.

Tapi nyatanya, ia tidak berpura-pura tidak menikmati acara jalan-jalan mereka. Zayyeed familiar dengan kota ini dan menjadi pemandu yang menyenangkan. Mereka berpakaian seperti orang biasa, berbaur tanpa ada pengawal dan pelayan yang menempel di dekat mereka dan itu rasanya sangat melegakan. Walau Ana-Maria tahu, para pengawal Zayyeed selalu mengawasi dari jauh, tapi ia bisa berpura-pura sejenak dan menganggap ini hanyalah liburan biasa.

Mereka mengunjungi museum-museum dengan koleksi-koleksi seni yang indah. Ana-Maria baru tahu kalau pria itu benar-benar mencintai seni. Ia terkejut malah. Zayyeed menghargai semua benda seni dan mengagumi hasil-hasil karya yang menurut pria itu sangatlah luar biasa. Ana-Maria di sisi lain, tidak begitu mengerti, tapi ia senang mendengarkan penjelasan Zayyeed, senang mendengar antusiasme pria itu, senang melihat raut puas di wajah Zayyeed. Dan ia baru sadar, pria itu dan pemikirannya tampak seperti pria modern pada umumnya, tapi terkekang oleh banyaknya tradisi kuno ketika dia berada di tanah kekuasaannya.

Ia terkejut saat Zayyeed meraih tangannya lalu menggandengnya.

"Jangan tegang," bisik pria itu. "Aku tak akan menyentuhmu, aku hanya ingin memastikan kau tetap ada di dekatku. Kita akan berjalan ke Ponte Vecchio, di sana selalu ramai oleh para wisatawan dan aku tidak mau kau tersesat nanti."

Kata-kata pria itu sebenarnya biasa saja, tapi Ana-Maria bisa mencecap nada dingin dalam suara Zayyeed. Ia tahu, Zayyeed tersinggung dengan penolakannya tadi malam. Dan Ana-Maria harus berusaha keras mendorong keinginannya untuk menghadap pada pria itu dan berkata bahwa ia sudah bersikap tolol dan mereka bisa kembali ke villa kapan saja Zayyeed menginginkannya untuk meneruskan apa yang tidak bisa mereka tuntaskan kemarin malam.

Tapi tentu saja, Ana-Maria masih punya harga diri.

Seperti kata Zayyeed, Jembatan Tua itu memang ramai karena uniknya tempat tersebut. Ana-Maria berakhir di sebuah toko suvenir dan mengambil berbagai macam pernak-pernik dan baru sadar sesudahnya bahwa ia tidak punya uang. Tapi pria di sebelahnya dengan sigap mengambil semua barang pilihan Ana-Maria dan membayarnya.

Setelahnya, Zayyeed mengajaknya kembali karena mereka akan berkeliling melihat-lihat kebun anggur sebelum malam tiba. Duduk kembali di belakang limusin membawa banyak kenangan dan Ana-Maria akan berbohong bila ia berkata ia tidak tegang. Satu sentuhan pelan di lengannya membuat Ana-Maria terperanjat hebat dan kepalanya terayun keras untuk menoleh menatap Zayyeed.

"Ap... apa?!"

Sungguh, Ana-Maria tak bermaksud membentak.

Zayyeed menatapnya seakan bosan dan Ana-Maria benci melihat ekspresi itu. Kata-kata pria itu lebih lagi, melecut emosinya dengan keras.

"Sudah kubilang aku tak akan menyentuhmu, aku tahu kau tidak menginginkannya, Hanaa. Jadi kau bisa tenang. Aku hanya ingin menawarimu minum."

Kelopak Ana-Maria bergetar pelan menahan amarah. Apa Zayyeed sedang membalasnya? Atau meledeknya? Hah!

"Tidak butuh," jawabnya singkat, nyaris kasar.

"Oke, terserah padamu."

Ana-Maria hanya melengos. Lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke jendela. Setidaknya pemandangan Florence yang indah bisa membuat dirinya lebih tenang dan meredakan denyut di kepalanya.

The Sheikh's Love-SlaveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang