Part 59

12.3K 1.7K 269
                                        

Arin datang ke kantor pukul sepuluh pagi, setelah izin telat pada atasannya dengan alasan kurang enak badan. Ia tidak mungkin menambah jatah cutinya, setelah minggu kemarin baru menggunakannya untuk liburan.

Liburan sialan itu.

Dadanya kembali merasa sesak, saat kembali mengingat kenyataan bahwa hubungannya dengan Adam sudah kandas. Arin yang semula berusaha fokus dengan dokumen yang sedang diperiksanya, ia kembali merasakan matanya yang tersembunyi dibalik kacamata hitam yang sengaja ia gunakan demi menutupi mata sembapnya kembali memanas.

Setetes air mata jatuh di atas dokumen yang tadi tengah diperiksanya. Arin buru-buru menarik tisyu yang ada di samping telepon, lalu kembali menyeka air matanya yang masih belum habis.

"Rin, lo nggak mau izin pulang aja?" Intan yang mejanya berada di sebelah Arin, tampak khawatir saat melihat Arin terus-terusan mengambil tisyu dan mengarahkan ke wajahnya.

Sepenglihatan Intan, Arin seperti sedang flu. Intan berpikir tisyu yang diambil Arin untuk menyeka cairan yang keluar dari hidungnya.

Arin yang datang rambut yang tidak sebadai biasanya. Kaca mata hitam yang membingkai matanya, bibir pucat yang luput memakai lip product karena Arin terlalu sibuk menata kepingan hatinya yang hancur, hingga warna blush on yang tidak terlihat on.

"Nggak papa, Tan. Gue masih oke, kok."

"Yakin? Nanti lo pingsan lagi." Raya yang duduk di seberang mejanya turut menimpali, karena sosok Arin yang hari ini diam, membuatnya ikut khawatir.

"Aman kok. Cuma flu biasa ... sama sakit mata."

"Mau pinjem selimut gue nggak? Lo pasti kedinginan banget deh, mana AC kantor nih kan udah kayak kulkas." Intan yang masih terdengar khawatir, menawarkan selimut yang tersedia di kursi kerjanya, karena wanita itu sering kedinginan saat bekerja.

"Nggak usah, nggak papa, Tan. Gue nggak gampang kedinginan kok."

"Iya sih, Arin mah emang nggak gampang kedinginan, Tan! Soalnya hari-harinya udah hangat sama Adam," goda Wulan.

Wulan memang dari dulu selalu senang menggoda Arin dan Adam, yang sejak mereka sahabatan sering gemas sendiri dengan pertanyaan 'kenapa Arin nggak pacaran sama Adam aja?', setelah tahu keduanya berpacaran seperti ketua shipper yang melihat kapalnya berlayar dan senang menggoda Arin.

Sayangnya, Wulan tidak tahu bahwa hubungan itu telah kandas.

Dan ucapan Wulan yang menyebut nama Adam, justru malah membuat dada Arin kembali sesak, hingga suara tangisnya yang sejak tadi sudah ditahan akhirnya pecah.

Arin menjatuhkan wajahnya pada kedua telapak tangannya, berusaha untuk meredam tangisnya, tapi rasa sesak di dadanya yang tak tertahankan justru malah membuat suara tangisnya semakin kejar.

Arin tidak bisa membayangkan bagaimana caranya melalui hari tanpa Adam. Arin tidak tahu bagaimana caranya bertahan hidup, jika tidak bersama Adam.

"Gue ... putus ... sama Adam." Tenggorokan Arin terasa keras, saat harus mengucapkan kalimat tersebut, demi menjawab kebingungan teman-temannya yang langsung menggeser kursi kerjanya ke dekat Arin karena khawatir.

"Rin, I'm so sorry." Wulan langsung menghambur ke pelukan Arin, tangannya mengusap lembut pundak Arin yang masih berguncang pelan.

Teman-teman kerjanya yang lain kini berhamburan untuk memeluk Arin.

Kabar Arin putus dari pacarnya, mungkin sudah menjadi hal biasa yang selama ini mereka dengar dari mulut Arin. Namun, mereka semua juga tahu, bagaimana hubungan Arin dengan Adam yang sudah bersahabat sejak lama.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 04 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang