Halo semuanya, apa kabar?
Nggak kerasa udah sejauh ini, ada yang udah bosen? Hehehe cuma kepo aja sih.
Kalau boleh jujur sebenernya aku lagi gak mood, nggak tau kenapa..
But it's okay, biasalah mood cewe emang gak bisa di prediksi eaa. Udah kee cuaca aja.
Mungkin gak lama lagi cerita ini bakal tamat huuuu, sedih jadinya. Tapi jangan khawatir, pasti ada ekstra part nya dong! Yakali nggak ada...
Dan jangan lupa pindah ke cerita sebelah yaa? Gak kalah kecenya loh sama si Naura dan Om Barra hehe.
Okey kalau gitu cus lah kita bacaa!
•••
Tidak ada yang abadi di dunia ini. Allah menciptakan manusia memang untuk diambil kembali ke kehidupan sesungguhnya. Kehidupan kekal, dimana kita akan menuai hasil dari apa saja yang telah kita perbuat di dunia yang fana.
Tanpa diduga-duga tentunya, sang maha kuasa mengambil nyawa seseorang secara tiba-tiba ketika memang sudah waktunya. Tak perduli sekencang apapun kau berlari, serapih apapun kau bersembunyi, maut pasti akan datang menghampiri.
Begitu pula dengan yang sedang dialami anak perempuan satu ini. Setelah kepergian ayah handa sejak ia berumur sebelas tahun, kini ia harus kembali merasakan hal yang sama, yaitu kehilangan sang ibunda tercinta, tepat di perayaan ulang tahunnya yang ke sembilan belas tahun.
Masih tidak percaya dengan apa yang telah menimpanya, gadis itu memeluk tubuh dingin dan kaku sosok wanita yang telah melahirkannya. Ibundanya tercinta, kini telah berpulang ke Rahmatullah meninggalkannya sendirian.
Jantungnya seakan tidak ingin berdetak, agar bisa pergi dan terus bersama dengan sang ibunda yang telah pergi jauh darinya. Ya Allah, kenapa dirimu begitu kejam? Pikir gadis tersebut dalam hati. Ia masih tidak bisa menerima semua ini, tidak bisa!
"Mamaaa!"
"Ma... Bangun, ma..."
"Jangan tinggalin Rain sendirian, ma..."
"Rain janji, bakal jadi orang sukses. Rain janji, ma..."
Begitulah kira-kira naungan yang memenuhi kediaman Raini, sahabat Naura itu sedang berduka atas kepergian sang mama yang begitu mendadak.
Jujur, Naura pun tak kuasa menahan air matanya. Ia tidak tega melihat sahabatnya dalam kondisi seperti ini. Dengan mata yang sudah sembap, Naura memeluk kuat-kuat sahabatnya itu. Setidaknya, ia bisa menjadi sandaran untuk Raini yang sedang benar-benar kacau.
"Udah, Rain. Ikhlasin mama kamu, ya? Biar dia tenang di atas sana," ujar Naura sesak dengan tangan yang setia mengusap punggung Raini.
"Kalau kamu begini, nanti mama kamu bakal sedih banget, Rain. Udah, ya? Kamu harus ikhlas." Naura tidak perduli dengan perutnya yang terasa ngilu, ia hanya khawatir dengan keadaan Raini untuk saat ini.
"Nau-ra.. mama, Ra.." ucap Raini tersendat-sendat.
"Iya, udah. Ikhlas, Rain, ikhlas."
Kedua tangan Raini memeluk erat tubuh Naura, ia tidak mencegahnya. Saat ini yang paling dibutuhkan oleh Raini adalah dirinya, sahabat baiknya.
"Nak Raini, ikhlasin mama ya, nak? Semoga beliau ditempatkan di surganya Allah," ujar salah satu tetangga.
Jenazah almarhum mah ibu Raini sudah selesai dimandikan dan di sholatkan, kini tinggal dibawa ke tempat peristirahatan terakhir saja. Meskipun keadaan Raini sudah agak membaik, namun tetap saja anak iku menolak ketika para warga ingin menutup keranda yang akan menjadi kendaraan terakhir ibundanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Om Barra [TERBIT]
Teen Fiction[TERSEDIA DI SHOPEE] 17+ CERITA INI MURNI KARYA SAYA SENDIRI❗ PLAGIAT HARAP MENJAUH❗ "jadi selama ini kalian bohong sama Naura?" "Kenapa, Om? Kenapa Om Barra tega? Naura masih sekolah!" "Saya melakukan semua ini juga ada alasannya, Naura! Saya harus...
![Om Barra [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/266474891-64-k219210.jpg)