Spam Vote dan komentar di setiap paragraf untuk next!🤩
Happy reading♡
•••
Berhubung keadaan Barra sudah mulai membaik, maka hari ini juga ia bisa dibawa pulang. Tentu saja hal tersebut membuat Naura teramat bahagia, meskipun Barra mungkin akan sedikit berbeda dari dirinya yang dulu.
Ia tahu bahwa hal ini tidak akan mudah bagi Barra. Ia tahu Bahwa cepat atau lambat suaminya itu akan merasa lelah dan jengkel dengan semua kesulitannya. Maka dari itu ia memutuskan untuk selalu ada di samping Barra, menghiburnya jika Barra merasa kecewa, memeluknya disaat Barra merasa lelah, dan menyemangatinya disaat Barra sudah mulai menyerah.
Masih ada waktu sekitar satu bulan lagi sebelum ia melahirkan, maka Naura akan menggunakan waktu itu dengan sangat baik untuk berbakti kepada suaminya. Seperti saat ini, Naura lah orang yang paling cekatan ketika mereka semua membereskan barang-barang milik Barra. Mereka akan pulang hari ini juga, namun sebelum itu Barra harus terlebih dahulu diambil sampel darahnya. Jangan harap jika Naura turut menemani, tidak! Ia tidak akan baik-baik saja jika melihat darah!
Selesai mengambil sampel darah, dokter dan suster pun keluar dari ruangan. Naura yang semula di luar, kini kembali masuk kedalam untuk membantu yang lainnya.
"Biar Naura aja yang bawa baju ganti papa," ucapnya sebelum meraih tas ransel bermotifkan tentara milik ayahnya.
Namun sebelum itu, Nuraini terlebih dahulu memotong. "Enggak usah, nak. Nanti kamu capek. Udah, kamu cukup bawa cucu mama aja."
"Kalau cucu mama kan memang udah dibawa Naura hampir sembilan bulan ini, ma?" Sahut Barra menduduki perlahan kursi roda dibantu oleh Koko, sahabatnya.
Nuraini terkekeh, membenarkan perkataan Barra. "Iya juga, mama lupa."
"Jadi Naura bantu apa, ma?" Tawarnya sekali lagi, Naura tidak ingin menganggur dan dianggap tidak berguna.
"Kamu temenin mas aja, sayang. Sini deketan," pinta Barra membuat seorang jomblo ngenes hanya bisa menatap nanar sepasang alay di depannya. Sungguh, jika bukan karena Barra adalah kakak tingkat sekaligus bestai nya, maka ia tidak akan pernah mau menjadi obat nyamuk diantara mereka.
"Kak, berat nggak? Kalau enggak biar aku aja yang dorong kursi rodanya," ucap Naura kepada Koko, namun langsung dibantah oleh Barra.
"Jangan!"
"Kok?"
"Bener, jangan. Dia berat, nanti Lo kenapa-kenapa." Oke, Naura hanya bisa menurut dan berjalan disamping kursi roda Barra.
Ketika mereka sudah sampai di depan mobil, Nugraha dan Koko sama-sama cekatan membantu Barra. Lelaki itu merasa beruntung memiliki sahabat dan ayah sebaik mereka. Mama dan papanya tidak ikut mobil Koko, mereka membawa mobil sendiri. Ya iya lah, enggak muat alias sesek kalau semobil semua.
"Hati-hati, kak. Jangan ngebut-ngebut," tutur Naura dari kursi belakang.
"Iya, Naura."
___
Setelah sampai di rumah, Koko dan Nugraha langsung membawa Barra ke kamar tamu yang berada di lantai satu. Karena memang keadaannya tidak memungkinkan untuk naik tangga, maka mau tidak mau Barra harus tidur di kamar itu karena tidak ingin terlalu kesulitan disaat ia ingin pergi kemanapun.
Namun tetap saja, meskipun ia tidak tidur di kamar atas, tetapi ia dan Naura masih akan tidur bersama. Naura tidak mau membiarkan suaminya tidur sendirian hanya untuk jaga-jaga disaat pria itu membutuhkan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Om Barra [TERBIT]
Teen Fiction[TERSEDIA DI SHOPEE] 17+ CERITA INI MURNI KARYA SAYA SENDIRI❗ PLAGIAT HARAP MENJAUH❗ "jadi selama ini kalian bohong sama Naura?" "Kenapa, Om? Kenapa Om Barra tega? Naura masih sekolah!" "Saya melakukan semua ini juga ada alasannya, Naura! Saya harus...
![Om Barra [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/266474891-64-k219210.jpg)