"Ini minuman keras." Papa menurunkan gelas itu ke meja dengan hentakan. "Bagaimana kamu membiarkan anak belasan tahun minum ini?"
"Maaf...." Pelayan itu menunduk meminta maaf berkali-kali.
Mina masih mematung melihat sosok yang tak pernah mengunjunginya sama sekali. Berapa tahun berlalu? Sosok di depannya muncul tiba-tiba dan membuat pertahahan Mina runtuh.
Seperti yang pernah Mina katakan, meski Papa pernah membuatnya terluka, tetapi perasaan sayang itu tak hilang. Mina masih menginginkan sebuah keajaiban di mana papanya muncul dan memberikan kasih sayang.
Papa memandang Mina lekat-lekat. Di mata Papa, air mata Mina saat ini adalah bentuk kemarahan. Itu adalah hal yang sudah pasti. Meski Mina rindu, dia juga marah karena Papa tak pernah memberi kabar padahal dia adalah anaknya.
"Bagaimana kabar kamu, Mina?" tanya Papa pelan. Mina menunduk dalam-dalam.
"Baik," jawab Mina dengan suara yang bergetar.
Papa memandang tempat berlangsungnya acara keluarga Sullivan, lalu memandang Mina yang menunduk sedang berusaha menyembunyikan segala ekspresi yang berantakan.
"Ayo. Papa mau bicara."
[]
Keduanya duduk di sebuah kursi yang berhadapan. Situasi yang tiba-tiba ini membuat Mina banyak diam dan menunduk. Papa telah berubah karena waktu. Mengenai sifat, Mina tak tahu apakah juga sudah berubah. Keberadaan Papa di acara ini membuatnya jadi bertanya-tanya hanya dalam hati. Mina tak ingin basa-basi. Apa yang diinginkannya sekarang adalah kejelasan mengapa Papa tak pernah mengabarinya.
"Jadi, Papa nggak pernah ngasih kabar karena nggak mau ketemu sama Mama?" gumam Mina setelah mendengar alasan Papa barusan.
"Papa bahkan nggak mau bahas itu sekarang."
Jawaban Papa membuat Mina makin kecewa. Jawaban tadi tak membuat Mina puas. Mina mendongak pelan. "Pasti karena Papa juga sibuk sama keluarga baru...."
Papa mendengkus. Ditatapnya langit malam. "Papa juga nggak mau bahas itu, Mina. Sekarang, jawab Papa, apa kamu baik-baik saja selama ini? Apa kamu hidup lebih baik?"
Air mata Mina berkumpul di pelupuk mata. Dia menahan diri untuk tidak menangis. "Nenek meninggal. Kakek juga udah pergi. Mama udah beberapa bulan yang lalu di luar negeri." Mina tersenyum miris. "Aku sendirian."
Deg. Papa merasa hatinya tercabik-cabik melihat Mina berusaha tersenyum.
Namun, dia berusaha untuk tidak iba karena sesuatu hal.
"Maafin Papa, Mina. Karena masalah dengan Mama kamu, Papa jadi jahat." Papa menghela napas. "Papa nggak pernah hubungi kamu karena Papa juga pikir kamu baik-baik aja. Papa takut, kehadiran Papa kembali cuma bikin kamu marah."
"Aku sama sekali nggak marah kalau Papa muncul. Aku justru marah karena Papa nggak pernah ngasih kabar." Mina menunduk. "Ada banyak kejadian selama ini."
"Kamu mau tinggal bareng Papa?"
Mina memandang Papa terkejut.
"Papa serius. Harusnya dari dulu Papa nyariin kamu. Harusnya Mama kamu nitipin kamu ke Papa, bukannya tinggal sendirian."
Mina belum menceritakan apa pun soal Baron dan Mama yang sudah menikah dengannya. Papa tak mungkin tahu akan hal itu.
"Papa ... punya keluarga lain, kan?" Harapan Mina bahwa Papa menggelengkan kepala. Nyatanya sebaliknya. Papa mengangguk. Papa memang punya keluarga lain. Justru aneh sudah hampir sepuluh tahun berlalu dan Papa belum punya keluarga baru.
"Aku kayaknya nggak bisa. Aku nggak gampang bersosialisasi apalagi untuk hal ini." Mina tidak bisa membayangkan berada di antara keluarga utuh sementara dia datang sebagai orang asing satu-satunya dalam keluarga itu. "Pasti canggung. Nggak. Aku nggak mau."
"Papa harap kamu pikir dulu. Sudah saatnya Papa ngurus kamu. Dari dulu, Papa terlalu pengecut untuk ketemu kamu, Mina. Di sana kamu bisa punya teman. Kamu punya satu adik perempuan dan satu...." Papa berhenti sesaat sampai Mina memandang Papa karena menunggu ucapannya. "Saudara laki-laki."
Papa menghela napas. Hampir saja mengatakan sesuatu yang bisa menghambat Mina tinggal di rumahnya.
"Ngomong-ngomong kamu datang dengan siapa?" tanya Papa. Ini hanya basa-basi. Faktanya, Papa yang melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Mina datang bersama anak laki-laki satu-satunya Sullivan.
"Bareng—"
"Mina?" Verner muncul di dekatnya dan memandang Papa dengan tatapan menyelidik. Mina segera berdiri memegang Verner agar cowok itu menghadapnya.
"Papa aku." Mina memandang Verner, memberi isyarat lewat tatapan. Tentu jawabannya membuat Verner terperanjat.
Verner memandang papanya Mina. Menandai pria paruh baya itu sebagai salah satu orang yang dia benci karena pernah melukai Mina bahkan meninggalkan Mina begitu saja. Tatapan Verner tak ada ramahnya sama sekali. Dia tak peduli yang dia hadapi saat ini adalah orangtua kandung Mina.
"Ayo kita pulang," Verner menarik paksa Mina, meninggalkan Papa yang melihat keduanya yang mulai jauh.
"Aku lagi ngomong sama Papa aku!" seru Mina nyaris teriak. Mereka lalu berhenti. Verner memandangnya.
"Papa kamu? Aku cuma denger cerita kamu udah kesel sendiri. Ke mana aja dia? Kalau memang sayang sama kamu dia nggak bakalan ngelantarin kamu, Mina." Verner menggenggam tangan Mina. "Ayo balik. Aku nggak tahan di sini."
Raut wajah Verner membuat Mina menyadari bahwa Verner memang ingin pergi dari sini bukan semata-mata karena kehadiran Papa.
"Aku mau pamit sama Papa dulu." Mina melepaskan diri, lalu berlari menuju Papa dan pamit.
Verner mengambil ponselnya dan melihat banyaknya panggilan masuk dari asisten Sullivan. "Sial."
Ketika Mina berlari buru-buru ke arahnya, Verner segera menggapai tangan Mina dan kabur dari acara itu.
Verner melangkah lebar sementara Mina berlari kecil di belakangnya. Genggaman tangan mereka tak lepas sampai tiba di mobil.
Di tempatnya, Papa tersenyum bahagia. Laki-laki itu tak menyangka anak perempuannya dari istri kedua yang sudah bercerai lama ternyata memiliki hubungan khusus dengan anak dari Sullivan.
Dia juga kaget karena melihat Mina datang bersama Verner. Melihat keakraban keduanya, membuat laki-laki itu mendapatkan kesempatan.
Perjodohan dalam dunia binsis bukan lah hal yang aneh lagi. Anaknya memiliki hubungan khusus dengan calon penerus perusahaan besar itu adalah kesempatan emas.
Satu hal yang ingin dia perbaiki; hubungannya dengan Mina. Dia harus membawa Mina tinggal di rumahnya dan mendapatkan kepercayaan anak itu lagi.
[]
Kaburnya Verner dari acara itu membuat Sullivan marah besar. Esok harinya, Sullivan mengatakan akan datang menghampiri Verner dan memberinya hukuman. Namun, Verner tak ingin Mina melihatnya sedang disiksa. Verner mendatangi Sullivan langsung di kediamannya.
Malam harinya, Verner dipukuli habis-habisan. Cabitan ikat pinggang menjadi santapan di sekujur tubuhnya. Perlakuan yang terakhir dia dapatkan dari Sullivan setahun yang lalu, kini dia dapatkan lagi.
Perlakuan yang sudah sering dia dapatkan sejak kecil dari papanya.
Malam itu, Verner luka-luka.
Malam itu, Verner tidak ingin Mina melihatnya dalam kondisi mengenaskan dan membuat Mina khawatir.
Malam itu, Verner memutuskan untuk menemui satu-satunya orang yang pernah melihatnya dalam kondisi seperti sekarang ini.
Auristela.
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
YOURS
Teen Fiction"Lo kurang ajar. Berengsek. Suka berlaku seenaknya!" - Mina "But you love me, Mine." - Verner Sullivan [] Mina benci dengan cowok. Pengalaman yang dialaminya dulu membuat hatinya keras dan memandang cowok tak lebih dari monster. Setampan apa pun itu...
