Ana-Maria Francise Taranu adalah seorang gadis muda penuh mimpi dari sebuah negara kecil di Eropa Timur yang bernama St. Monty. Demi impian dan cintanya, ia mengikuti sang kekasih untuk bekerja di sebuah negara eksotis berbentuk kerajaan di Timur Te...
Happy reading, semoga suka. Vote dan komen yang banyak ya.
Lanjutansampai bab 46 ada di karyakarsa ya.
Bab 45-46 udahmeluncur di sana. Happy reading.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy weekend
Luv, Carmen
________________________________________
Tentu saja Ana-Maria menjawab tanpa ragu. Ia akan melakukan nyaris apa saja untuk bertemu keluarganya sekarang. "Ya, ya, tentu saja, Yang Mulia. Apa kita akan kembali ke St. Monty?"
Ia kecewa saat pria itu menggeleng. Tapi Zayyeed kembali menenangkannya. "Kita akan ke Eropa. Setelah urusanku selesai, aku pasti akan membawamu bertemu kakakmu. Jadi be patient and trust me on this one, can you do that, Hanaa?"
Selama ini yang diingat Ana-Maria, pria itu tak pernah meminta dengan begitu lembut dan bersungguh-sungguh. Trust him. Ana-Maria ingin melakukan itu. Bagaimanapun, sampai saat ini, pria itu masih memegang janjinya. Dan hingga kini pun, pria itu masih melindunginya dengan caranya sendiri. Ana-Maria mengangguk. "Ya. I can do that."
"Bagus." Pria itu terdengar senang, nyaris lega.
"Mengapa Yang Mulia melakukan ini untukku? Kau... Kau sebetulnya tidak perlu." Ia pikir pria itu marah besar padanya tapi justru Zayyeed mengejutkannya dengan berita baik.
"Kau tidak mau akau berbohong padamu, bukan?" tanya pria itu sedikit geli, sambil menatapnya.
Ana-Maria akan berbohong bila berkata bahwa ia tak gentar. Kedekatan mereka seperti ini selalu membuatnya terintimidasi. Apalagi ketika pria itu menunduk menatapnya dan Ana-Maria tahu ia hanya sejauh setengah jangkauan lengan Zayyeed, di mana tubuh besar pria itu terasa begitu hangat, di mana aroma Zayyeed membuatnya memikirkan hal-hal yang tak ingin dipikirkannya, karena ia merasa rapuh duduk bertutupkan selimut di atas ranjang yang begitu empuk. Di mana godaan untuk menyerah mungkin saja menyelinap.
"Hanaa?"
Panggilan itu menyadarkannya. Bagaimana ia bisa begitu cepat menyesuaikan diri dengan nama tersebut? Hanaa... Kesenangan, seperti itulah Zayyeed menamakannya dengan sesuka hatinya. Tapi nyatanya sulit sekali menjaga kebenciannya terhadap pria itu. Hanaa... Bahkan nama itu mirip dengan namanya, mungkin karena itu juga, Ana-Maria cepat menyesuaikan diri dengan panggilan tersebut.