BERMAIN-MAIN

1.2K 178 4
                                    

Keysa berjalan bersama Leon, mereka sedang berada di mall. Levich terlihat di belakang Keysa berjalan bersama Raden. Mereka diam, Raden ingin mengajak Levich berbicara namun dia masih takut.

Leon dan Keyasa sengaja meninggalkan mereka berdua untuk memberikan mereka waktu bersama.

"Bunda yakin gapapa ninggalin abang sama dia?" bisik Leon yang sedang menggandeng tangan Keysa.

Keysa mengangguk, dia percaya kalau Raden tidak akan macam-macam lagi pula dia yakin Raden sudah tobat.

"Udah biarin abang kamu disana kita kencan berdua" kata Keysa sembari tertawa pelan.

Leon tersenyum dia mengeratkan genggamannya dan berjalan menuju salah satu toko.

Di sisi lain Levich mengedarkan pandangannya mencari keberadaan bunda dan adiknya. Baru sebentar ia mengalihkan pandangannya ke arah lain bunda dan adiknya langsung menghilang di depan.

"Udah biarin mereka, bunda kamu emang gitu" kata Raden.

Levich menatap Raden sekilas kemudian dia memilih duduk di bangku yang ada disana. Raden ikut duduk di samping Levich, mungkin Keysa sedang memberinya waktu untuk bersama dengan anaknya itu.

"Gimana sekolah kamu?" tanya Raden.

"Baik" jawab Levich, Raden tersenyum setidaknya Levich menjawab pertanyaannya.

Raden mengikuti arah pandangan Levich yang menuju pada area lapangan basket. Raden kemudian tersenyum, apakah anaknya ini suka bermain basket?.

"Mau tanding basket?" tanya Raden.

Levich menatap Raden sekilas kemudian dia mengangguk dan segera berdiri. Mereka berjalan menuju lapangan basket. Kedatangan mereka berdua menjadi pusat perhatian banyak pengunjung disana. Keysa yang tak sengaja melihatnya kemudian menarik Leon agar pergi ke lapangan basket.

Semua orang yang ada disana menepi saat Raden dan Levich yang sudah berganti pakaiam masuk ke lapangan. Mereka berdua terlihat sangat tampan. Raden terlihat masih muda dan tampan membuat beberapa wanita disana bersorak senang.

"Pesona duda" gumam Keysa.

Leon menatap mereka berdua dengan dahi berkerut apa dia belum tau seberapa jagonya permainan abangnya itu?. Tidak ada yang berani menantang Levich sebelumnya.

Keysa membuka camilan dan bersiap menikmati permainan yang akan menjadi sangat seru itu. Dia tau kalau Raden juga bisa bermain basket jadi kita lihat siapa yang akan menang apakah Ketua tim basket SMA atau Ketua tim basket nasional.

Permainan dimulai, Raden dengan santai mencoba merebut bola ditangan Levich.

Levich dengan cepat menghindar dan berlari menuju ring

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Levich dengan cepat menghindar dan berlari menuju ring. Ia melemparkan kedalam ring namun dapat ditangkis oleh Raden. Kini Raden yang memegang bola. Dia bergerak dengan lincah membuat pengunjung bersorak, Levich sedikit terkejut melihat pergerakan Raden. Namun akhirnya Levich dapat merebut bola dan langsung melemparnya ke dalam ring.

Semua orang bersorak senang, terutama Keysa. Raden tersenyum, skill bermain anaknya boleh juga. Dia masih bermain dengan santai mengingat lawannya kali ini adalah anaknya sendiri namun melihat Levich yang juga mahir bermain akhirnya Raden kini mulai bermain dengan serius.

Levich terlihat kesulitan menghadapi Raden, dia tidak percaya kalau ayahnya itu mahir bermain. Hei buah jatuh tak jauh dari pohonnya Levich!.

Permainan berakhir, dan Raden yang memenangkannya. Keysa berjalan mendekat dan memberikan dua botol air mineral pada mereka.

"Wah hebat banget kalian" kata Keysa.

"Ko om bisa ngalahin abang si?" tanya Leon.

Raden tersenyum dia dulu menjadi kapten dan menjuarai perlombaan basket nasional. Untuk lawan seukuran Levich bukan apa-apa baginya.

"Dia dulu kapten tim nasional" kata Keysa.

Levich dan Leon terlihat terkejut mendengar penuturan dari Keysa. Keysa menaikan sebelah alisnya melihat wajah terkejut Levich, kalo Leon dia masih bisa memakluminya namun Levich?! Dia bahkan memajang beberapa kata-kata motivasi dari Raden di kamarnya.

"Dia si ayam jago kamu ga tau? Astagaa Levich.." kata Keysa sembari menggelengkan kepalanya.

Levich terdiam, dia menatap Raden yang sedang meminum airnya. Jadi idolanya sendiri adalah ayah kandungnya?!.

Disisi lain ada seorang wanita yang menatap marah ke arah mereka berempat, dia mengepalkan kedua tangannya melihat Keysa yang tertawa bersama mereka.

"Gue bakalan hancurin lo Keysa"

.....

Keysa berjalan memasuki rumahnya dan langsung disambut Xander di depan pintu.
"Ko lama banget ngapain aja?" tanya Xander sembari menatap Keysa tajam.

"Jalan-jalan" jawab Keysa dengan santai.

"Ayah tenang aja bunda ga ngapa-ngapain ko, ada Leon yang jagain bunda" kata Leon yang tau ayahnya itu khawatir Keysa akan berdekatan dengan Raden.

Xander mengangguk kemudian menyuruh kedua anaknya untuk masuk ke dalam. Dia menghampiri Keysa dan memeluknya erat.

"Kamu gapapa?" tanya Xander lembut sembari melepaskan pelukannya.

"Gapapa ko" kata Keysa.

"Jadi gimana?"

"Kayaknya bakalan lama, dia belum bisa maafin Raden" kata Keysa lirih.

"Gapapa nanti juga terbiasa" kata Xander lagi sembari menggenggam tangan Keysa dan membawanya masuk kedalam.

"Xander, ada masalah yang harus kita omongin" kata Keysa, dia ingin menceritakan semua yang di katakan Raden padanya. Xander mengangguk dan mereka kembali melanjutkan langkahnya.

Sedangkan Levich, dia menatap salah satu kata-kata motivasi di dinding. Dia tidak menyangka orang yang selama ini dia idolakan adalah ayahnya sendiri. Ayahnya? Mungkin kesalahan pria itu memang tidak bisa dimaafkan tapi dia tidak ingin membuat bundanya menjadi sedih. Jika dilihat bundanya juga sudah memafkan pria itu. Apa lebih baik dia juga mulai menerima pria itu menjadi ayahnya?.

......

"Siapkan semuanya"

"Kali ini aku gabakalan biarin lo hidup Keysa"

Wanita itu tersenyum miring di depan kaca di kamarnya setelah menelfon seseorang dan memberitahukan rencananya.

Vote yuk..

Nightmare or Sweet dream S1&S2 {HIATUS}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang