49.

5.4K 267 46
                                        

Mina terbangun dari tidurnya yang nyenyak oleh suara panggilan telepon. Ponselnya terus bergerak karena getaran di atas nakas. Mina bangun mengumpulkan kesadaran sedikit demi sedikit dan melihat nomor baru muncul di layar ponselnya.

Dia tidak ingin menerima panggilan dari nomor asing, tetapi juga khawatir jika itu penting. Sebelum berakhir, Mina segera menerimanya dan menunggu si pemanggil bicara lebih dulu.

"Halo, Mina?" Panggilan Devan yang terdengar genit membuat Mina hampir mual karena jijik. "Verner di sini lagi mabuk. Nggak mau lo jemput? Tadi mau nyetir katanya. Gue males nganterin pulang."

Sudah Mina duga. Maaf dari Devan saat itu tak ikhlas. Dia kembali berulah.

"Sebagai teman harusnya nggak lo biarin, dong. Kalau dia kenapa-kenapa gimana?"

"Ya bukan urusan gue?" Devan tertawa mengejek. "Ver, sini kunci lo. Malah mau nyetir."

Ucapan Devan yang terkesan alami membuat Mina percaya Verner ada di sana dan sedang mabuk.

"Gue ada urusan. Lo jemput gih. Bawa ke taksi sana."

"Tapi kan lo bisa bawa langsung ke taksi! Terus arahin ke apartemennya. Gue jemput di lobi."

"Gue nggak mau, tuh?"

Mina mengernyit kesal. Semakin kesal saat Devan mengakhiri sambungan telepon dengan tiba-tiba. Satu pesan dari Devan kemudian dia terima.

|| Cepetan gue buru-buru pergi. Bentar gue kirim lokasinya

Mina segera memakai jeans dan hoodie. Sejujurnya dia takut melihat nama tempat yang Devan kirim. Mina tak pernah pergi ke sana. Apalagi sendirian. Namun, di pikiran Mina hanya bagaimana agar dia cepat datang ke tempat itu menjemput Verner sebelum Devan pergi. Hanya Devan satu-satunya alat komunikasi agar dia bisa sampai di hadapan Verner.

Dia nekat pergi sendirian. Saat tiba, Devan menunggunya di depan dan membuat Mina mudah untuk masuk karena cowok itu punya kenalan di sana. Mina sangat tidak nyaman melewati lautan manusia yang sedang bersenang-senang dengan musik. Dentuman suara musik dan rasa takut membuat degupan kencang di jantungnya menjadi berkali-kali lipat dari biasa.

Devan tersenyum membuka sebuah ruangan, mempersilakan Mina masuk dan segera menutupnya. Mina melihat setiap sudut dan hanya ada teman-teman Devan selain Verner.

Mina menoleh dan melihat senyum misterius Devan hingga membuatnya ketakutan. "Verner ... ke mana?"

Devan tertawa. "Coba lo cari di belakang sofa? Siapa tahu dia sembunyi?"

"Gue serius!" Mina berteriak tertahan. Ada yang tidak beres. Dilihatnya pintu yang sengaja Devan blokir. Gilang berdiri dari sofa dan menyuruh Devan untuk menyingkir. Mina mengambil kesempatann untuk ikut keluar, tetapi Devan menahan tangannya.

"Mau ke mana, sayang?"

"Lepas!"

"Mau ke mana? Nggak mau tunggu yayang lo dulu?" Devan menarik Mina dengan paksa, mencengkeram tangan Mina yang memaksa untuk dilepas. Cowok itu mendorong Mina ke sofa sambil menyeringai, lalu mengambil botol minuman keras dan menyodorkannya ke mulut Mina dengan paksa.

"Minum ini, sayang."

Mina memukul tangan Devan. Tubuhnya tak bisa bergerak karena Devan menindih bahunya dengan tangan sekuat tenaga. Dia terbatuk-batuk. Tenggorokannya panas. Air matanya keluar saat memandang Devan yang memperlakukannya dengan tak manusiawi.

"Mau lagi?" tawar Devan kembali menyodorkan minuman itu dan menahan bahu Mina sekuat tenaga agar tak bisa bangkit.

"Jangan—" Mina tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena kembali merasakan tenggorokannya panas saat alkohol mengalir di sana. Dia terbatuk-batuk.

"Kok jangan? Kan enak," kata Yuan sambil tertawa. Diikuti tawa Dana. Suara tawa itu membuat Mina hanya bisa menangis karena tak bisa melawan. Juga karena Devan terus-terusan memaksanya untuk minum alkohol.

"Lo seriusan nggak mau bagi 4?" tanya Dana sambil tertawa. "Ah, bagi 3 kan Gilang nggak mau."

Devan puas melihat perlakuannya sendiri pada Mina. "Iya, lah. Dia punya gue malam ini."

"Anjir, pelit lo Dev!" teriak Dana kesal.

"Makanya pada keluar sana."

"Bentar. Gue mau nontonin tuh cewek kesiksa."

"Emang parah si Dana, sukanya penyiksaan!" seru Yuan.

Devan tersenyum saat kembali memaksa Mina untuk minum. "Minum ini. Lo gue enakin malam ini, mau kan?"

Mina menggeleng sambil terisak. Dia tak bisa melakukan apa pun. Saat berusaha bangkit, Devan berhasil membuatnya kembali duduk di sofa dan kembali memaksanya untuk minum.

[]

Verner tak tahu sudah berapa lama dia dan Auris melakukan ini. Lama tak melakukannya, dia sampai lupa waktu. Verner melampiaskan semua yang sudah berhasil dia tahan selama ini sampai lupa bahwa dia telah mengkhianati Mina.

Ini adalah aktvitas kedua dan Verner mulai teringat dengan Mina. Belum selesai mendapatkan apa yang Auris inginkan, Verner bangun dari atas Auris dan berbaring di sampingnya.

Verner merenung dalam diam. Auris memandangnya bingung. Kemudian saat sadar pikiran Verner mengarah ke cewek lain, Auris mengajak Verner membicarakan hal yang tak akan membuat cowok itu mengingat Mina.

"Ada masalah sama bokap lo lagi?" Auris mengusap rambut Verner.

"Ya, itu juga termasuk."

"Gue siap kok dengerin curhatan lo. Lo tahu? Kalau lo terus mendem masalah, lo yang akan hancur sendiri."

"Jadi, maksud lo kalau gue nyeritain ke orang lain, gue bakalan hancur bareng orang itu?"

Auris tertawa. "Nggak gituuu, Verner." Auris mendekatkan wajahnya di depan wajah Verner. "Maksud gue—"

Auris menghentikan ucapannya karena ciuman singkat dari Verner di bibirnya.

"Gimana kalau curhatnya besok aja? Malam ini kita mau berapa sesi?" Verner menyangga tubuhnya di atas Auris dengan cepat.

Auris tersenyum nakal. "10?"

"Emang lo sekuat itu?"

"Harusnya gue yang nanya, emang lo sekuat itu?"

[]

"Bangsat. Verner anjing ke mana, dah?"

Gilang mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Verner tak bisa dihubungi sementara satu-satunya yang bisa menolong Mina sekarang adalah dia. Gilang sadar dia akan kalah jika melawan tiga temannya.

Di antara mereka berempat, hanya dia yang tidak setuju dengan tindakan Devan malam ini. Maka dari itu dia memutuskan untuk tidak terlibat dalam masalah itu.

Akan tetapi, bukan berarti dia akan tinggal diam. Devan sudah gila. Yuan dan Dana juga sama gilanya karena membiarkan Devan bertindak lebih dari binatang bahkan mereka sengaja berada di dalam sana hanya untuk menonton sesuatu yang mereka katakan pertunjukan sebelum meninggalkan Devan melakukan aksi bejatnya pada Mina. 

Yuan dan Dana sudah keluar, mencari teman tidur mereka setelah menyaksikan penyiksaan yang Devan lakukan kepada Mina.

Di dalam ruangan itu Mina antara sadar dan tak sadar. Minuman keras membuatnya nyaris hilang kesadaran. Dia terbaring di atas sofa dengan Devan yang berdiri memandangnya tak sabar.

Mina berusaha untuk bangkit. Dia tak mau berakhir seperti ini. Samar-samar dilihatnya Devan sedang membuka kemejanya. Mina menangis tak berdaya.

Cowok itu memasukkan sesuatu ke dalam minuman, lalu menarik tubuh Mina agar duduk dan kembali memaksa Mina meminumnya.

Devan mendorong Mina hingga kembali terbaring dan bersiap-siap membuka hoodie Mina. Sempat mengusap perut Mina yang datar, membuatnya semakin bergairah.

"Coba gue cek, apa lo masih perawan atau udah nggak?"

[]

YOURSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang