Arin menceklis daftar yang ada di ponselnya, selagi ia memeriksa barang-barang yang sudah ada di bagasinya, untuk dibawa pulang ke Bandung.
Tak lama, Adam kembali membawakan beberapa barang yang tersisa untuk Arin bawa, lalu turut menyusunnya ke dalam bagasi yang tampak sudah penuh.
Box-box berukuran sedang sampai besar, paper dengan berbagai logo brand, hingga dua koper yang juga berisi oleh-oleh yang sudah Arin kumpulkan selama dua minggu terakhir ini.
"Banyak banget bawaan kamu, Rin. Kayak mau ngasih hadiah buat orang sekampung." tanya Adam seraya berkacak pinggang dan merenggangkan otot-otot punggungnya, setelah bolak-balik mengangkuti barang bawaan Arin untuk mudik.
"Iya nih, gaji aku bulan ini kayaknya minus banyak deh karena beli oleh-oleh sebanyak ini. Abis gimana dong, Dam! Ini keluarga besar sebesar-besarnya aku bakal kumpul semua, kalo yang dikasih cuma beberapa orang, pasti nanti pada iri-irian."
"Kebutuhan rumah dan bayar sewa bulan ini, full aku yang cover deh. Biar kamu tetep bisa makan fancy pas lunch."
Arin tertawa mendengar ucapan Adam.
"Ih, nggak usah lah, Dam! Gampang ini mah, nanti aku minta reimburse ke Kak Ilham, kan aku mudik demi acara dia."
"Ya jangan dong, Rin. Kak Ilham pasti udah banyak pengeluaran karena mau nikah."
"Hmm, kalo gitu, minta ke Kak Lutfi. Atau Kak Satya. Duh gampang lah, sumber uangku banyak kok. Belum lagi nanti aku akan ketemu sama bank pusat, Dam!"
"Hah? Bank pusat?"
"Papa aku." Arin nyengir saat menyebut perumpamaan bank pusat untuk sosok ayahnya.
Adam berdecak pelan mendengar ucapan Arin.
Papa Arin merupakan purnawirawan TNI, yang kini menjabat sebagai komisaris salah satu BUMN yang memiliki kawasan regional di Bandung. Tidak salah Arin menyebutnya sebagai Bank Pusat, sebab di masa tuanya Papa saja tetap memiliki penghasilan yang lebih besar dibanding anak-anaknya.
"Nggak papa, sekali-kali aku full cover kebutuhan rumah. Tabungan aku masih banyak kok."
Arin berpikir sebentar, lalu berkata, "Oke. Uang sewa aja deh, kamu yang bayar. Listrik, air, internet, dan lain-lain biar aku, ya? Deal!"
Arin langsung melenggang untuk masuk ke dalam mobil, agar Adam tidak dapat memprotes lagi.
Adam menutup bagasi mobil Arin, lalu mengikuti Arin untuk masuk ke kursi pengemudi dan bersiap melakukan perjalanan ke Bandung.
Hari sudah mulai gelap, saat mobil yang mereka tumpangi memulai perjalanan ke luar kota. Jarak tempuh ke Bandung memang tidak terlalu jauh, dibandingkan kota-kota lainnya yang ada di Pulau Jawa.
Namun, perjalanan mereka dimulai setelah jam pulang kerja, yang mana jalanan masih dalam kondisi macet-macetnya.
Suasana di dalam tol menuju Bandung juga tampak begitu padat menjelang akhir pekan. Para pengemudi dan penumpang terjebak dalam kemacetan yang memperlambat perjalanan. Mobil-mobil saling berdesakan, sementara suara klakson dan suara hiruk-pikuk lalu lintas mengisi udara.
"Kenapa sih, orang Jakarta hobi banget liburan ke Bandung. Kayaknya tiap menjelang weekend, tol ke Bandung pasti rame," keluh Arin, saat mobil yang dikendarai Adam berjalan lambat. Kepalanya bersandar di bahu Adam, sambil menggelayuti sebelah lengan Adam.
"Karena deket dan murah sih, cocok buat liburan keluarga."
"Kalo nggak bawa bawaan segitu banyak, kayaknya aku lebih milih naik kereta aja deh. Bisa naik yang luxury class, duh nyaman banget itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendhome
RomanceArin gak suka tinggal di apartemen, gara-gara kartu aksesnya sering hilang dan harus bayar denda setiap kali membuat laporan untuk pergantian kartu. Arin juga gak suka tinggal di kos-kosan. Sempit dan sumpek. Sebesar-besarnya kamar kos, tetap aja c...
