08. Normal day

44.9K 4.7K 161
                                        

Vote dulu sebelum baca!

___

Tak terasa Naura sudah menghabiskan semangkuk Mie kuah buatan Barra. Sebenarnya ia merasa sedikit canggung, namun tak menghiraukannya.

"Enak, Nau?" Tanya Barra.

Naura mengangguk seraya mengusap sisa kuah di sudut bibirnya.

"Naura mau kebawah dulu naro mangkuk." gadis tersebut bangkit dari duduknya berjalan ke arah pintu.

Setelah mencuci mangkuk dan menyimpannya, Naura kembali naik guna melanjutkan belajarnya. Ia sempat ragu karena Barra masih ada disana, dan itu membuatnya sedikit merasa tidak nyaman. Namun apa boleh buat?

Disaat Naura memasuki kamarnya, sudah ada Barra yang berdiri di depan pintu membuat gadis tersebut terkejut.

"Belajar yang bener, saya keluar dulu," Ujar Barra seraya memeluk Tubuh Naura secara tiba-tiba.

Naura yang terkejut pun hanya bisa diam mematung dengan suasana hati yang sulit diartikan. Ia terlalu takut untuk melawan, juga terlalu takut untuk menatap mata Barra. Entah kenapa, tapi memang itulah yang sedang dirasakannya.

___

Tak terasa hari mulai malam, Naura yang semula sibuk belajar kini turun kebawah untuk memastikan apakah semua orang sudah tidur. Ketika ia menuruni tangga, terlihat olehnya dua orang laki-laki tengah duduk didepan teras rumah seraya mengobrol, sedangkan di dapur terlihat seorang wanita paruh baya tengah membuat dua gelas kopi hitam.

"M-mau Ura bantu, Ma?" Bagaimanapun orang tersebut telah membesarkan Naura dengan baik, kurang pantas rasanya jika ia diam saja ketika orang tua keduanya tengah sibuk.

"Boleh. Nih, anterin kedepan." Wanita tersebut memberikan sebuah nampan berisikan dua gelas kopi hitam di atasnya.

"Iya." Naura menerimanya lantas berjalan keluar rumah.

Kedua lelaki yang tengah nongkrong tersebut menoleh kearah Naura, "wah! makasih," ucap Nugraha.

"Sama-sama."

Setelah mengantarkan kopi, sebenarnya Naura ingin duduk dikamar saja namun Nugraha menghentikan niatnya.

"Naura. Duduk sini, Nak. kita ngobrol bareng," ujar Nugraha membuat Naura mau tak mau menuruti perkataannya. Gadis tersebut memilih duduk di samping Nugraha, sedangkan mamanya duduk disamping Barra.

"Jadi gimana, Nak?"

"Gimana apanya, Pa?" Naura pura-pura tidak paham.

"Kamu maunya gimana? lanjut apa udahan?" Sebenarnya Naura sangat mengerti apa yang dimaksud oleh Nugraha, namun ia masih bimbang dengan keputusannya sendiri.

Ia tahu Barra orang baik, perhatian, bertanggung jawab, dan juga tampan. Namun selama ini ia benar-benar hanya menganggapnya sebagai Om-nya sendiri.

"Nau?" Cecar Nuraini disaat Naura melamun.

"Naura bingung, Pa," Ucap Naura seraya menundukkan kepala.

"Kamu harus memikirkan ini baik-baik, Nak. karena masa depan kamu tergantung pada hubungan ini."

"Dan jangan lupakan usia Barra yang terus berjalan. Barra juga pasti membutuhkan kamu sepenuhnya."

Naura hanya mengangguk-angguk, ia bukan anak kecil yang tidak mengerti maksud dari kata-kata yang diucapkan Nugraha. Ia sangat paham bahwa disini mereka sedang membicarakan hak dan kewajiban. Masalahnya, Naura sendiri masih belum bisa menerima sesuatu yang selama ini disembunyikan dari dirinya.

"Barra nggak apa-apa kok, Pa. Biarin dia fokus sama sekolahnya dulu." Barra mulai menyeruput kopi hitamnya.

"Sekali lagi maafin Naura, Ma, Pa. Insha Allah setelah Ura lulus." Semua orang menoleh kearah Naura yang entah sadar atau tidak disaat mengatakan hal tersebut.

Om Barra [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang