•°☆°•
20 des
2 (30/03/26)
💐💐
Happy Reading
•
•
•
5 years later...
Rain akhirnya pulang ke Indonesia setelah sekian lama berada di Toronto. Awalnya, Rain tak berniat kembali. Ia takut menghadapi reaksi Eyang, Agra, dan keluarga yang lain. Setelah mereka menentang keputusannya untuk tetap bertahan bersama Nichol, hubungan mereka merenggang. Rain bahkan hampir tak pernah menghubungi mereka lebih dulu.
Namun nasihat Bernand perlahan melunakkan hatinya. Dua bulan lagi ia akan wisuda, dan Bernand mengatakan bahwa pulang bukan berarti menyerah, melainkan memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk berdamai. Pada akhirnya, Rain memutuskan kembali.
Dari Toronto, ia berangkat seorang diri. Meski begitu, Bernand, Andra, dan Rayn tetap mengantarnya hingga ke bandara. Perpisahan itu sederhana, namun agak membuat dada Rain berat. Ia masih mengingat bagaimana Bernand menepuk pundaknya pelan, memberi kekuatan tanpa banyak kata.
Kini perempuan itu sudah berada di dalam mobil yang dikendarai Darrel menuju rumah. Jam menunjukkan pukul enam sore. Jalanan masih basah, meninggalkan kilau tipis di bawah lampu-lampu kota. Hujan baru saja turun deras, dan udara lembap menyusup pelan melalui kaca mobil.
Lima tahun tak pulang, banyak hal berubah. Gedung-gedung tinggi kini berdiri di sepanjang jalan. Beberapa ruas yang dulu selalu macet justru terlihat lebih lengang. Trotoar dipenuhi pejalan kaki yang baru pulang kerja, sementara halte-halte dipadati orang yang menunggu transportasi. Kota ini terasa lebih hidup dan lebih tertata. Ada banyak perubahan positif yang tak pernah ia kira.
Sejak tadi, tangan Rain memainkan cincin nikah di jari manisnya yang tak pernah ia lepaskan. Setelah penahanan Nichol dan sidang putusan, Bernand berkali-kali menanyakan hal yang sama, apakah Rain yakin akan bertahan dan menunggu.
Bernand bahkan pernah mengatakan bahwa jika Rain memilih bercerai dan memulai hidup baru dengan seseorang yang bisa memberinya masa depan lebih pasti, ia akan tetap mendukung. Namun Rain menjawab tanpa ragu. Ia tak perlu berpikir dua kali untuk tetap berada di sisi Nichol.
Baginya, cinta itu sudah terlalu dalam untuk diubah. Ia tak peduli pada jarak waktu, tak peduli pada komentar orang lain, ia hanya tahu bahwa keputusan itu adalah miliknya dan untuknya.
Agra dan Eyang juga pernah mencoba membujuk. Mereka mengatakan Rain masih muda, masa depannya panjang, dan ia masih bisa bahagia dengan orang lain. Namun kata-kata itu justru memicu kemarahan Rain.
Ia sempat mengamuk. Jika pada akhirnya ia diminta berpisah, mengapa sejak awal mereka menjodohkannya dengan Nichol? Bagi Rain, semuanya terasa seperti keputusan sepihak yang mengatur hidupnya. Ia merasa disetir untuk mengikuti keinginan orang lain, dan ia menolak itu.
Sejak saat itu, Rain jarang menghubungi keluarga lebih dulu. Berkali-kali mereka memintanya pulang, bahkan di hari-hari spesial, namun Rain selalu menolak dengan alasan sibuk kuliah.
Satu-satunya yang tetap mendukungnya adalah Mino. Lelaki itu kini sudah menetap permanen di Toronto setelah kariernya sebagai model berhasil menembus perusahaan besar. Ia bahkan sempat bertemu beberapa supermodel terkenal, dan setiap kali bercerita, Mino selalu mengatakan hidupnya kini terasa sempurna. Dukungan itu membuat Rain merasa tak sepenuhnya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
RomanceFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
