Suasana kantor mendadak ramai.
Beberapa orang tidak dikenal memaksa masuk untuk menemui dan memeriksa salah seorang karyawan, yang terlibat kasus penyelewangan dana dari project pemerintah bernilai miliaran rupiah. Para karyawan yang semula bekerja dengan damai, dikejutkan dengan kedatangan orang-orang yang mengaku sebagai pihak berwenang.
Kasak-kusuk seketika terdengar, saat salah seorang petinggi di perusahaat tersebut diamankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait kasus ini. Pekerjaan sudah tidak lagi kondusif karena para karyawan yang menyaksikan kejadian tersebut lebih memilih untuk berdiskusi tentang hal yang baru saja mereka lihat.
"Pak Surya kena kasus apaan? Yang tadi KPK?" tanya Tika, yang sudah berseru heboh di dalam ruangan.
"Pak Surya doang, kan? Ini gak bakal ada seret-menyeret nama lain?" Vino turut menanggapi.
"Gila, gue merinding sumpah. Serem banget. Baru kali ini liat pencidukan KPK secara langsung."
Adam tak mengikuti diskusi teman-teman seruangannya, lelaki itu juga tak kalah shock dengan penangkapan sang atasan secara tiba-tiba.
Tanpa sadar, jantungnya kini turut berdetak sekian kali lebih cepat dari biasanya, saat merasakan segal macam kekhawatiran yang menyerang dirinya detik itu juga.
Jantungnya semakin berdetak tak karuan, saat orang-orang dengan penampilan tak jauh berbeda dari yang menangkap Surya, sang atasannya itu, kini memasuki ruangannya bersama Derry, Direktur Risk Management yang memegang jabatan tertinggi di bagiannya.
"Rizal Bahari dan Adam Pras Yasaka, tolong ikut ke ruangan saya."
Adam dan Rizal saling berpandangan, dengan tatapan yang dapat mereka pahami berdua, karena sepenuhnya sadar mereka terlibat dengan project dari luar yang juga menaungi Surya di dalamnya.
"Iya, Pak."
Tanpa membantah, keduanya mengikuti sosok Derry dengan salah seorang penyidik KPK untuk menuju ke ruangan sang direktur.
Karyawan lainnya yang berada di sana, segera mengambil napas sebanyak-banyaknya, lantaran beberapa detik yang mencekam itu ternyata menyambar ke ruangan mereka.
Berbagai dugaan kini bermunculan, terkait kasus yang mengaitkan rekan kerjanya itu bersama sang atasan.
***
"Rin, lo udah balik belum?" tanya Adam saat telepon tersambung pada Arin.
"Baru abis absen nih, mau jalan ke lift. Kenapa, Dam?"
Adam tak langsung menjawab, ia berpikir untuk beberapa saat, hingga akhirnya berkata, "Gue mau numpang taro barang di mobil lo, agak susah kalo bawa di motor."
"Barang apaan? Lo abis belanja online?" Suara Arin kini seperti orang tergesa untuk mengejar lift, terbukti dengan ucapan berikutnya yang tidak ditujukan untuk Adam. "Tahan dooong ... yah, udah ketutup."
"Bukan, ada ini barang-barang gue yang ditaro kantor mau dibawa pulang."
"Oh, oke. Tunggu di parkiran aja, Dam. Gue parkir di B2."
"Oke, gue tunggu depan lift ya."
Sambungan terputus, menyisakan Adam dengan kotak besar berisi barang-barangnya yang biasa ia taruh di kantor. Adam menatap miris dengan banyaknya barang-barang yang harus ia angkut dari meja kerjanya, lantaran diberhentikan secara mendadak.
Ia melangkah memasuki lift, untuk menuju tempat Arin memarkirkan mobilnya yang berbeda lantai dengan parkir motornya.
Adam sampai lebih dulu, karena ia hanya naik dua lantai dari tempatnya tadi saat menelpon Arin. Sesuai ucapannya tadi, kini ia menunggu Arin tiba di depan lift karena tidak tahu letak Arin memarkirkan mobilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendhome
RomanceArin gak suka tinggal di apartemen, gara-gara kartu aksesnya sering hilang dan harus bayar denda setiap kali membuat laporan untuk pergantian kartu. Arin juga gak suka tinggal di kos-kosan. Sempit dan sumpek. Sebesar-besarnya kamar kos, tetap aja c...
