Ana-Maria Francise Taranu adalah seorang gadis muda penuh mimpi dari sebuah negara kecil di Eropa Timur yang bernama St. Monty. Demi impian dan cintanya, ia mengikuti sang kekasih untuk bekerja di sebuah negara eksotis berbentuk kerajaan di Timur Te...
Happy reading, jangan lupa vote dan komen yang banyak ya.
Yang mau baca part 39-40 sudah out ya di karyakarsa.com
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untuk bab 35-38 juga ada di karyakarsa, yang mau bacaduluan, cari di sana aja. Murmer aja kok 6.000
Happy Sunday
Luv, Carmen
___________________________________________
"Posisi Landon sudah dipastikan, Yang Mulia. Semua anggota standby menunggu perintah Anda.”
Zayyeed meletakkan pena yang dipegangnya dan mengangkat wajah untuk menatap Mahmoed, yang seperti biasa berdiri setia di hadapannya menunggu perintah. Pria itu adalah salah satu dari sedikit orang yang Zayyeed percayai dengan nyawanya tapi jika ada satu kekurangan Mahmoed, pria tua itu terlalu kuno dan kaku. Perselisihan mereka selalu tentang metode yang harus ditempuh tapi pada akhirnya, mereka selalu menemukan jalan tengah. Dan bagi Zayyeed, tak ada yang akan bisa menggantikan posisi Mahmoed di sisinya.
“Bagus,” pujinya sambil menyilangkan jari-jemarinya dan meletakkannya di bawah dagu, tanda bahwa Zayyeed mulai berpikir.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Yang Mulia? Mereka siap beraksi kapan saja dan menangkap Landon kembali. Dengan begitu, kasus ini akan menemui titik terang dan Anda juga bisa mengembalikan nama baik Selir Hanaa.”
Menyebut nama Hanaa adalah kesalahan Mahmoed. Zayyeed tahu pria itu tidak begitu suka dengan Hanaa. Lebih tepatnya, Mahmoed bisa melihat bagaimana Hanaa mempengaruhi Zayyeed dan pria itu tidak suka. Dia pasti berpikir untuk segera menyingkirkan Hanaa dengan menangkap Landon secepatnya dan membawanya kembali ke Zaazabyeer. Terkutuklah Zayyeed jika ia membiarkan pria itu mengatur apa yang harus dilakukannya.
“Yang Mulia?” desak pria itu lagi.
“Jangan terburu-buru,” ujar Zayyeed kemudian dan ekspresi Mahmoed jelas menampakkan ketidaksetujuan.