Rev 10 des
Rev 2 (23/03/26)
BTW AKU DENGERIN LAGU JAHSEH SELAMA NULIS LART INI JAJAJAJAJA
98% alur di ubah
💐💐
Happy Reading
•
•
•
A few months earlier.
A few days before Christmas… one day after the incident.
Alex terduduk di lantai dengan napas terengah. Matanya terpaku pada sebuah kotak besar yang ia beli dari supermarket pagi tadi. Kontainer itu sudah terisi penuh oleh plastik-plastik hitam, dan di dalamnya… potongan jasad milik Eric.
Apartemen itu hening dan remang. Jendela tertutup rapat, suhu ruangan terasa hangat berbanding terbalik dengan salju di luar yang terus turun sejak sore. Alex sudah duduk di sana, memandangi isi kontainer itu selama hampir tiga jam tanpa benar-benar bergerak.
Elìas Gabriel Navarro berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu tadi ikut membantu memasukkan plastik-plastik hitam ke dalam kotak. Tangannya masih bergetar dengan napas yang tak teratur, dan mual naik ke tenggorokan. Bahkan beberapa kali ia harus menahan diri untuk tidak muntah lagi.
Alex menelepon memintanya datang. Setelah Eric kehilangan nyawa, Nichol dan Aina langsung pergi meninggalkan apartemen. Alex sempat diam cukup lama, menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ada kepanikan dan rasa tak percaya pada diri sendiri, namun memgingat lagi dendam yang ia pendam, Alex yakin bahwa ini adalah harga pantas yang harus dibayar Eric atas perbuatannya.
Maka di malam itu, ia bergerak cepat. Menyeret tubuh tak bernyawa Eric ke kamar mandi, lalu mulai memisahkan beberapa bagian.
Di dapur, ia menemukan banyak plastik sampah berwarna hitam, ia memasukkan potongan-potongan itu satu per satu ke dalamnya. Sempat beberapa kali berhenti karena tangannya yang gemetar dan napas tak teratur. Ia bahkan sempat menangis sendiri, memukul kepalanya ke tembok, mencoba menyadarkan diri kalau ini salah dan tak pantas.
Tapi lagi dan lagi, setiap kali ia hampir berhenti, pikirannya kembali ke satu hal, dendam. Dan itu cukup untuk membuat Alex melanjutkan.
Karena tidak sanggup melakukannya sendiri, Alex akhirnya menelepon Elìas dan memintanya datang. Elìas terkejut saat melihat keadaan apartemen, tapi ancaman yang diselipkan Alex, ditambah uang yang dijanjikan, membuatnya tidak punya banyak pilihan selain membantu.
Mereka memasukkan plastik berisi potongan itu bersama-sama ke dalam kontainer. Alex bahkan memasukkan beberapa pakaian Eric, barang-barang pribadinya, hal-hal yang bisa jadi bukti, termasuk kain tambahan agar darah dari dalam plastik tidak merembes keluar.
Ia juga sempat menyiram semuanya dengan empat botol parfum milik Eric, agar wangi itu bisa menutupi bau amis yang menyebar.
Kini, semuanya selesai. Elìas dengan napas terengah baru saja merapikan sebagian apartemen yang berantakan. Ia mengepel lantai, mengelap meja, bahkan membenarkan barang-barang yang tergeser, berusaha membuat semuanya nampak normal.
Namun karena kekurangan plastik, masih ada beberapa bagian tubuh yang tidak sempat dimasukkan. Alex menyimpannya dalam sebuah kotak di kamar mandi dan membiarkannya di sana. Rencananya, itu akan dibuang di tempat yang berbeda nanti.
Kembali hening, Alex perlahan bangkit, tapi matanya masih terpaku pada kontainer itu.
"We need to bury him." lelaki itu menutup kotak tersebut dengan cepat, menumpuk beberapa barang di atasnya lalu memastikan semua tertutup rapat. Dari luar, kontainer itu tampak seperti kotak biasa, tidak ada yang akan curiga jika hanya melihat sekilas.
KAMU SEDANG MEMBACA
NICHOL: Under The Maple Rain
Teen FictionFOLLOW SEBELUM MEMBACA! Memilih untuk menerima perjodohan yang Eyangnya lakukan, Rain pikir semua akan kembali normal dan masalahnya dapat teratasi. Rain tak pernah tahu, tindakan yang ia ambil akan berakhir menyedihkan. Rain memutuskan untuk meni...
