43

4.9K 289 19
                                        

Tangan Verner mengelus ujung bibir Mina, membuat cowok itu meneguk ludah. Verner sedang bertengkar dengan pikirannya sendiri. Dia masih sadar dan bisa menahan diri. Bibir itu terakhir kali dia cium tanpa pikir panjang, membuat hubungan mereka nyaris berantakan.

Verner tidak ingin Mina tersakitiki lagi. Mina selalu mempunyai ketakutan atas perbuatan kaum laki-laki dan dia sebagai pacar Mina tak ingin semakin membuat Mina trauma.

Bibir itu terasa candu. Verner tak tahu kenapa seperti itu. Apakah karena sulit mendapatkannya? Apakah saat mencium Mina pertama kali dalam keadaan menangis dan dipaksa, dirinya merasa punya fantasi yang sangat liar?

Verner tersenyum. Ingin mencairkan suasana. Bibirnya mendekat ke bibir Mina. Satu hal yang membuat Verner terkejut adalah Mina memejamkan mata seolah siap menerima ciuman darinya.

Sekalipun Mina menyerahkan diri, Verner tidak akan mencium Mina lagi. Jika itu terjadi, maka sesuatu yang lebih dari itu kemungkinan besar terjadi.

Mina membuka perlahan matanya menyadari tak ada apa pun yang terjadi selanjutnya. Apa yang dilihatnya sekarang adalah Verner yang menahan tawa. Sadar dirinya dikerjai, raut wajah Mina langsung datar. Kesal, juga malu.

Verner mengusap-usap rambut Mina sembari tertawa. "Kamu pikir aku bakalan nyium kamu? Enggak, lah. Aku nggak bakalan nyium kamu lagi. Nggak akan yang ... ketiga kalinya?"

Mina mengalihkan pandangan tanpa bicara. Verner berbaring di sampingnya.

"Kita belum bahas ini, sih." Verner memeluk Mina dari samping dan bibirnya berada di puncak kepala Mina. "Aku tahu malam itu kamu kaget banget. Maaf. Aku belum minta maaf karena sejak kejadian itu aku nggak mau ada masalah. Jadi, aku biarin semuanya seolah-olah nggak terjadi apa-apa."

Mina menyembunyikan kepalanya di lekukan leher Verner. "Nggak mau nyium, tapi meluk terus. Kan sama aja."

"Beda. Pelukan itu bisa dibilang jauh dari nafsu."

"Masa?"

"Iya, kok. Buktinya sekarang aku nggak nafsu."

Mina menekuk wajah. "Maksudnya, kamu lebih nafsu sama cewek lain?"

Verner langsung terdiam.

"Iya, kan?"

"Enggak, kok." Verner ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tak akan mau membahas hal kotor bersama Mina. Pada dasarnya, dia menginginkan Mina. Ingin memiliki Mina seutuhnya. Sebagaimana pemikiran orang kebanyakan bahwa menjadi yang pertama menyentuh perempuannya adalah hal yang sangat istimewa.

Ada hal yang menghalangi Verner melakukan itu. Dia tidak ingin mengotori Mina dengan cara seperti itu. Mina tak boleh terjun ke dalam hal yang salah.

Verner tahu dirinya tak pantas bersama Mina. Mereka sangat bertolak belakang. Apa yang pernah dia dengar dulu sangat ingin dia lakukan, yaitu tentang menjadi pantas untuk pasangannya adalah dengan berubah menjadi lebih baik.

Membawa Mina tinggal bersamanya memang bukan hal yang wajar. Bukan juga hal yang baik. Dua orang berbeda jenis kelamin ada dalam satu atap dan bukan keluarga, sangat mustahil tak terjadi apa-apa. Verner bahkan tak menyangka bisa menahan diri sejauh ini.

Verner tak punya pilihan. Mina tak punya siapa-siapa untuk menjadi pelindungnya. Kehadiran sosok monster dalam keluarga Mina membuat Mina ketakutan setengah mati.

Verner ingin menjadi sosok pelindung. Dia tak ingin membiarkan ada perempuan lain yang dia kenal berakhir seperti ibunya.

"Aku kangen Papa." Mina bergumam. Baru saja teringat sosok papanya yang temperamental. "Papa ... ninggalin lebih banyak hal buruk, tapi kenapa aku malah pengin ketemu? Aku nggak tahu Papa di mana sekarang. Apa masih hidup? Semoga."

Verner terdiam mendengarkan. Membiarkan Mina terus bicara sampai semua yang dia pendam tentang sosok papanya keluar. Verner baru tahu soal papa kandung Mina yang ternyata belum pasti sudah meninggal.

"Nggak mau lanjut?" Verner mengusap rambut Mina sembari memperbaiki posisi ternyaman memeluk Mina. "Aku pengin denger semua tentang kamu.Tanpa terkecuali."

Mina terdiam cukup lama sampai akhirnya dia tak bisa menahan semua yang berusaha dia pendam sendirian. Mina menceritakan semua kisahnya. Tentang keluarganya yang berantakan. Tentang Papa yang seharusnya menjadi sosok pelindung justru yang membuat Mina hancur.

Verner tak menyangka Mina mengalami semua hal itu. Bahkan sampai remaja, Mina lagi-lagi mengalami hal buruk yang berasal dari Verner. 

Verner bersyukur menjadi keras kepala saat itu dan bersyukur Mina pasrah dengan keadaan. Verner tak bisa membayangkan dirinya tak bisa bersama Mina dan bisa saja Mina mengalami hal buruk lain, terutama Mina sudah dicap buruk satu sekolah sampai tak ada yang ingin menjadi temannya. Bisa saja Agnia juga menjauhinya karena Devan.

Lalu, siapa yang harus melindungi Mina?

Verner tak salah mengambil langkah. Dia lah yang akan menjadi pelindung untuk Mina.

"Nanti aku bakalan jadi ayah dan suami yang baik."

Mina memundurkan kepala untuk melihat wajah Verner yang sedang serius. "Kamu udah mikir sejauh itu aja."

"Iya, dong." Verner mendekatkan wajah mereka. "Aku ramal. Rumah tangga kita bersinar."

"Apanya yang bersinar?" Mina menahan malu mendengarnya. Verner mengarahkan tangan Mina untuk memegang pipi cowok itu.

Mereka saling membutuhkan. Namun sebagai laki-laki, Verner tak ingin menampakkan kesedihannya. Kesedihan yang terlihat hanya sepihak. Mina tak tahu perasaan sedih yang Verner sembunyikan tentang sosok papa.

"Pokoknya di bayangan aku tentang masa depan itu ada sinar. Istriku, Mina tercinta, lagi masak di dapur. Aku baru pulang kerja disambut satu pasang anak yang lucu-lucu."

"Itu kehaluan yang klise." Mina tak bisa menyembunyikan tawanya, tapi dia terlihat sangat terharu.

"Dan yang lebih penting, aku akan jadi sosok ayah dan suami yang baik. Yang memperlakukan anak dan istri tanpa kekerasan."

"Biasanya tuh yang halu cewek. Ini malah cowok yang ngayal kejauhan."

"Emang cewek doang yang bisa halu?"

"Hehe."

"Nama anak yang bagus apa, ya?" Pertanyaan Verner membuat Mina melotot.

"Kamu kejauhan banget, sih!" Saking malunya, Mina mencubit lengan Verner tanpa sadar. Verner tak merespons cubitannya dan kembali bicara.

"Nama anak yang bagus apa, ya? Ah, gimana kalau untuk anak cewek Mine aja?"

Mina memutar bola matanya. "Kamu mau nanti kalau dia udah besar, cowok-cowok pada manggilnya Mine? Jadi bahan perhatian semua orang. Mana tahu anak itu kayak aku, nggak suka jadi sorotan."

"Ah, iya juga, ya." Verner mengangguk-angguk. "Nggak jadi juga, sih. Aku kan udah ganti nama kamu jadi Mine."

"Sejak kapan?" Mina lalu tertawa. Verner merasa bahagia melihat Mina seperti ini.

"Sejak kamu jadi milik aku."

"Iyuh."

Verner memeluk erat Mina sampai Mina memukul-mukulnya. "Sini. Sini. Aku mau meluk istriku."

"Heh!"

"Kita nikah siri aja gimana?"

"Nggak mau."

"Dihalalin kok nggak mau? Maunya diharamin?"

"Mau aku pukul?"

"Cium aja gimana?"

"Verner!"

"Iya, iya. Sini peluk lagi."

"Nggak mau."

Tidak ada yang tahu, apa yang sebenarnya akan terjadi di masa depan.

[]

YOURSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang