27. Pindah rumah

37.7K 3K 111
                                        

-Vote dulu sebelum baca!
.

.

.

Satu Minggu berlalu. Barra merenungkan ucapan seniornya, untuk membawa Naura pindah dan tinggal bersamanya. Sepertinya Barra harus melakukan itu. setelah kejadian beberapa hari lalu, Barra semakin tidak ingin jauh-jauh dari Naura.

Namun alih-alih menyewa kos-kosan, Barra lebih memilih untuk menyewa apartemen untuk sementara. Itu semua bertujuan untuk menjamin kenyamanan Naura dan juga dirinya.

"Pak! saya izin nelfon dulu, boleh?" Izin Barra kepada seniornya.

"Iya, silahkan!"

"Terima kasih, pak!" Ucapnya kemudian pergi untuk menelfon.

"Halo, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Kamu ngapain, Ur?"

"Aku lagi makan, emangnya kenapa?"

"Jadi gini, saya mau ngajak kamu pindah."

"Pindah? Kemana?"

"Ke apart Deket kantor saya."

"Terus ini siapa yang ngurus rumah?"

"Mama kan ada, nanti bakal saya cariin pembantu."

"Terserah kamu, aku ngikut aja."

"Ur? Kamu barusan manggil saya?"

"Kamu, emangnya kenapa?"

"E-enggak kok, tumben aja."

"Gak boleh? Ya udah Naura manggil Om lagi."

"Jangan, saya gak setua itu."

"Itu tau."

"Gimana luka kamu?"

"Mendingan. Tapi,"

"Tapi?"

"Kenapa leher aku merah?"

"A-apa?"

"Leher aku merah. Kayak, ada bekas gitu."

"M-mungkin, digigit nyamuk?"

"Masa sih?"

"Y-ya kali aja, siapa tau aja gitu."

"Tapi kok,"

"Em, Ur! Udahan dulu telfonnya, saya mau lanjut kerja."

"Ya udah deh."

"Assalamualaikum,"

"Waalaikumsalam."

Pria itu menipiskan bibirnya. Ia baru ingat kalau kemarin malam dirinya sempat pulang untuk mengambil beberapa berkas yang tetinggal. Merasa terlalu tanggung untuk balik cepat, akhirnya Barra memutuskan untuk sekalian bermalam di rumah bersama Nauranya tercinta.
___

Sore hari berlalu, Barra pergi ke rumah orang tuanya untuk menjemput Naura. Sebenarnya sebelum pulang, Barra terlebih dahulu menyewa apartemen yang direkomendasikan oleh seniornya agar ia bisa tinggal bersama sang istri tercinta.

"Assalamualaikum," ucapnya memasuki rumah.

Sunyi, lampu rumah pun sudah dimatikan. Tidak seperti biasanya yang terbuka hingga larut malam, dan tidak akan padam jika bukan Barra yang mematikan. Laki-laki itu berjalan santai menuju kamarnya, namun tak menemukan keberadaan Naura.

Ia mengecek di kamar yang satunya, ternyata benar! Naura tidur di kamarnya sendiri, bukan di kamar Barra. Ia pun menghampiri Naura dan membangunkannya.

"Ur," panggilnya perlahan seraya menepuk-nepuk lembut pipi Naura. Kedua mata yang semula tertutup, kini terbuka perlahan kala sang pemilik merasakan sentuhan seseorang.

Om Barra [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang