58 - Arrested

493 115 41
                                        

Rev 6 des

Rev 2 (15/03/26)

-

Btw aku ngerasa benci banget sama part ini karena nulisnya kayak mood nya lagi ga bagus dan acak acakan tapi aku males baca ulang ㅠㅠ

Biasanya kalau revisi aku emang ga pernah baca ulang sih, jadi habis di ubah, udah aja ga pernah di liat lagi, makanya kalau ada bagian yang acak acakan atau ga nyambung, seperti biasa ya teman, kasih tau aku biar aku perbaiki

Terima kasih udah baca!

-

99% alur di ubah

🪄🪄

HAPPY READING



Mereka kini berada di salah satu tempat makan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan, masih di area Maplewood. Tempat itu tidak terlalu besar, namun terlihat hangat dan cukup ramai pada jam-jam tertentu.

Rain memperhatikan Nichol yang duduk di depannya. Wajah lelaki itu terlihat sangat berbeda dari terakhir kali ia melihatnya di Indonesia. Nichol tampak jauh lebih diam, lesu, dan letih. Tubuhnya juga terlihat lebih kurus, sementara lingkaran hitam di sekitar matanya cukup jelas terlihat.

Siapa pun yang melihatnya mungkin langsung bisa menebak bahwa lelaki ini sedang memikul beban besar di dalam pikirannya.

Tempat makan tersebut bernama Maple Lantern Bistro, salah satu restoran yang cukup terkenal di daerah itu. Tempat ini sudah berdiri selama puluhan tahun, dikenal karena harga makanannya yang cukup murah serta menu klasik yang tetap dipertahankan sejak lama. Sekitar delapan tahun lalu, restoran itu juga baru mendapatkan sertifikasi halal sehingga mulai sering dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai latar belakang.

Nichol mengajak Rain duduk di kursi dekat jendela. Suasananya cukup lengang sore itu. Di lantai satu hanya ada empat meja yang terisi, sementara dari tangga kecil yang terlihat di sudut ruangan, Rain bisa melihat ada sekitar tiga meja yang ditempati di lantai dua.

Lampu-lampu gantung yang hangat membuat ruangan terasa nyaman, meskipun percakapan antar pengunjung terdengar sangat pelan.

“Mau makan apa?” tanya Nichol sambil membuka lembaran daftar menu yang ada di meja.

Tak lama kemudian, seorang pelayan perempuan menghampiri mereka. Usianya kira-kira tidak jauh berbeda dengan Dona, dengan rambut cokelat yang diikat rapi di belakang kepala. Ia membawa buku catatan kecil di tangan sambil tersenyum ramah.

Rain bahkan belum benar-benar melihat menu ketika Nichol bertanya.

“Apa aja,” jawab Rain singkat.

Nichol mengangguk kecil. Ia menutup menu sebentar, lalu menunjuk beberapa pilihan makanan kepada pelayan tersebut.

Pertama, ia memesan Shish Taouk, salah satu makanan yang cukup populer di Kanada. Hidangan itu menggunakan daging ayam yang dipotong kecil lalu ditusuk seperti sate sebelum dipanggang, sehingga sekilas memang terlihat mirip dengan sate di Indonesia.

NICHOL: Under The Maple RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang